Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Laporan Berakhir Diskusi


__ADS_3

Akhirnya usaha dokter Dian membuahkan hasil, tidak berapa lama perjalanan mereka menuju kantor polisi akhirnya sampai juga.


Sedangkan Iwan yang sudah memenuhi panggilan dengan sarana penjemputan, terlebih dahulu sudah sampai di tempat,


"Selamat siang pak Ruslan, maaf kami datang sedikit terlambat," tangan Kapolsekta Ruslan mengulurkan tangan kepada dokter Dian, lalu disusul Pak Ahmad dan Bu Ahmad.


Dokter Dian pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Iwan, begitu juga Iwan tanpa komando dia terlebih dahulu menyongsong Bapak dan ibu Lintang untuk bersalaman.


"Loh kamu sudah disini rupanya? Puas hehh! Apa mau kamu? Masih juga kurang bahagia membuat hidup anak dan cucuku menderita saat bersamamu! Kini kamu buat trauma cucuku kembali, maumu apa?" Bu Ahmad yang dari tadi sudah geram saja, kini semakin meluapkan emosinya kepada Iwan setelah bertemu di kantor Polsek setempat.


Walaupun suaranya rendah, namun karena kondisi ruangan sangat sunyi tetap saja, ucapan yang mengandung kemarahan itu bisa terdengar oleh orang yang berada di ruangan itu, termasuk Iwan yang babak belur wajahnya karena yang tadinya sempat adu jotos dengan om Ricky.


"Ibu, yang tenang Bu! Kita dengar dulu penjelasannya jangan mudah tersulut emosi, Ndak bagus!" Pak Ahmad mengingatkan Bu Ahmad agar sedikit menjaga sikap.


Orang Tua Lintang duduk dalam satu kursi sofa panjang, Bu Ahmad terlihat mati-matian mereda kemarahannya.


Pak Ruslan selaku kepala kapolsekta "Selamat siang bapak-bapak, dan ibu! Saya adalah Ruslan kebetulan saat ini saya bertugas dan menerima segala aduan bapak Ahmad,"


"Mas Dian ini adalah sahabat dan teman seangkatan saya pak Bu Ahmad, pak Iwan! Mohon maaf sebelumnya pak Ahmad laporan bapak kemarin hanya mampu saya tampung saja terlebih dahulu, kalau bisa kita selesaikan secara kekeluargaan kenapa harus melalui jalur hukum?"


"Silahkan berdiskusi saja dahulu, mungkin masalah ini akan mendapatkan jalan keluar yang terbaik,"


Belum juga pak Ruslan membenarkan letak duduknya dengan benar, Iwan sudah terlebih dahulu berteriak dan melupakan etika sopan santun yang seharusnya ia jaga baik-baik.


"Maafkan saya ibu, ayah! Saya khilaf, tapi saya tidak rela bila Lintang dan anak saya meninggalkan saya dalam kondisi seperti ini, lalu akan hidup bersama dengan Dia!" Telunjuk tangannya mengarah kepada dokter Dian yang masih saja bersikap santai namun diluar dugaan jawaban dokter Dian sanggup membungkam mulut Iwan yang masih saja tidak bisa menerima kenyataan, dan menuduhnya sebagai selingkuhan Lintang pada waktu itu.

__ADS_1


"Maaf! Sampai dimana rasa curiga anda, saya tidak pernah merasa membawa luka terhadap diri dek Lintang, dan saya tidak akan pernah bercerita tentang sebuah kesalahan dan penderitaan yang luar biasa, ketika kehadiran pelita harapan itu, tidak mendapatkan tempat yang layak dari sang pengukir jiwa sucinya, boleh saya tau? Sampai dimana anda merasakan detik kehilangan itu, jauh sebelum kerinduan mulai anda rasakan?" Penuh kesabaran yang luar biasa dan dimiliki oleh seorang laki-laki seperti dokter Dian, dan selalu menjadi tempat Iwan menaruh rasa curiga pada dirinya.


"Atau hanya disaat harapan anda merasa hancur dan perlahan mulai terlihat akan musnah?"


