
Pov Author
Berjalannya waktu tanpa terasa, memulai kembali cerita dan tawa pada fase yang membawa cerita anak manusia dengan sejuta alur yang penuh warna, berjuta angan dan cita walaupun tidak memutus kemungkinan kesedihan dan duka telah menjadi dasar sebuah awal cerita bahagia.😉
Satu bulan telah berlalu, duka Yessi mau tidak mau harus menerima kepergian om Ricky untuk selamanya karena kritis dan mengalami arteriovenous malformation, atau pecahnya pembuluh darah pada kepalanya karena hipertensi.
Kandungan yang tidak bisa diselamatkan dan harus menjalani kuretase, pupus sudah harapan untuk menjadi wanita kaya, namun kini kehidupan Yessi bukannya insaf dan merenungi kesalahannya atau minimal berubah menjadi kebaikan.
Kehidupan malam yang penuh bergelimang keindahan, dengan gemerlap sekali kedip mata mimpi indah dengan mudah memihak pada kehidupan Yessi tanpa kendala apapun, dan hanya waktu yang akan menjawab, bisa jadi kebijakan Author kita tetep bikin alur pelan pemirsa 🤭
Yessi yang dulu lugu, cantik alami walupun tidak bisa di pungkiri polesan make-up juga dia lakukan untuk menunjang penampilannya.
Kini berubah total! Iwan yang semula sebagai kepala rumah tangga pengganti sang ayah, kini setelah kejadian demi kejadian menimpa kehidupannya, dia sendiri lebih fokus pada keluarganya sendiri, yang hingga saat ini putranya masih didalam ruangan NICU dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit, sedangkan Rahma sendiri semakin hari semakin bertambah sulit untuk di kendalikan, rasa takut kehilangan dan ingin selalu di temani olehnya membuat hidup Iwan semakin hari semakin bagaikan di dalam sangkar emas saja.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
Persiapan pun sudah pada akhir kesempurnaan, persiapan untuk melakukan acara pertemuan dua keluarga menjadi meriah dengan kehadiran saudara dan undangan untuk menghadiri pertunangan antara Rudi dan Ratih. Sudah beberapa bulan sebelumnya memang berencana namun berbeda dengan pertunangan Lintang dengan dokter Dian, semua serba dadakan, semua tanpa terduga.
Hati orang tua mana yang tidak bahagia mengetahui kedua anaknya akan segera mengakhiri masa lajangnya dan masa kesendiriannya.
Senyum puas itu tidak pernah lepas dari raut wajah pak Ahmad beserta istri, pun terjadi pada orang tua dokter Dian, putra yang telah menutup hati setelah sekian lamanya kini telah menemukan tambatan hatinya kembali.
Wajah cantik Lintang dengan dandanan natural membuat mata dokter Dian tidak mampu berkedip menikmati kecantikan wanita yang selama ini ia Kagumi dan mampu mencuri hatinya, sebentar lagi akan menjadi bagian dari hidupnya.
Acara pertunangan dan lamaran sangat hikmad, bagaikan mimpi semua terjadi begitu cepat, Lintang masih saja kikuk dengan keadaan begitupun dengan Ratih, kata bahagia itu sulit hanya keluar dengan ucapan saja. Hari dimana mereka akan segera mengikat janji suci sebagai suami istri yang saling mencintai dan di cintai semakin dekat saja.
__ADS_1
POV author off
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
Seperti hari-hari biasa, setelah aku dan mas Dian resmi bertunangan jarak antara aku dan dia semakin dekat saja. Antara aku dan keluarga mas Dian juga semakin akrab, bisnis Modeste yang aku geluti juga semakin berjalan mulus bak melewati jalan tol saja, dengan sedikit sisa tabungan dari hasil jerih payahku, aku berencana meneruskan bangunan ayah yang pernah terbelengkai akibat dana.
Untuk melebarkan tempat usahaku yang kini mulai melebarkan sayap sebagai distributor produk kecantikan yang di bantu Icha sebagai penyuplai produknya.
