
Noorah tengah tertidur. Maka aku putuskan untuk pergi be Balaqah (kedai) Indonesia. Kuputuskan untuk mebeli beberapa makanan khas negaranya. Karna kulihat sepertinya dia kurang menikmati makanan yang kuberikan.
Di Balaqah(Kedai) Indonesia tersedia berbagai macam makanan dan semua kebutuhan yang ada hubungannya dengan negara asal Noorah. Entah sebenarnya yang aku cari. Namun saat kulihat orang-orang mengambil bahan makanan dan juga Snack dan camilan maka aku pun ikut membelinya juga. Ya kuharap Noorah suka, meski aku asal ambil saja. Yang penting niatku tulus.
Tak lupa aku memebeli madu dan obat herbal agar kesehatan Noorah segera pulih.
Satu jam lebih aku berkeliling sampai akhirnya aku memutuskan untuk kembali pulang.
Saat di kasir, ada seseorang yang menepuk bahuku.
"Abdul Ro'uf," aku menoleh, merasa tak asing dengan suara yang aku dengar.
"Laila, kamu disini?" aku bertanya heran melihat dia tengah membeli beberapa mie dalam tangannya.
"Ya, aku sedang membeli mie, anakku ngidam ini sepertinya" ucapnya sambil.mengelus perutnya yang mulai beranjak besar.
cih, kenapa dia bangga dengan keadaanya
yang hamil tanpa ayah itu, bukankah dia seharusnya malu dan mengurung diri di rumah.
__ADS_1
"Kamu membeli makanan banyak sekali, Ro'uf. Untuk siapa itu?" tanyanya heran sambil melirik ke dalam keranjang belanjaku.
"Bukan urusanmu" jawabku segera, tepat saat yang sama kasir menyuruh maju, segera ku berikan keranjang pada kasir dan membayarnya.
Di parkiran kulihat Laila masih berdiri, sepertinya sengaja agar aku berhenti dan manggilnya. Dan benar saja, saat mobilku berada tepat di depannya dia melangkah maju dan dengan segera mengetuk ointu kaca samping.
"Ro'uf, aku mau kita bicara" teriaknya saat kubuka separuh kaca mobil.
"Aku tak.mau bicara denganmu, pergilah" usirku ya memang aku sangat malas berurusan dengannya saat ini.
"Aku mohon Ro'uf. Ini tentang masa depan kita, kumohon" ia mencoba menghiba. Namun aku tak akan terpengaruh olehnya.
"Pulanglah, dan berdiamlah di rumah sampai kamu melahirkan"
'aku tahu apa yang kuperbuat, dan tak mungkin aku mengakui bayi yang bukan darah dagingku'
Pintu sedikit terbuka ketika aku hendak membukanya. Terdengar seeorti suara kekacauan.
Siapa yang ada di dalam? Pikiranku segera tertuju pada Noorah. Ya tuhan, apa yang tejadi?. Kenapa perasaanku jadi tidak enak?
__ADS_1
Pintu kamar terbuka, ada Noorah yang tengah merintih kesakitan, ia tertidur di bawah dengan kondisi yang sangat menghawatirkan.
Di samping nya ada seorang wanita dengan abaya dan niqab berwarna hitam, sama seperti Noorah. Apakah dia orang jahat? Namun kenapa dia malah menangis sambil mencoba membangunkan Noorah. Dengan bahasa yang tidak kumengerti.
"Dia pingsan, tuan.." wanita itu ternyata fasih berbahasa Arab juga.
"Noorah, Noorah!" ku tepuk wajahnya perlahan berharap dia segera siuman.
"Apa yang terjadi?" tanyaku khawatir.
"Tadi dia menelpon saya, dan meminta saya agar datang ke kemarnya. makanya saya buru-buru kemari. Tak disangka setelah dia membuka pintu dan mengajak saya ke kamar dia pingsan begitu saja"
"Apa hanya itu?" aku kembali bertanya. Takut sesuatu terjadi sebelum kedatangan wanita ini.
"Tidak ada. Hanya saja tadi saat di telepon dia mengatakan bahwa kepalanya sakit luar biasa"
"Baiklah, saya akan membawanya ke rumah sakit" seraya ku gendong tubuhnya menuju ke luar.
"Tapi maaf, tuan. saya tidak bisa ikut. Saya harus menjaga rumah majikan saya"
__ADS_1
"Baiklah, tapi tolong siap kan baju dan yang lainnya, setelah itu tolong kunci pintunya"
"Baik, tuan"