"Perlu anda ketahui pak Iwan! Pertama saya salut dengan kekuatan yang ibu Lintang miliki dengan perjuangannya sendiri di tengah-tengah keluarga yang tidak mengharapkan, bisa jadi ini adalah garis hidup dan ketentuan dari yang Maha Kuasa, ternyata saya dengan Bu Lintang bertemu disaat dia terlepas dari cengkeraman itu, Jujur! Saya mencintai Bu Lintang. Maaf mungkin ucapan saya terlalu kasar, tapi saya juga bisa saja tidak terima dengan perlakuan anda beberapa hari lalu, namun saya masih bisa berfikir dengan kondisi yang sangat waras,"


Helaan nafas pak Ahmad terdengar begitu berat, sedangkan Bu Ahmad berusaha menghalau airmata yang menerobos keluar tanpa permisi.


Sedangkan Iwan tertunduk lesu, ingatannya kembali mengulang masa beberapa tahun lalu disaat asmara antara Iwan dengan Rahma hanya masih sebatas teman, dan terjadi skandal cinta segitiga dengan Daniel cinta pertama Rahma, kala itu.


"Iwan.... Semua sudah berlalu, dan terlambat! Mungkin ini jalan yang terbaik untuk kalian berdua, talak tiga yang kamu berikan itu sangat fatal, Iwan! Mungkin hati bisa kamu permainkan, namun pernikahan adalah sebuah ikatan yang sakral dan bukan permainan,"


"Tapi ayah, saya ingin rujuk dengan Lintang dan saya akan berjanji tidak akan menyia-nyiakan putri saya," Iwan bahkan hampir saja bersimpuh di lantai di hadapan pak Ahmad.


"Masih pantas kamu mengiba ingin rujuk? Coba saja kalau istrimu yang sekarang tidak sakit dan anakmu tidak dalam kondisi kritis, apakah keinginan untuk rujuk itu tetap ada?"


"Sebaiknya kamu pergi jauh-jauh dari dunia Lintang dan cucuku, anak tetaplah anak! Tidak ada dalam dunia tercantum mantan anak, nanti bila Shasy sudah dewasa ada masanya sendiri untuk mengetahui dan mencari dimana kamu,"


"Maaf pak Ruslan semua kasus ini saya serahkan pada anda, saya hanya menginginkan kedamaian dalam kehidupan anak cucu saya! Kalau kasus ini layak proses silahkan pak! Tapi bila tidak layak, kiranya beri dia sanksi untuk kejadian yang mungkin saja bisa terulang,"


Pak Ruslan mendekati Iwan yang belum juga bergeming dari lantai, "Silahkan berdiri pak Iwan, kita selesaikan baik-baik?"


"Saya mohon atas kejadian yang menimpa keluarga bapak bisa menjadikan cermin kehidupan yang lebih tinggi norma dan bagaimana kita menghargai pasangan dan menjaga lisan kita, walaupun itu hanya sebuah kata khilaf,"


Laporan dengan tuduhan rencana penculikan, kini berubah diskusi secara kekeluargaan.

__ADS_1


Iwan yang semula gelap mata dengan berbagai tuduhan kepada dokter Dian, kini hanya mampu tertunduk lesu walaupun secara kurang ikhlas akhirnya mereka berdua berjabat tangan. Dengan janji Iwan yang tidak akan terulang kembali seperti kejadian semula.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


POV Yessi dengan Bu Lestari


"ya ampun... Iwan... ada apa ini?"


"hei pak polisi mana bisa kalian membawa putraku begitu saja, Iwan... kembali!" teriak Bu Lestari memenuhi ruangan.


"Ibu... ini semua salahku, maafkan Yessi ibu!" tangis Yessi kembali pecah, tidak mengira semua akan berubah menjadi serumit ini.


"ini semua gara-gara mbak Lintang, aku akan kerumahnya dan akan mengiming-imingi sejumlah uang, pasti dia akan luluh juga, hemm tenang Bu! kita lanjut besok," bujuk Yessi sambil membawa Bu Lestari yang terisak sendu.


"kamu uang dari mana? Rahma dan anak pembawa sial itu tentu membutuhkan biaya tidak sedikit, sedangkan mas mu jelas tidak seberapa memiliki harta sebab selama ini Rahma yang membawa kendali keuangan,"


"aahh... ibu santai saja, jangan lupa Yessi gadis cerdik loh, hemm."


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉


Halaahh.... Halah... rencana apalagi coba, ish 🤧 wes pokok e lanjut terus Mak 🤣 sampe klenger🤣🤣


Salam Sayang Selalu Sehat Always dan Sejahtera by RR 😘

__ADS_1


__ADS_2