Semakin hari aku semakin di suguhkan kesibukan, aku harus pandai mengatur waktu untuk Shasy dan Mas Dian tentunya. Kami selalu melakukan quality time bersama keluarga sambil melakukan persiapan untuk menyambut hari pernikahan kami yang kedua belah keluarga disepakati satu bulan mendatang setelah lamaran.
Kegiatan keseharian seperti di kejar target untuk segera selesai. "Dek Lintang, seharusnya tawaran Icha untuk membuka cabang distributor produk kecantikan jangan di ACC dulu, nanti mas akan bicara dengan Icha, mas yakin dia juga tidak akan terburu-buru, sebab persiapan pernikahan kita sangat memakan waktu dan tenaga, untuk mempersiapkan segala sesuatunya,"
"Nggak kok mas, kan aku hanya menyiapkan tempat saja," aku membuat keyakinan agar mas Dian tidak begitu mengkhawatirkan kemampuan ku, ketika suatu siang aku dan mas Dian sedang asyik menikmati minuman segar, sengaja meluangkan waktu untuk menjemput Shasy pulang sekolah.
Mas Dian duduk semakin mendekat dan memberikan sebuah sentuhan yang sebelumnya belum pernah dia lakukan padaku, sikap mas Dian semakin hari semakin sering menunjukkan kemesraannya padaku, dan aku sangat tersanjung di buatnya. "Sayang... mas tidak mau kamu terlalu capek, mas maunya setelah kita resmi menikah, dek Lintang segera hamil dan Shasy punya adik!"
"Mas... Esnya manis!" Selaku mengalihkan pembicaraan, setelah kami resmi bertunangan memang ada-ada saja kelakuan mas Dian yang sering membuatku merinding dan merasakan kerinduan padanya.
Kring kring kring....
Ponsel mas Dian berbunyi dan tentu saja mengalihkan perhatian, disini kadang akupun di tuntut sebuah pengertian dengan profesi mas Dian sebagai pelayan masyarakat khususnya ibu-ibu hamil yang membutuhkan pertolongan, kecuali hari libur khusus.
Mas Dian hanya menatap sekilas layar ponsel itu, lalu sepertinya dia menekan tombol reject.
Kring.... Kring kring...
__ADS_1
Kembali aku perhatikan wajah mas Dian serius menatap layar ponsel, sesaat kemudian kembali menekan tombol reject, kali ini sepertinya mas Dian Menganti mode silent.
"Mas... Ada apa? Kenapa panggilan di tolak terus! Angkatlah mas! Bisa jadi sesuatu yang sangat penting," ucapku berusaha memberikan pendapat padanya.
"Oh nggak penting dek, hanya orang iseng saja, sudahlah lupakan saja hemm, sebentar lagi Shasy akan pulang kan?" Mas Dian tersenyum penuh arti padaku.
Tapi ponsel itu semakin intens bergetar dalam mode silent nya. Perlahan mas Dian kembali mengeluarkan ponselnya dan meminta ijin padaku untuk menjawab.
"Maaf dek mas jawab saja panggilan ini ya?"
"Silahkan mas!" Tapi mata mas Dian seolah-olah menyimpan sesuatu sehingga kegundahan itu sulit untuk ia sembunyikan dari ku, saat berjalan menjauh untuk sekedar menjawab sebuah panggilan telpon.
Ketika kuamati dari tempat aku duduk, ketegangan itu menghiasi wajah mas Dian.
Hingga sebuah suara dari microphone sekolahan berbunyi menandakan bahwa masa pembelajaran siswa telah usai.
Sebelum aku berjalan menuju pintu gerbang sekolah, kulirik mas Dian yang masih saja konsentrasi pada panggilan teleponnya.
Ku lambaikan tanganku pada mas Dian, dengan isyarat mas Dian tersenyum padaku, manis dan menyejukkan hati ini.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
Telpon dari siapa sih 🤔🤔 atau jangan-jangan 😱😱, dahlah lanjut lagi pokok e.
__ADS_1
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