
Kutatap intens mata wanita tua yang konon kabarnya adalah orang tua Siska, wanita yang lemah lembut, bijaksana dan terlihat penuh kasih serta pengertian itu.
"Maaf Bu, saya adalah calon istri mas Dian dan dengan terang-terangan bahkan ibu sangat berharap kesembuhan putri ibu dan bisa hidup dengan normal seperti sediakala,"
"Kalau saya menolak permintaan Ibu, apakah saya akan berdosa besar?"
"Bagaimana dengan di saat mbak Siska pergi meninggalkan mas Dian, padahal dia adalah harapan satu-satunya untuk menjalani mahligai rumah tangga bersama, namun Siska pergi meninggalkannya begitu saja, adakah Ibu pernah membujuk mbak Siska untuk kembali kepada dokter Dian?"
Bibirku bicara melawan rasa kelu, namun hati ini melebihi rasa teriris sembilu, kenapa kehidupanku selalu di kelilingi orang-orang yang selalu membatasi mimpiku?
"Nak Lintang, Bapak juga menaruh harapan yang sama! Siska adalah anak kami satu-satunya dan kini dia sedang berjuang melawan maut, selamatkan dia, Nak!" Laki-laki tua bapak dari Siska itupun berucap sama, bahkan dia lebih ekstrem dengan meraih pundakku dan matanya mengembun menatapku penuh harap.
Kulihat mas Dian segera bangkit dari tempat duduknya, lalu meraih tanganku dan menggenggam erat tanganku.
"Sayang... Tenangkan hatimu! Semua akan baik-baik saja!"
"Maaf Oom, Tante! Sebaiknya kita fokus pada kesembuhan Siska saja, dan untuk permintaan Oom dan Tante itu tidak mungkin dapat saya penuhi, karena saya akan segera menikah dengannya," mas Dian akhirnya memberikan penekanan kepada mereka berdua.
Wajah kedua orang tua Siska kembali menggambarkan kesedihan yang sulit mereka ceritakan.
"Permisi Tante, Oom!" Mas Dian meraih tanganku dan membawaku pergi dari hadapan mereka.
Tatapan mataku dengan mata mereka saling beradu, ada rasa berharap pada sorot mata mereka.
"Mas..."
"Sstt..., sudah! Itu sudah tidak penting semua sudah berlalu dan bukan Mas yang menginginkan semua ini, dek Lintang fokus saja kepada masa depan kita!" Mas Dian memotong pembicaraanku dan membuka pintu, membawaku masuk ke dalam ruangan yang ternyata adalah tempat kerjanya.
Lalu mengunci rapat-rapat pintu itu.
"Mas ada jadwal operasi Caesar satu jam lagi, temani Mas dulu sayang! Tidak perlu menghiraukan omongan orang yang tidak penting, hemmm!" Tangan kekar itu begitu saja melingkar pada pinggangku, dan menuntun tanganku untuk bersandar merangkul pada pundaknya.
__ADS_1
Serasa bagai tersengat aliran listrik dengan tegangan berkapasitas tinggi, aliran darahku pun menghangat. "Mas... em... Sebaiknya mas fokus pada kegiatan yang akan mas jalani, jangan begini Mas!"
"Berikan aku pelukanmu sebentar saja dek, mas ingin menikmatinya walaupun hanya sebentar!" Malu-malu kupeluk juga tubuh atletis itu, getar kerinduan dan keinginan semakin memacu hasrat yang sama-sama saling terpendam.
Kunikmati sentu han tangan mas Dian yang menjalar pada bagian yang agak sensitif, perlahan namun pasti hawa panas itu semakin menjalar pada tulang selangka dan memberikan keinginan yang sedikit menuntut.
"Sayang honey... Jangan mas... Di sini bukan pada tempatnya!"
"Panggil Mas dengan sebutan itu sekali lagi, sayang!" Napas berat mas Dian semakin menimbulkan sebuah getaran aneh dalam jiwaku.
"Sayang kita belum waktunya mas... Aku...aku!" Aku hampir saja susah bernapas dibuatnya, mas Dian semakin memberikan rasa yang seharusnya tidak terjadi saat ini.
"Honey... Sayang... Kita belum muhrim mas!"
"Mas tahu, tapi Mas tidak sabar sayang... Ini terlalu menyiksa, dek!" Tangan mas Dian menunjukkan sesuatu yang bukan asing lagi, dengan yang ia maksud, namun tentu saja ini akan menjadi siksaan tersendiri saat ini.
