Jadi TKW

Jadi TKW
Bagian 23


__ADS_3

Akhirnya setelah beberapa puluh menit, kami sampai ke tempat yang di tuju. Abdul Ro'uf mengajaku turun, setelah memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.


"Ayo, Ya Noorah" ia hendak menggenggam tanganku. Namun segera aku tepis. Aku melotot tepat ke arahnya. Tak sopan!


"Maap.."


"Tempat apa ini?" aku mengedarkan pandangan menatap takjub, seumur hidup aku belum pernah ke tempat seluas dan semegah ini. Ia tersenyum dan mengabaikan pertanyaan ku, kembali berjalan di depanku. Langkahnya terlalu cepat, khas seorang laki-laki. Lalu aku yang menggendong Oomar yang masih tertidur membuatku sangat kerepotan. Apalagi tempat ini sangat luas sekali.


Baru beberapa puluh meter saja, aku sudah kepayahan. Keringat mengalir dari pelipis dan badanku. Apalagi dengan cadar yang ku kenakan. Aku mewalahan. Dan hampir menyerah. Aku diam tak melanjutkan langkah. Berusaha agar Oomar kecil tak lepas dari gendongan. Biarkan saja Abdul Ro'uf berjalan sendiri.


"Ya Noorah!" Abdul Ro'uf berseru. Namun aku tak peduli. Ia berbalik kembali ke tempatku berdiri.


"Kenapa kamu berhenti? apa kamu tidak takut hilang" aku menunduk, takut sih sebenarnya.


"Kenapa kamu diam saja?" ia mengambil alih Oomar dari tanganku dan menggendongnya. Huh..! lega rasanya.


"Aku capek" lalu memasang raut muka sedih.


Abdul Ro'uf tersenyum dan melangkah. Sementara aku mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


"Kenapa tak bilang kalau kamu capek"


"Kamu tidak bertanya"


"Tempat ini namanya The Jouri mall, kamu tahu, ini mall terbesar di kota Thaif" Abdul Ro'uf menjelaskan dengan seksama. Termasuk apa-apa saja isi tempat dan toko-toko yang terkenal seluruh dunia, ada di tempat ini. Aku hanya mengangguk sambil melihat-lihat pemandangan. Bukan hanya orang arab, pengunjung datang dari berbagai pelosok negara asing. Sungguh menakjubkan.


Setelah lelah berjalan-jalan, Abdul Ro'uf mengajakku ke food court. Menu makanan dari seluruh dunia ada disini. Meski belum kulihat menu dari tanah air.


Sambil menunggu waktu berbuka puasa aku sempat melihat-lihat menu apa yang hendak aku makan. Dan pilihanku jatuh pada makanan khas Malaysia, nasi lemak lengkap dengan beberapa lauk pendamping.


Sementara Abdul Ro'uf memilih makan bistik.


"Kenapa anda melihatku terus?"


"Kamu cantik tanpa cadar?"


"Iya tentu saja, aku khan wanita. Lagi pula aku tak bisa makan dengan menggunakan cadar" jawabku sekenanya.


Ia melanjutkan makan sambil tersenyum dan sesekali melirik, sangat aneh.

__ADS_1


"Setelah ini kita mau kemana, tuan?"


"Hm... bagaimana kalau kita mampir ke Otoq Al Raha?" katnha selingi dengan senyuman.


"Tempat apa itu?" tanyaku penasaran.


"Itu.. hotel dan apartment"


"Apa... apakah anda sudah tidak waras?"


"Tentu saja tidak, ya Noorah. Aku hanya bercanda" ia tertawa-tawa melihatku hampir saja memukulnya dengan tas gendong yang ku genggam.


"Ayo kita beli handphone dulu" ajaknya sesaat kemudian masuk ke sebuah toko electronik, disana terdapat merk handphone dan juga laptop dari berbagai negara. Abdul Ro'uf menyuruhku memilih salah satu handphone. Dan pilihanku jatuh pada handphone merk samsul berwarna gold yang bisa di lipat ( Nur saat itu kerja di tahun 2010 an saat itu belum ada smartphone seperti sekarang).


"Kamu pilih itu?"


"Ia warnanya bagus"


."Baiklah, kalau itu maumu"

__ADS_1


__ADS_2