Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Masa Lalu Saja


__ADS_3

Enggan rasanya tangan Dokter Dian menerima pegangan tangan Siska, namun tidak dengan Siska! yang masih saja tidak perduli dan tetap menggelayut pada lengan dokter Dian.


"Sayang... Aku tau kamu masih menyimpan rindu dan cintamu masih utuh untukku, karena aku tau kamu akan sulit hidup dan menjauh dariku!" Lirih Siska sambil bersandar pada lengan dokter Dian.


Terasa menghangat lengan dokter Dian, ternyata Siska menangis dalam diamnya.


Dokter Dian sangat merasakan dan menyadari, namun dalam hati jelas rasa sakit itu tidak ingin terkecoh dengan airmata saja, kini antara benci dan trenyuh oleh perubahan pada diri Siska, membuat dokter Dian hanya mampu menarik nafas saja.


"Duduklah dengan baik, maaf! Jangan sampai terjadi kesalahpahaman, aku tidak mau itu terjadi padamu dan padaku,"


Dokter Dian berbicara sambil meraih ponsel yang berada di saku jasnya.


"Icha... Tolong katakan pada ibu, mas malam ini tidak makan di rumah, mungkin akan pulang sedikit malam, ada sesuatu yang harus mas selesaikan,"


Mata dokter Dian jauh memandang di jalanan aspal, tidak tau harus berbuat apa.


"Siska, perlu kamu ketahui! Bulan depan aku akan menikah dan aku sangat mencintai dia, aku tidak ingin karena kehadiranmu semua akan menjadi cerita lain," pelan Dokter Dian berkata pada Siska yang masih saja duduk santai sambil tetap memegang tangan dokter Dian erat-erat.


"Tapi kamu juga mencintaiku kan? Kamu bahkan selalu bilang, kalau kamu tidak mungkin mampu hidup sendiri tanpaku!" Kilah Siska tanpa dosa.


"Iya, itu betul! Aku sangat mencintaimu Siska, tapi itu dulu!"


"Kamu hanya sepenggal masa lalu yang begitu menyakitkan bagiku, kamu yang membuat mimpiku kandas tanpa bekas." Sebenarnya kalau boleh jujur tentang rasa, dokter Dian tidak mampu untuk mengucapkan kata-kata itu, apalagi kepada perempuan yang pernah mengisi hati dan hari-harinya.


"Siapa wanita beruntung itu? Aku akan meminta maaf dan ijin untuk berada disisi mu kembali, egois memang tapi aku menginginkan itu, sayang aku ingin ada dalam pelukan mu, aku tidak perduli apapun itu!" Kembali Siska berkata dengan lirih dengan nafas yang penuh kontrol, seolah dia tidak berbuat suatu kesalahan yang fatal.


Hati dokter Dian semakin dibuat tidak menentu, sikap asli Siska sejak dulu kini kembali pada aslinya.


"Siska... Kembalilah pada hidupmu kemarin, kita hanya sebatas teman tidak lebih saat ini, aku akan segera menikah dalam waktu dekat, maafkan aku?" Dokter Dian meminggirkan mobilnya dan berada di bahu jalan yang sepi.


"Sayang! Aku ingin kata-kata manismu kembali terucap dari bibirmu untukku, aku mohon! Dian!" Siska mengangkat kepalanya lalu mata mereka beradu untuk sekian saat.

__ADS_1


"Aku tau kamu masih mencintaiku, kamu bohong Dian!" Air mata Siska kini kembali bergulir tanpa bisa ia bendung, membasahi kedua pipinya.


"Aku lapar, aku ingin kamu membawaku kemana saja, aku tidak perduli apa kata dunia tentang hubungan kita, yang aku tau sekarang aku kembali padamu, dan aku menginginkan kembali cintamu yang dulu padaku!"


"Kamu egois Siska, ini tidak mungkin! bila sekarang aku masih ada cinta, tapi itu jelas bukan untukmu jangan bicara tentang rasa dan cinta, semua sudah berakhir dan bullshit Siska!" Merah padam wajah dokter Dian menahan amarah yang sudah ia pendam sekian lamanya.


Suasana di dalam mobil seketika kembali dingin dan sepi, Siska hanya mampu menundukkan kepalanya tanpa bergeming sedikitpun.


Isaknya semakin mengiris hati, dokter Dian mengulurkan tangannya dan memberikan sapu tangan miliknya.


