
"Sayang... bangun! Jangan membuatku takut begini, ayo!"
Iwan terburu-buru menyeruak masuk kedalam halaman rumah, tidak menghiraukan sedangkan Bu Lestari mengikuti dari belakang dengan rasa hati yang was-was.
"Hei siapa kamu! Lepaskan adikku!" Lantang suara Iwan menghardik laki-laki tinggi besar dengan usia yang jelas diatas Iwan jauh, dengan penampilan macho layaknya papa gulali di Sinetron-sinetron TV swasta kesukaan Bu Lestari.
"Ini pasti mas Iwan ya? dan ibu Lestari? Kenalkan saya kekasihnya Yessi, dia mengeluh lemas dan mual mungkin dia sedang hamil anak kami," jawab laki-laki paruh baya itu yang ternyata Om Ricky.
"Eh ngomong yang bener, mana ada aki-aki sudah renta begini calon suami yessi, yang bener saja! Turunkan dia biar kami saja yang membawa dia ke rumah sakit!" Semprot Bu Lestari pedes kepada Om Ricky, namun dasar om Ricky yang sudah menduga semua pasti akan terjadi, hanya diam saja dan terus membetulkan letak duduk Yessi yang sudah mulai siuman dari pingsannya.
"Ibu... Mas Iwan maafkan Yessi Om Ricky akan bertanggung jawab, dan dia berjanji akan menikahi Yessi,"
"Hah....!" Serempak suara Iwan dengan Bu Lestari seperti paduan suara dibawah terik matahari.
"Kalau ibu mau mendampingi Yessi silahkan Bu! Kita berangkat bersama-sama,!
"Yessi...turun kamu atau kuhajar kamu!" Tangan Iwan menarik lengan Yessi dan hampir saja membaut yessi terjerembab jatuh dari mobil om Ricky.
"Hei... Kami tidak boleh kasar begitu dengan wanita, dia adikmu sendiri loh, dan dia sedang mengandung anakku!" Om Ricky rupanya tidak terima dengan perlakuan Iwan pada Yessi.
"Diam kamu! Dan pergi kamu dari sini jangan datang lagi kesini atau...!"
Bugh...bugh... Pukulan dengan tangan Iwan yang mengepal tepat mengenai wajah om Ricky.
Darah segar keluar dari kedua lubang hidung laki-laki paruh baya itu.
"Ingat! Ini belum seberapa ya...! Pergi!"
Om Ricky rupanya tidak terima dengan perlakuan Iwan yang terlalu arogan menurut dirinya, dia lantas turun dari mobil dan membalas pukulan dari Iwan.
Pukulan Om Ricky tepat mengenai ulu hati Iwan lantas satu pukulan lending dengan selamat menuju wajah Iwan, dua laki-laki yang terpaut jauh dengan usia mereka saling baku hantam, dan saling mempertahankan rasa dan keinginan masing-masing.
sedangkan dua wanita ibu dan anak saling menjerit ketakutan tanpa bisa melerai perkelahian itu, hingga...!
__ADS_1
"Papa...hentikan!" Suara teriakan dari satu arah dan tidak lama beberapa tetangga saling berdatangan menyaksikan apa yang telah terjadi.
Adu jotos berhenti, kedua laki-laki itu mengarahkan pandangan pada suara teriakan itu, dua sosok wanita beda usia menghampiri Iwan dan om Ricky, "Oh... Begini ya rupanya kelakuan bandot tua! Kurang apa aku sama kamu pa! Hah...?"
Perempuan dengan dandanan super glamor dengan perhiasan yang melilit tubuhnya, bak etalase berjalan, berkacak pinggang sambil mengacungkan jari telunjuknya mengarah ke Om Ricky.
"Hei... Bawa pergi bandot tua itu dari sini! Usia sudah uzur, nggak ingat usia masih juga bercinta dengan gadis yang lebih pantas untuk menjadi anaknya," Bu Lestari jiga tidak kalah gencarnya berteriak sambil berkacak pinggang.
Semua tetangga pada berbisik menonton live sinetron di jalan Flamboyan nomor 13, dengan penghuni paling galak se-komplek perumahan elite di tengah kota ini.
"Hei wanita tua renta! Dia suamiku, dan semua tidak akan pernah terjadi kalau tidak ada rayuan dari gadis sun-del yang gatel nggak jelas itu, apa matanya sudah rabun atau dia memang sudah tidak laku lagi sehingga gelap mata main embat laki orang," tentu saja wanita yang ternyata istri om Ricky semakin geram ketika Bu Lestari menimpali ucapannya.
Istri om Ricky berjalan mendekati Yessi, lalu....
Plak...plak....
