Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Undangan Calon Nenek


__ADS_3

Ibuku senyum senyum sendiri setelah menerima video call dari Ratih, walaupun jarang pulang dalam beberapa bulan ini, namun Ratih selalu melakukan interaksi rutin melalui video call.


Dengan cara begitu kami mampu mengobati kerinduan dan bisa bertukar cerita.


"Aaahhh... Ibu sepertinya sedang menang lotre nih! Dari tadi senyum-senyum terus," usik ayah ketika mendapati ibu dengan senyum cerianya.


"Ayah... kata Ratih, setelah praklinis, Ratih akan menjalani koas dan beruntungnya lagi koas akan berada di kota ini, Yah!"


"Yang bener Bu! Semoga semua berjalan lancar." Ayah hanya bisa mendoakan semoga cita-cita putri kita tercapai dengan baik, dan lancar. Bu


Persiapan untuk acara lamaran juga sudah hampir mendekati sempurna, semoga adikku menjadi orang sukses dan berhasil, dengan segala usaha dan cita-citanya, aahhh.....bahagianya!


"Lintang, kamu juga harus memastikan hatimu untuk nak Dian, jangan menggantung terus! Ibu tau loh nak Dian menaruh harapan besar padamu, apalagi yang membuatmu ragu?" Ibuku meraih tanganku lalu membawaku ketempat duduk.


"Hilangkan trauma itu, Lintang! Ibu yakin kamu juga menyukai nak Dian, sorot matamu mengatakan dan itu bukan sebuah kebohongan."


"Ibu...! Tidak mudah untuk memberikan pengertian pada Shasy, takutnya Shasy belum bisa menerima mas Dian," entah warna apa pancaran wajahku saat ini, rasanya hilang kata-kata kalau ibuku sudah ikut andil dalam sebuah usulan.


"Di sini kamu masih saja seperti gadis kecil ibu, yang suka mencari kambing hitam kalau sudah ketahuan menginginkan sesuatu!"


"Ih Ibu..., apaan sih. Malu aku Bu, jadi kelihatan ya kalau aku kadang mulai memimpikannya."


Saat menyadari terlanjur jujur, Lintang semakin memerah wajahnya. Antara bibir dan kata hatinya tidak sinkron sehingga tanpa sadar mengakui rasa yang mulai tumbuh dan perlahan berkembang.


"Bu, apa mas Dian mau menerimaku dengan status janda anak satu? Apa dia nggak takut malu kalau diejek teman-temannya?"


"Ibu memahami rasa khawatir yang muncul di hatimu. Bagi ibu, mas Dianmu itu laki-laki yang sangat baik dan terutama sayang sekali kepada Shasy cucuku."


**


Perbincangan dari hati ke hati antara ibu dan anak tanpa perencanaan itu, menarik perhatian sang ayah yang diam-diam menguping. Bagi sang ayah, cukup sudah penderitaan putrinya yang diperlakukan layaknya babu di rumah mertuanya. Hanya demi harta dan tahta, keluarga itu enggan mengakui cucu kandungnya. Bahkan mereka tega mengusir Lintang dan Shasy dari kehidupan mereka.


**


Akhirnya persiapanku dengan mas Dian yang akan berangkat ke Jogja karena permintaan orang tua mas Dian untuk menghadiri ulang tahun pernikahan beliau yang akan diselenggarakan di Jogyakarta, sambil mengenang masa-masa kali pertama cinta mereka dipertemukan dan bersemi.

__ADS_1


"Nenek, kakek.... Shasy pergi dulu, nanti kalau kakek kangen sama Shasy telpon saja pakai video ya!" Putriku memang cerdas diusianya dan pernah dalam kondisi tertekan, namun dia cepat menerima perubahan pada lingkungan barunya.


Ayahku memeluk tubuh kecil yang mulai gemoy itu, "Shasy ikut mama sama om Dian nggak boleh nakal, harus nurut! Nanti pulangnya bareng-bareng sama Tante Ratih, nenek sama kakek menunggu di sini,"


Setelah berpamitan mas Dian membimbing tangan Shasy masuk kedalam mobil, dan kami berangkat disertai lambaian tangan ayah dan ibuku.


Mobil melaju dengan kecepatan standard, celoteh Shasy bahkan tanpa sadar membuat ku tertawa lepas. Hingga di tengah perjalanan Shasy akhirnya tertidur pulas di jog belakang yang sudah di ubah sedemikian rupa dan nyaman sebagai tempat tidur putriku.