"Jangan menangis di depanku Siska, sebab aku tau kamu bukan wanita type cengeng hapus air matamu!" Dokter Dian kembali melajukan mobilnya pelan menuju sebuah cafe yang berada di tidak jauh dari pusat kota.


"Sayang, aku ingin tetap seperti dulu kita berjalan selalu bergandengan tangan, dan tidak pernah kau melepaskan rangkul mu pada pinggang ku, aku masih ingin merasakan itu, sayang!" Rupanya Siska tidak mudur selangkah pun dari keinginannya.


Dokter Dian berat menghela nafasnya dalam-dalam, dan berjalan dengan langkah berat mencari tempat duduk yang di rasa nyaman untuk berbincang-bincang dengan Siska.


Tanpa dia sadari seseorang telah mengawasi gerakan mereka berdua, tak lain adalah Lintang.


Kini... Setelah melihat kejadian yang sulit ia percaya, perasaannya kembali hancur dengan mata kepala sendiri Lintang menyaksikan dokter Dian sedang Berdua dengan seorang wanita.


Disaat mata Lintang fokus pada penglihatannya, Dokter Dian pun kebetulan merasakan ada sesuatu dan serasa menginginkan pandangannya tertuju pada satu sisi.


Lalu....


"Dek...!"


Dokter Dian segera mengejar langkah seribu Lintang meninggalkan begitu saja Siska yang masih sibuk menenangkan dirinya yang ternyata tidak mudah bagi dirinya untuk bermain sandiwara menyangkut rasa dan hatinya.


Lintang berjalan lupa arah, tubuhnya bergetar hebat trauma yang baru saja akan berlalu dalam hidupnya, kini bibit luka itu serasa akan kembali mengguris hati lagi.


"Dek Lintang! Kamu ada disini, jangan pergi dek! mas akan jelaskan semua tidak seperti yang kamu bayangkan,"

__ADS_1


Dokter Dian meraih tangan Lintang lalu begitu saja di peluk erat, tubuh dengan jiwa yang masih rapuh di hadapan dokter Dian.


"Mas... Maaf aku tadi nggak sengaja melihat mas Dian, sa...saya a..akan pulang, eh...," Ucap Lintang secara tiba-tiba merasa bersalah.


"Sayang... Dengarkan mas bicara, dengar sayang....!" Dokter Dian sudah tidak perduli lagi berada di mana dia sekarang yang ada dia tidak ingin kehilangan orang yang dia cintai untuk kedua kalinya.


Tangan kekar dokter Dian memeluk erat tubuh ramping Lintang, dia sungguh tidak memperdulikan bahwa dirinya menjadi obyek tontonan beberapa pasang mata yang melihat kejadian itu.


Lintang hanya diam dalam kebisuan dan hanyut didalam dekapan Dokter Dian.


"Sayang... Dengar perempuan itu adalah Siska, dia masa lalu mas, dan itu hanya tinggal cerita. Kamu jangan pergi! Disini dengan mas Dian," pelukan itu seakan enggan untuk ia lepaskan.


"Mas..."


Dokter Dian berusaha menenangkan Lintang, walau Lintang tak sanggup berkomentar karena bayangan dikhianati kembali mengusik batinnya.


"Mas, bila di antara kalian sudah selesai, lalu untuk apa Mas dekat lagi dengan wanita itu?"


"Please dek, mas akan jelaskan semua!"


Mata Lintang seakan membeku ketika menatap sosok wanita cantik, matanya sembab dengan perlahan berjalan kearahnya yang masih diam dalam pelukan dokter Dian.


"Sayang.... Tolong lepaskan dia! Aku tidak sanggup melihat dirimu memeluk wanita lain didepan mataku, Dian!" Suara parau siska membuat dokter Dian perlahan mengendurkan pelukannya pada diri Lintang.


"Siska kenalkan ini calon istriku, dan calon ibu dari anak-anakku!" tangan Dokter Dian tetap memegang erat tangan Lintang.


Mata Siska semakin mengembun dan berjalan pelan mengarahkan langkah kakinya pada dokter Dian dan Lintang yang masih berdiri menatap Siska.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


Apa sih maunya Siska, duh semoga hubungan dokter Dian sama Lintang baik baik saja ya 🤧 mau hidup bahagia kok susah bener sih lintang ini, adaaaa aja batu sandungannya.

__ADS_1


Salam Sayang Selalu by RR 😘


__ADS_2