Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 63


__ADS_3

Setelah mengantar Khabeer dan Adeeba pulang, aku memohon pada mereka agar aku bisa melihat Noorah, meski dari jarak jauh.


"Kamu tak mau kan sampai Noorah di marahi lagi oleh istrimu itu, Ro'uf?" tekan Adeeba yang tengah duduk di belakang. Sementara aku duduk di depan berdampingan dengan suaminya, Khabeer.


"Aku janji, tak akan menemuinya, hanya melihat saja"


"Apa aku bisa memegang kata-kataku, hum?" tanya Adeeba.


"Tentu, aku janji!" ucapku sungguh-sungguh.


Akhirnya Adeeba meng-iya-kan.


"Awas saja kalau sampai Laila tahu. Dia pasti akan memakanmu dan Noorah hidup-hidup. Tunggulah di taman, aku akan suruh Noorah keluar"


"Ayolah, aku tidak takut dengan Laila, hanya saja aku tak tahan bila tak melihat Noorah, itu saja kak, terima kasih"


"Dasar, kamu sudah tersihir oleh pelayan itu" Khabeer dan aku sama-sama tersenyum.


Adeeba dan suaminya turun dari mobilku, dan aku segera melajukan kendaraanku di tempat yang agak jauh dari taman.


Tak lama menunggu, akhirnya nampak seorang wanita lengkap dengan abaya dan stroller berjalan ke arah taman. Dia, Noorah...!


Meski dia dibalut dengan abaya yang panjang dan menutupi seluruh badannya, namun aku yakin tak salah lihat.


Dia duduk di sana dan aku hanya mampu memperhatikannya dari sini, di dalam mobil, itu pun dengan sembunyi-sembunyi.


Noorah, sepertinya kamu baik-baik saja. Ceria, dan kelihatan bahagia, apalagi sesekali seperti mengajak ngobrol Oomar yang ada di stroller, walau sepertinya bayi kecil itu tengah tertidur. Konyol memang. Dan lihat, saat kamu berusaha menelpon seseorang, namun bukan aku yang kamu maksud. Siapa orang beruntung mendapat panggilan darimu itu, hum?


Apakah ia suamimu? ibumu, atau keluargamu? entahlah.


Kulihat kesal di wajahmu, lalu kamu membuka cadarmu, setelah sebelumnya melirik kanan dan kiri seolah tak ingin ada yang mengintip. Apa yang hendak kamu lakukan? Ow, rupanya kamu berkaca, dengan layar ponsel. Dan terlihat memencet beberapa jerawat yang mulai ramai tumbuh di wajahmu. Kasihan sekali kamu Noorah.

__ADS_1


Rasanya bahagia sekali, saat berjumpa dengan orang yang kusayang, meski dia tak tahu aku disini tengah memperhatikannya.


****


Setelah sekian bulan, aku masih menemui Noorah dengan sembunyi-semhunyi tanpa membuat dia tahu, saat ia tengah berbelanja, bepergian dengan Adeeba ke ATM atau bahkan saat ia pergi ke klinik kecantikan. Aku selalu mengikutinya. Agar dia aman dan agar rindu terobati.


Namun bagaimana aku mencoba menahan rindu yang makin lama makin menggebu. Saat aku tak bisa meraihnya dalam dekapanku? aku pun tak tahu kenapa hingga saat ini hanya dia yang bertahta di dalam hatiku. Meski dia tak mungkin kumiliki, namun entah kenapa selalu bayang dirinya yang hadir setiap saat.


****


"Datanglah ke rumah sakit, Laila sudah melahirkan dan aku akan membuat surprise untuknya, yang takkan pernah dia banyangkan sebelumnya" ucapku pada Adeeba di telepon.


"Apa maksudmu?" Terdengar suara Adeeba di sebrang.


"Kau akan tahu nanti. Babah dan ummi juga akan hadir"


."Baiklah..."


****


'Ok!' balasku singkat.


"Ahmed, ayo kita pergi sekarang" aku beranjak bangun dari kursi duduk.


"Ada apak kawan, urusan kita belum selesai" Ahmed yang tengah duduk berhadapan denganku di ruangannya nampak heran.


"Sudahlah, ayo pergi" tak sabar rasanya ingin melihat Noorah. Maka kupecepat langkahku menuju lantai satu. Benar saja, dia tengah berjalan di tangga. Turun. Dan apa yang kurasakan, adalah hati yang kian berdebar. Tanpa jarak aku bisa menatapnya dari sini, tepat di hadapannya. Ia pun kulihat begitu senang, terlihat dari raut mata dan wajahnya meski tertutup cadar.


*****


Beberapa bulan kemudian.

__ADS_1


'Aku akan membuat perhitungan dengan Noorah, jika kamu masih menemuinya. Aku akan membuat Noorah celaka!' satu pesan dari Laila, beberapa waktu yang lalu. Wanita yang telah ku talak itu masih saja mencoba berbuat ulah. Entahlah, sepertinya dia sakit hati telah aku tinggalkan. Makanya imbasnya adalah ancaman dan juga teror lewat kata-kata di ponsel.


'Aku tak takut padamu' balasku


'Kau akan menyesal!'


'Kita lihat saja nanti' kulempar ponsel ke atas meja, Lalu meraih kopi Arabika yang sudah mulai dingin dingin. Pusing rasanya berurusan dengan orang yang terus-terusan mengejar, seolah-olah dia tak pernah puas hingga apa yang diinginkannya tercapai.


"Tuan!" seseorang berdiri tepat di depanku.


"Ya?" aku mengerutkan kening. Berusaha mengingat wanita yang tengah berdiri di depanku ini. Namun nihil, aku sama sekali tak mengingatnya.


"Anda ingat saya, tuan?" aku menggeleng lemah. Bahkan saat ia melepas cadarnya dan mulai bersuara lagi "saya Surmi temannya nur"


"Oh, ia. Maaf saya lupa" akhirnya setelah mendengar nama itu, aku jadi ingat pernah bertemu dengannya.


"Tuan, ada yang ingin saya bicarakan tentang Nur, itu juga kalau tuan masih suka pada dia" ucapnya.


"Apa itu, katakan" tak sabar rasanya dengan apa yang akan wanita di depanku katakan.


"Apakah anda masih suka dengan Nur, tuan?"


tanyanya seolah memastikan


"Ya tentu saja" jawabku pasti.


"Bagus, tuan. Dengar ya tuan..."


"Ya Surmi... apa yang kamu lakukan dengan seorang pria sing itu, hah" seorang pria bertubuh bear tiba-tiba dada di samping Sumi. Membuat ucapan wanita tersebut terhenti.


"Maaf, tuan. Lain kali saya bicara lagi. Temui saya di kediaman majikan saya ya tuan. Permisi!" Surmi pergi bersama pria itu. Membuatku penasaran dengan ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2