
Malam semakin menggelap pekat. Suara sayup angin yang terdengar di luar rumah, dan kembang api yang terdengar dari pusat kota
Menjadi malam yang indah untuk berkontemplasi, sinar cahaya rembulan masuk dari celah jendela kamarku, ini adalah momen yang tepat untuk, merenungi semua hal yang pernah terjadi, apalagi perihal pencapaian kemarin pagi
Kebahagiaan sungguh meliputi diriku malam ini, tentu aku bersyukur atas semua, kulihat keluar jendela, ternyata hari ini adalah malam purnama
Bulan yang indah bertengger di langit, membuat suasana hatiku kian membaik
Tuhan terima kasih untuk semua hal baik hari ini, Semoga kebaikan yang telah ku terima hari ini, esok bisa kurasakan
kembali.
Hanya iseng ku tulis seluruh ungkapan rasa hati, entah bahagia atau cemas yang jelas semua beban itu perlahan berkurang, di pertengahan bulan yang di tunggu-tunggu pun hampir tiba juga.
Ponselku berdering membuat hatiku bersorak girang, setelah berkali-kali short message yang aku kirim hanya centang 1 saja.
"Hallo assalamualaikum, Ratih...! Maaf tadi sibuk ya?"
"Waalaikumsalam Mbak!"
"Mbak... Ratih minta maaf beberapa hari terakhir ini aku sangat disibukkan oleh kegiatan akhir semester. Ya ampun aku kangen! Mas Dian bilang kalian mau menyusul ke Jogja ya! duh.... Nggak sabar menunggu kalian," begitulah kira-kira telinga ku mendengar ucapan Ratih.
"Rat... Mbak itu belum bisa menerima mas Dian, mbak merasa tidak pantas dengan keadaan mbak yang tidak sempurna ini,"
"Maksud mbak! Tidak sempurna bagaimana, lah mas Dian tulus mencintai mbak Lintang, pelan-pelan jalani saja ya mbak! Kami sangat mendukung, bahkan ibu dan ayah mas Rudi sangat setuju!" Ucapan terakhir yang membuatku terkejut
"Kamu tau darimana, bukannya kamu tidak pernah pulang tiga bulan terakhir ini, dek!"
Dari seberang telepon kudengar suara Ratih tertawa terkikik, "ibu sama Ayah yang ke jogja, mbak! Dahlah pokoknya kalau mas Dian ke Jogja mbak Lintang ikut ya, mungkin lusa!"
"Hah... Mana bisa?"
"Bisaaaa! sebentar mbak, nanti Ratih telpon lagi yah!" Teriak Ratih dari seberang, lalu begitu saja menutup panggilanku
"Dek kok panik, kenapa?"
"Huh ya ampun!" Jantungku serasa copot ternyata mas Dian sudah berdiri dibelakang ku tanpa aku sadari.
"Dek maaf beberapa hari ini mas tidak bisa datang, mas sibuk di rumah sakit,"
Ada rasa senang dan getaran aneh ketika mas Dian yang tiba-tiba muncul, seperti sebuah kerinduan dan menemukan penawar rasa itu.
__ADS_1
"Mas Dian kapan datang! Saya tidak mendengar suara mobil mas berhenti!"
Mas Dian hanya tersenyum saja, lalu membimbingku duduk di teras rumah. Tidak lama ayah pulang dari menjemput Shasy, sehabis kejadian dengan mas Iwan dan ibunya, ayahku berinisiatif untuk memindahkan sekolah Shasy karena takutnya akan terjadi trauma tempat kejadian, akan berdampak lebih buruk lagi pada perkembangan dan pergaulan Shasy kemudian harinya.
"Sudah lama nak Dian!"
"Om papa, Shasy kangen kenapa nggak datang?"
Deg..... waduh anakku...!
Aku dengan ayah hanya bisa saling berpandangan. Sedangkan Shasy berlari dan menubruk mas Dian, tentu saja mas Dian segera meraih tubuh gemoy itu sambil menggendongnya, dan berputar sesaat.
"Om papa sibuk ya? Tapi kata Tante Ocha, walaupun sibuk masih bisa menelepon, kan?"
Hening... Tanpa suara mataku menatap lurus kearah mas Dian yang mencari kursi untuk duduk.
"Maaf sayang lain kali, om Dian tidak akan teledor lagi, janji!" Mas Dian mengacungkan dua jarinya tanda peace pada Shasy.
Bibir Shasy tiba-tiba terlihat manyun dan terkesan makin imut saja, "Om papa, bukan om Dian, sayang Shasy, nggak boleh gitu dong...!" Belum selesai aku berkata, mas Dian sudah memberikan isyarat dengan kerling mata kirinya padaku.
