
Setelah bertemu dengan Surmi, aku segera memasuki lift menuju ke apartment yang Noorah tempati.
Tak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan orang yang telah mencuri hatiku selama ini.
Begitu pintu terbuka, Noorah tengah berdiri di sana. Tanpa basa-basi aku langsung memeluknya. Erat.
'Noorah...' hatiku dipenuhi dengan kebahagiaan, mendengar statusnya kini yang sudah lepas dari bayang-bayang pernikahannya yang dulu. Akhirnya penghalang itu sirna. kesempatan itu datang, kesempatan yang selalu aku ragukan. Namun kini seakan semua akan segera jadi kenyataan
"Tu-tuan ...!" gumamnya pelan.
"Aku tahu semua Noor, aku tahu..." bisikku, tanpa melepaskan pelukan di tubuh rampingnya.
"Tuan, saya tak bisa bernafas..." suara Noorah hampir tercekat. Aku melepaskan tubuhnya, saat ia terbatuk-batuk Katan terlalu erat aku peluk.
"Maaf ,Noorah. aku terlalu bersemangat"
Ehm,!! aku menoleh ke belakang. Ternyata Ummi Babah dan keluarga yang lain tengah berdiri memandang kami, dengan tatapan yang heran sepertinya.
"Memalukan!" Babah nampak geram. Matanya melotot menahan amarah. Sementara Noorah meringis, menahan sesak di dadanya.
"Maaf, Babah. Aku tak tahu kalau kalian ..."
"Sudahlah, kami hendak pergi. Lanjutkan saja kisahmu itu nanti setelah semuanya jelas" Babah berlalu diiringi yang lain, ummi, Adeeba, Khabeer dan beberapa saudara yang lain pun mengikutinya.
"Noorah, kamu tak apa-apa?" aku mencoba memegang kedua tangannya, namun segera ia tepis.
__ADS_1
"Saya hampir mati, tuan" jawabnya dengan nada kesal.
"Maaf, Noor. Aku terlalu bahagia saat tahu kamu telah resmi berpisah dengan suamimu" aku tersenyum menatap manik matanya yang bergerak-gerak seolah bertanya, dari mana aku tahu kisahnya.
"Kenapa kamu diam, Noorah? kenapa kamu menyembunyikannya dariku, hum?"
"Maaf, tuan. Saya harus pergi" ujarnya sambil mengambil beberapa tas yang teronggok di dekat pintu keluar.
"Kemana, Noorah?" aku mencoba meraih tangannya, namun ia mengacuhkanku seraya berlalu pergi.
"Safar"
*****
Perjalanan yang panjang membutuhkan beberapa jam waktu yang ditempuh. Selama itu pula Noorah yang ada di sebelahku nampak diam tak bicara. Bahkan sekedar tersenyum pun tidak. Membuatku serba salah.
"Ya Noorah," untuk kesekian kalinya aku menyapanya.
Meski tak juga ia merespon. Wajahnya menghadap jendela samping seperti tengah menikmati suasana pegunungan yang hijau. Atau tengah menyembuhkan sesuatu, entahlah.
Ia menoleh, beberapa saat kemudian, itu pun saat tangannya ku pegang paksa dengan erat, ia seolah menolak dan marah.
"Lepas!" ia menatap tajam.
"Noorah, kita harus bicara, ayolah ku mohon" aku menghiba memintanya agar mau mengerti. Namun usahaku nyatanya sia-sia. Dia malah semakin murka. Garis kemarahan terlihat di mukanya.
__ADS_1
"Lepaskan, tuan. Atau saya akan teriak" matanya mulai berkaca-kaca. Membuat hatiku remuk seketika.
Ada yang sakit. Saat orang yang kita cintai malah menolak tanpa kejelasan.
"Kenapa, Noorah? katakan ada apa?"
"Anda akan tahu nanti" ucapnya sambil berpaling muka. Setelah itu tak ada lagi obrolan yang keluar dari mulutnya.
****
Akhirnya rombongan tiba di kediaman paman Gofar, adik dari ummi yang ke delapan bersaudara.
baru saja melangkahkan kaki ke halaman rumah. Kulihat Noorah kembali menaiki kendaraan yang tadi kami tumpangi.
"Ya, Noorah! mau kemana kamu?" tanyaku heran.
"Masuklah, jika anda hendak ikut. Kalau pun tidak ya tak masalah"
"Baiklah, Noorah"
Setelah beberapa menit, kami sampai di sebuah taman kecil yang di tumbuhi banyak pohon kurma.
,,Kenapa kita ke tempat ini, Noorah?" tanyaku saat ia tengah berjalan menuju ke salah satu tempat duduk.
Di tempat dan ni pula banyak sekali kulihat ratusan wanita dan pria bercampur.
__ADS_1
"Ya Noorah. Apa kamu hendak mesum?" tanyaku heran, dengan ornag-orang yang terlihat akrab meski berbeda jenis kelamin. Mereka bercengkrama sambil saling tertawa dan bercanda. Aneh.
"Apa, anda tak tahu apa-apa, jadi diam saja.