Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 49


__ADS_3

Tergesa aku menuju kamar dimana Noorah tidur.


"Ya Noorah... apakah kamu sudah tidur?" tak ada jawaban dari dalam. Sunyi. Bahkan kamu kamar terlihat padam.


Ku ketuk perlahan, kuoegang gagang pintu berharap segera terbuka, namun yang ada malah di kunci dari dalam. Sempat kecewa, karena untuk yang kesekian kali pintu ku ketuk tak mendapat respon dari dalam. Dalam gelisah dan rasa yang sesak dalam dada aku kembali ke kamar. Sebuah ponsel menyala. Tanpa Sura, mode diam.


'Ada apa, tuan memanggil saya?'' satu pesan dari noorah membuatku hampir saja melompat kegirangan. Bahagia rasanya. Segera ku balas pesannya.


'*Aku rindu ya Noorah..'


'Maaf tuan, ini sudah malam'


'Aku hanya butuh tempat curhat. Jujur saat ini aku sangat bingung'


'Apa yang bisa kulakukan, tuan*?' tanyanya dari sebrang. Kenapa aku bahagia dengan pertanyaan yang sederhana itu. Entahlah. Sejenak aku berpikir. Kemudian sebuah ide muncul.

__ADS_1


'Temui aku di balkon kamar, tepat pukul sebelas, malam ini' ah, entah permintaan bodoh apa yang telah ku tulis. Dia tentu saja takkan datang semudah itu. Walau jujur aku hanya ingin melihatnya saat ini, lagi, seperti tadi. Berkali-kali aku merutuki diri dan otakku. Yang tak sejalan.


Lama tidak ada balasan dari Noorah. Sepertinya ia menolak. Aku sudah meyakini itu. Ku lempar sembarang ponsel ke atas tempat tidur, lalu memasuki kamar mandi. Sepertinya mandi akan membuat kepalaku lebih dingin.


Keluar kamar mandi dengan hanya mnggunakan handuk, aku berjalan gontai ke arah pintu lemari di samping tempat tidur.


Ku lirik ponsel sekilas, terlihat lampu hijau berkedip pertanda ada pesan yang masuk.


Kuraih segera dan sekali lagi aku dibuatnya bahagia dengan tulisannya.


'ia, baiklah' hanya pesan singkat namun membuatku bahagia.


Segera ku pakai baju terbaik. Lalu menyemprotkan farpum di sekitar leher dan tangan. Tak ingin membuat wanita yang singgah di hatiku itu kecewa. Waktu seakan melambat, terasa lama, hanya beberapa menit berlalu dari waktu aku berganti baju.


Sambil menunggunya dengan gelisah, bolak-balik seperti seorang ABG yang menunggu kekasih pujaannya datang aku memutar musik melow dari disk untuk menenangkan suasana hati yang mulai menghangat.

__ADS_1


*****


"Kirim aku uang, Nur. Aku butuh uang untuk membangun rumah. Untuk membayar sisa-sisa hutangmu" suara A Asep terdengar lagi. Untuk ketiga kalinya ia menelpon malam ini. Masih alasan yang sama.


Dan berkali juga aku kembali bertanya padanya.


"Bukankah seminggu yang lalu majikan ku telah mentransfer uang gajiku selama lima bulan pada Aa? lalu Aa kemanakan uang itu, hah?" terisak. Bukannya menanyakan kabarku disini tapi yang ada di pikirannya hanya uang uang dan uang.


Tak bicara. Yang keluar dari mulutnya hanya minta dan minta. Uang telah membutakan mata hati A Asep.


"Sudahlah aku capek. Kalau kamu tak mengirim uang, aku akan ceraikan kamu saat ini juga, Nur!" astagfirullah... bagai sebilah pisau yang menembus tepat jantungku. perkataan suamiku itu membuatku luruh ke lantai. Cerai, meski diucapkan tanpa sengaja, namun ketika suami sudah mengucapkannya. maka jatuhlah talak satu.


Air mata tumpah tak terbendung. Segampang itu seorang suami mengucap kata talak. Tanpa merasa bersalah. Tidakkah ia tahu, berjuang di negri orang bukan hal yang mudah. Banyak sekali ujian dan cobaan yang berat, belum lagi tenaga yang terkuras seharian hanya untuk melayani segala macam perintah majikan.


'Keterlaluan kamu, A..."

__ADS_1


****


note : yang suka sama Noorah dan Abdul Ro'uf saya mohon jangan lupa vote ya man teman.. biar aku semangat nulisnya,😍


__ADS_2