"Mas... Pintunya... nanti ada orang masuk ma...!"
Ciuman itu penuh dengan tuntutan, semua menjadi tidak peduli dengan situasi dan status yang sebenarnya. Tubuh mas Dian semakin mendorong tubuh kecilku dan kami berguling di sofa bed dalam ruangan pribadi ini.
Gigitan kecil yang mas Dian berikan semakin membuat gelora yang tiada tara ingin segera terlaksana, tangan kekar itu begitu saja mere mas membe lai, penolakan yang aku berikan seolah sebuah kesia-siaan belaka, kalau boleh jujur akupun cukup menikmati.
Perlahan tangan mas Dian membuka kancing blouse yang aku kenakan, lidahnya semakin liar berselancar mencari sesuatu yang ia temukan, "aahh... Mas... Jangan sayang...! Mulutku berkata sungguh tidak sinkron dengan otak dan isyarat tubuhku.
"Diam sayang nikmati saja, mas suka ini!" Lidah mas Dian memainkan biji lunak yang membawakan sensasi kenikmatan yang hampir saja aku lupa caranya untuk menikmatinya.
Lidah itu menari, menye sap dan sedikit mengigit hingga membuat geliat antara sakit dan geli serta ingin yang lebih darinya.
"Sayang maafkan Mas, tapi rasa ini sungguh menyiksa, pegang Dek! Rasakan di bawah sana semakin lama semakin berdenyut dia menggeliat Dek!" Mas Dian membimbing tanganku untuk membuka dan memegang belalai gajah Afrika miliknya yang sudah menantang, siap melawan badai dengan semburannya 🤧
(Ya Allah ini siksa apa cobaan sih 🤣)
__ADS_1
Di saat puncak keinginan yang sudah sulit untuk ditaklukkan, bahkan belalai gajah Afrika itu semakin tegap menantang, dan memamerkan kekuatannya untuk membasahi gurun Sahara yang sedikit rimbun namun tidak dengan siraman air hujan itu.
Krrinng... kriing...
"Oohhh shiiiitt..." Umpat mas Dian sambil semakin erat memeluk tubuhku dalam rangkulnya.
"Mas... Ada telepon!" Napasku pun tidak kalah sesaknya, tubuhku dengan baju yang aku kenakan menjadi kusut dan berantakan, pun sama dengan posisi mas Dian yang sudah telanjang dada dan berantakan.
Tapi aku sangat bersyukur pada saat detik yang sangat kritis, dering ponsel itu seolah-olah menjadi peringatan akan perbuatan kami yang hampir saja menyalahi aturan adab.
"Sayang... Maafkan mas! Hampir saja tapi.... Dia merana sayang, lihatlah!" Tangan mas Dian menunjukkan belalainya yang sudah sedikit menjinakkan dirinya.
Aku sendiri merasa bersalah dengan buru-buru meraih tasku dan menjawab panggilan ponselku yang ternyata dari ibunya mas Iwan.
Sebisa mungkin kututupi anggota tubuhku yang terbuka, sebelum sang empunya gajah mengamuk kembali.
Kulihat mas Dian berlalu menuju kamar mandi dan tentu, dia mengerang setelah beberapa saat terjadi suara kegaduhan kecil dari rintih an ciptaannya mas Dian sendiri.
"Dek, bersihkan tubuhmu dulu, jangan keluar ruangan kalau belum bersih, Mas mau keluar dulu, di mobil ada setelan baju bisa dek Lintang kenakan setelah ini," aku hanya mengangguk malu, tapi bukannya segera meninggalkan diriku untuk membersihkan diri. Mas Dian kembali mendekatiku, dengan tatapan yang sulit aku mengerti.
"Sayang... Mas tidak sabar. Kita percepat saja yuk, Dek!" Bibirnya kembali nyosor meraih dua Muffin dengan topping biji lunak milikku.
"Auucchhh mass, sudah dong isshh geli tahu!" Dorongku pelan dan tawa kami pecah.
Setelah mas Dian keluar aku berjalan memasuki toilet kecil yang ada di ruang itu, hanya untuk sekedar membersihkan bekas Saliva dan mencuci mukaku agar menjadi fresh dan jauh dari penampakan yang baru saja melakukan pergumulan maut di ruangan privasi dokter.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
pemirsa... minta ampun yah🤭 pergumulan di atas sudah tidak benar dan harus berakhir menggantung.
__ADS_1
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