*Auch sakit tau!" Yessi semakin menundukkan kepalanya, antara sakit dan malu kepada beberapa pasang mata yang sudah melihatnya.
"Hentikan! Bawa suami anda keluar dari pekarangan rumah saya, atau kita akan selesaikan masalah ini keranah hukum, dan kamu tua bangka! Kamu harus bertanggung jawab dengan semua perbuatan mu!"
Semua tetangga satu persatu meninggalkan area yang baru saja di gunakan adu jotos.
Sementara om Ricky mau tidak mau harus mengikuti sang istri dan anak perempuannya.
"Hei Yessi, ingat kamu berurusan denganku!" Gadis yang seumuran Yessi mengancam dengan sorotan tajam matanya mengarah pada Yessi lalu Bu Lestari.
"Maaf Dona, aku khilaf," dari sekian kegaduhan akhirnya Yessi membuka suara juga, lalu pingsan dan menimpa tubuh Bu Lestari yang tidak siap untuk menopang tubuh Yessi yang lebih besar tentunya.
Dua mobil beriringan melaju pelan meninggalkan rumah yang selalu menjadi saksi seluruh penghuninya.
"Iwan... Tolong! ohhh... Beratnya tubuhmu yessi,"
Bukannya membantu Bu Lestari dengan tubuh yang timpa oleh Yessi, Iwan berjalan kedalam rumah.
__ADS_1
Sebentar kemudian ia kembali lagi dengan membawa satu ember plastik berisikan air dingin, lalu...
Byurrr....
Aahhkk.....
"Iwan! Apa yang kamu lakukan pada adik mu, dan pada ibu? Lihatlah! Semua jadi basah begini,"
"Mas ampun mas ... Yessi salah, ampun ibu?" Yessi bersujud di kaki Bu Lestari lalu Iwan yang sudah gelap mata.
"Kamu yang suka berteriak mengatakan Lintang selingkuh, wanita tidak benar, tapi kami sendiri perempuan murahan, puas kamu mempermalukan keluarga dengan cara seperti ini, huh?" Tangan Iwan yang terbilang kekar itu, sekuat tenaga menjambak rambut Yessi, hingga kepalanya mendongak dan mengaduh.
"Maaassss sakit mas.... Ampun mas!" Lolongan Yessi memelas, namun sedikitpun tidak melunturkan kemarahan Iwan yang sudah terlanjur kesetanan.
"Iwan.... hentikan andaikan kamu bunuh sekalipun, Yessi akan tetap mati di tanganmu tapi semua tidak akan menyelesaikan masalah," teriak Bu Lestari memenuhi ruangan.
"Puas Bu.... Puas kan? Ini semua juga keinginan ibu, hidup dengan kehormatan dan kemewahan, ha...ha...ha...!" Tawa Iwan pecah, dia benar-benar dipuncak kehancuran.
Adik perempuan satu-satunya yang selalu ia banggakan, ternyata sama halnya dengan sampah masyarakat memakai predikat pelakor.
Tangan Iwan perlahan melepaskan cengkeraman rambut Yessi, lalu berjalan sempoyongan dan menjatuhkan dirinya di sofa, mere mas sendiri kepalanya lalu tergugu meratapi kegagalan yang sudah terjadi dalam hidupnya.
Suara deru mobil berhenti di depan pekarangan rumahnya, lalu dua anggota dari kepolisian berjalan memasuki teras rumah besar itu, "selamat siang, apa betul ini rumah saudara Iwan Priambodo? Saya dari kepolisian membawa surat penangkapan atas pengaduan dari bapak Ahmad Dahlan tentang adanya dugaan percobaan penculikan," suara bariton yang berasal dari salah satu pria sambil memberikan secarik surat perintah penangkapan dari kepolisian atas dasar pengaduan ayahnya Lintang.
Bu Lestari dengan basah kuyup akibat air guyuran, berjalan pelan menghampiri kedua polisi tersebut, lalu membaca lembaran kertas yang polisi ulurkan padanya.
"Iwan....!" Kembali tangis Bu Lestari pecah, kali ini rasa sesak itu semakin menyakitkan hingga sendiri dia tumbang dan memegang dada sebelah kiri yang semakin nyeri.
"Baik Pak, mari! Saya terima surat penangkapan ini. Saya adalah Iwan Priambodo," Iwan bahkan berjalan mendahului kedua polisi dan menuju ke mobil.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
__ADS_1
Idih kena labrak emak beserta anak pula🤣, duh kompleks bener. dah lah... biar dosa mereka tanggung sendiri, kita lanjut aja ke menu selanjutnya 🤭
tetep stay, sehat selalu dan bahagia always, Salam Sayang Selalu by RR 😘