Perjalanan menuju Jogja memakan waktu cukup lama lebih dari lima jam tanpa melalui kalan tol.


"Dek Lintang?"


"Hemm... Iya mas!"


Suara mas Dian memecahkan rasa yang tiba-tiba canggung, hanya alunan musik milik Felix dengan lantunan gitarnya akustiknya membawakan lagu-lagu melankolis sedikit membawaku terbuai.


"Kok diam, mikir apa?"


"Ohh ehh... Dengar musik mas he he he,"


"I...iya suka eh...," Entah rasa gugup itu kenapa kembali menyerang otakku seketika.


Mas Dian meraih tanganku, dan di situ aku hanya bisa berdiam saja, tapi kenapa mukaku terasa menghangat yah....!


"Dek Lintang, maaf!" Lalu tidak berapa lama kurasakan sebuah kecupan hangat dan perlahan membawakan rasa pada detak teratur jantungnya yang disertai irama, bawaku pada senyum malu tapi jujur aku begitu menikmatinya.


"Jujur dek Lintang, mas sangat berharap lebih padamu!"


"Jangan pernah bilang kepada dunia, dan mengatakan dek Lintang hanya janda dan beranak satu! Mas mencintaimu, dek!" Senyum itu sungguh menyejukkan, hatiku serasa semakin menghangat.


"Mas..."


"Mas tidak menerima penolakan dek! Kita ke Jogja ini atas permintaan ibu dan ayah mas, beliau ingin melihat cucu-cucunya bermain di rumah induk, Shasy termasuk cucu beliau, hemm," ucapan mas Dian benar-benar membuatku tercengang, ibu mas Dian yang baru pertama kali bertemu denganku kini memberikan undangan yang sangat spesial untuk aku dan putriku.


"Maksud mas Dian apa? ya ampun jangan membuat saya bingung, mas!" Mataku menatap jauh pada manik hitam nan teduh itu, ku tahan kuat-kuat rasa yang selama ini berkarat tanpa ingin ku membuka namun kini semakin melebar saja celah itu.

__ADS_1


"Gimana dek? Oke kan?" Aku hanya mengangguk dan berusaha memberikan senyumku yang terbaik untuk mas Dian.


Mas Dian kembali mer emas lembut tanganku, sedangkan isi hati ini bila bisa terlihat dengan kasat mata, mungkin terdapat bunga bunga yang sedang bermekaran kembali.


Mobil berhenti di sebuah rest area, namun bukannya membuka pintu dan turun dari mobil, mas Dian kembali menatapku dengan pandangan yang penuh arti.


Senyum dibibir mas Dian semakin mengembang dan kini kembali pelan namun ini bukan musik dari Felix yang sejak tadi menghibur kami didalam perjalanan kami ini, namun suara mas Dian bagaikan gema yang sedang menggaung pada gendang telingaku.


"Akhir bulan ini! Adalah hari di mana Rudi akan melamar dek Ratih, mas Dian juga tidak mau ketinggalan dong!"


"Ibu dan ayah mas Dian juga meminta dek Lintang sebagai pendamping mas Dian kelak pada ibu dan ayah dek Lintang!"


Suaraku serasa tercekat pada kerongkongan ku yang tiba-tiba mengering, "Mas... Ini..!"


"Mas serius dek!"


"Kamu tak akan pernah bisa memulai kisah yang baru jika kamu tidak segera mengakhiri kisah yang lama. Terkadang kamu tak bisa memilih kepada siapa jatuh cinta, karena itu terjadi begitu saja. Meski mulut berkata tidak, hati tak bisa menolak. Jangan pergi agar dicari, jangan sengaja lari agar dikejar, berjuang tak sebercanda itu."


"Jangan menunduk, lihat kearah mas! Kita akan langsung menikah, usia mas sudah tidak muda lagi dan mas menginginkan adik untuk Shasy agar dia tidak kesepian sendiri bermain."


"Dek Lintang menerima kan?"


Suaraku benar-benar raib dari pita suaraku, aku tidak mampu mengolah kata-kata bahkan untuk sekedar berkedip aku merasa kesulitan.


"Dek....!"


"I...iya mas.... Aku!" Entah apakah aku sedang tersanjung? Namun ketika mas Dian memelukku, aku hanya pasrah dalam dekapannya.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉


walahhh.... 🤭andaikan Lintang aku yah 🤭. dahlah pokok e mantu 2x tahun ini 🤭 Amplopnya bestie


Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘

__ADS_1


__ADS_2