Aku benar-benar berada di posisi serba salah di depan anakku, sedangkan Ayah hanya tersenyum sambil serius mendengarkan celoteh putriku.
"Kata Tante Ocha, Shasy boleh panggil Om Papa, heheheheh," tawa putriku renyah jelas terlihat lesung pipinya.
"Ha...ha...ha... Tante Ocha ada-ada saja, tapi Shasy suka tidak!"
"Hehehehe suka dong!" Shasy melorot dari pangkuan mas Dian, lalu berlari menghampiri ibuku.
Aku yang masih terbengong setelah mendengar ucapan Shasy, tiba-tiba tenggorokan ku terasa kering saja. Sedangkan ayah rupanya terlihat tenang tenang saja.
"Ehh... Bapak! sepertinya saya harus segera melamar dek Lintang, soalnya sinyal lampu hijau sudah menyala dari Shasy!"
"Dek, kita nikah yuk! Nggak usah pacaran biar nggak ribet!"
"Ayah!" Ku lempar pandanganku kearah ayah.
"Ayah hanya terserah kalian? kan kalian yang menjalani sedangkan kami orang tua hanya bisa mendoakan dan mendukung saja."
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
Hoek.... Hoek ...
__ADS_1
"Oh kamu menjijikkan Yessi, pergi kamu dari sini! Nggak melihat apa, ada orang sedang makan, huh?" Suara Rahma membuat Yessi sedikit geram dan berpaling melempar pandangan pada Iwan.
Bukan menegur Rahma ataupun Yessi, Iwan malah asyik bermain game online.
Rahma kali ini merasa lebih fresh dan kondisinya semakin membaik, dengan pantauan perawat yang tidak pernah jauh dari dirinya, dokter pribadinya mengijinkan Iwan untuk membawa pergi, agar bisa mendapatkan suasana berbeda, menghindari rasa jenuh.
"Ibu! Tolong ajari putri kesayangan ibu untuk memahami sopan santun dong, saya dulu juga pernah hamil tapi nggak se-jorok dia!" Rahma berbicara tanpa menghiraukan tatapan benci Yessi pada dirinya.
"Rahma, kamu itu bicara apa sih, emang kamu siapa?" walaupun lirih namun perkataan Bu Lestari jelas terdengar oleh perawat Rahma.
"Maaf nyonya! Sebaiknya jangan dilanjutkan, saya mohon maaf!" Perawat itu berusaha melerai adu mulut antara Yessi dan Rahma.
Bu Lestari yang terlebih dahulu kena tabok lembaran merah oleh Rahma, hanya mengangguk saja tanpa bisa berbuat lebih banyak.
"Huh dasar orang gila, mau saja ibu di manfaatin orang gila dia, cerai in aja kenapa sih mas!"
"Masih banyak juga wanita kaya selain dia, huh!" Sungut Yessi sambil membersihkan mulutnya yang masih basah dengan tissue.
Prank.....
"Aaahh.... Gila apa yang kamu lakukan padaku!" Teriak Yessi sekencang mungkin hingga seluruh penghuni rumah mendekat. Tapi sejujurnya Yessi keder juga dengan Rahma, sebab bagaimanapun juga Rahma adalah jantung kehidupan didalam rumah tangga Iwan, dan Yessi kecuali rumah dia hanya nebeng saja, bahkan tidak jarang Yessi tanpa segan meminta uang pada Rahma.
Perawat yang menjaga Rahma secepatnya melerai, dan membujuk Rahma untuk menuju kamar dan beristirahat.
"Yessi! sebenarnya itu yang gila kamu apa si Rahma sih? Lihat dirimu sendiri, kamu lebih gila daripada dia, coba mana laki-laki tua bangka yang kamu banggakan itu, sudah mati apa masih sekarat! Sampai hari ini kok mas tidak pernah melihat dia datang kesini, minimal membelikan sesuatu untukmu!" Geram Iwan tanpa terkendali, dengan ulah Yessi yang selalu keterlaluan.
"Awas kamu ya mas! Setelah aku kawin dengan om Ricky, akan kubalas semua kelakuan kalian!"
Yessi mengambil ponselnya lalu menekan tombol nomor om Ricky, yang semakin membuat kesal adalah, sudah hampir satu Minggu om Ricky tidak bisa di hubung
"Tut...Tut... Tut... Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau sedang diluar jangkauan..."
Menelepon Dona juga tidak mungkin, sama saja dengan menemui daughter of the killer.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
Ya ampun Shasy 🤭🤭 kamu pinter dek 😂, lalu gimana dong yessi! Om Ricky kemana dia😱😱
Salam Sayang Selalu Sehat Always dan Sejahtera by RR 😘
__ADS_1