
Mas Dian menggandeng tanganku memasuki kamar hotel yang ternyata sudah di bookingnya lebih awal, ini adalah pertama kali dalam hidupku memasuki hotel hanya sekedar keusilan mas Dian.
Pintu kamar terbuka dan bau harum bunga mawar menyeruak indera penciumanku, kamar yang luas dengan berbagai riasan bunga di sebagian tempat bak kamar pengantin untuk malam pertama mereka, mas Dian menutup kembali pintu itu dan otomatis terkunci.
"Ahhkk.... Mass....!" Spontan saja aku menjerit sambil memegang erat-erat tubuh kekar mas Dian yang tiba-tiba saja menggendong tubuhku ala-ala pangeran dan putri di cerita dongeng fantasi.
Pelan-pelan tubuhku mas Dian rebahkan di tempat tidur king size itu, Malu-malu kutatap pria yang sudah menjadi suamiku beberapa hari lalu.
"Sayang..., Mas mau ini, hemm!" Tanpa menunggu persetujuan dariku, mas Dian sudah lebih dulu memreteli apapun yang aku kenakan, perlahan namun pasti.
Entah bagaimana ceritanya, yang kutau antara tubuhku dan tubuh mas Dian sudah tanpa seutas pun benang melekat pada tubuh ini.
"Mas... Eemmm yang ini sayang...!" Erangku pelan melupakan rasa maluku, bahkan kutuntun tangan mas Dian untuk mer emas lembut Twins muffin milikku yang sudah menantang toppingnya, mengeras ingin merasakan hangatnya sesapan dan permainan lidah mas Dian.
"Hemm sayang katakan yang mana yang bisa membuatmu merasakan kenikmatan yang lebih," bisikan itu semakin membuat bulu romaku meremang.
Pelan namun gerangan yang aku berikan untuk mas Dian adalah irama yang bagaikan tangga nada diatonis, entah berapa saat aku nikmati gerakan demi gerakan yang mengundang desa han dengan peluh yang melawan sejuknya ruangan ber-AC ini.
Rasa sedikit asin namun tidak jera untukku kembali mengulang dan mengulang, hingga menuntun belalai gajah Afrika milik mas Dian memasuki liang persembunyian yang sudah lembab dan berlendir hingga kembali kurasakan kenikmatan yang luar biasa, sensasi sesak saat perlahan memasuki liang itu sungguh luar biasa terasa, hingga mataku sulit kubuka walaupun hanya sekedar melihat reaksi kenikmatan yang juga mas Dian rasakan.
Sungguh aku seperti kembali menjadi per awan, wanita seutuhnya yang mampu mendapatkan dan memberikan kebahagiaan serta kenikmatan yang kini kuraih bersama dengan suamiku tercinta.
Gerakan demi gerakan yang semula pelan, tenang dan bagaikan alunan simfoni, kini semakin lama semakin menjadi liar.
Mas Dian mengungkung tubuhku, dan ketika ia hendak mengerang secara reflex ku sumpal mulut mas Dian dengan twins muffinku yang semakin mengencang dan sangat membutuhkan gigitan lembut dari mas Dian, tanganku mencengkeram kuat pinggang mas Dian seolah-olah menginginkan lelehan keju mozzarella milik mas Dian semua lolos ke dalam liang persembunyiannya tanpa harus tercecer.
"Sayang... Eemm kamu ohhh, mas... Ayo sayang teruskan.... Mas... nggak kuat sayang ini terlalu nikmat.." ceracauku sambil terus melawan gerakan mas Dian yang memacu dengan penuh tingkatan.
__ADS_1
Hingga....
"Lintang....aaah... Rasakan sayang ini milikmu," tubuh mas Dian berdiam sesaat, memberikan kesempatan padaku, sedangkan diriku sendiri seperti tersengat aliran listrik dengan tegangan berkapasitas tinggi, saat aku mencapai puncak, kurasakan denyut seluruh inderaku dan kepeluk erat tubuh kekar itu.
"Sayang... Ini luar biasa dan mas sangat suka," mas Dian membawa tubuhku terbalik ke posisi di atas tanpa melepas sesuatu yang masih kokoh menancap pada liang persembunyian belalai miliknya.
Tangannya memelukku kuat, seolah-olah enggan melepas diri ini walaupun tubuhku dan tubuhnya penuh dengan peluh hasil kegiatan yang membawa kenik matan ini.
"Hemmm baru sekarang mas tahu, istri mas ternyata binal di ranjang, ouhh.... Ini sungguh sebuah kejutan yang istimewa bagi Mas," bisik mas Dian sembari kembali memainkan lidahnya mencari sesuatu pada bibirku, dan tangannya sibuk dengan mer emas pantta ku yang sekarang sudah nangkring di atas tubuhnya.
Aku yang berada di atas tubuh mas Dian dengan posisi mas Dian agak duduk bersandar, serasa tersanjung dengan mengendalikan permainan, sementara twins muffinku di buat mainan dengan hangatnya lidah mas Dian serta gigitan lembut yang kadangkala tiba-tiba bagaikan sengatan, lalu diiringi isapna lembut.
Tanganku menyangga tubuhku sendiri dengan memainkan pinggulku memacu pelan kembali seperti alunan simfoni yang kami nikmati.
"Sayang... Coba ikuti gerakan intens seperti sebuah ketukan palu di meja, 1....2...3 berulang agak cepat lalu pelankan dengan ritme menurun landai," mas Dian kali ini mengajarkan sesuatu baru padaku, walaupun kendali masih ada padaku namun tangan mas Dian tetap membantu dengan cara menyangga panttaku.
Mas Dian dengan sabar membelai dan memberikan masa jeda untukku, dengan membelai pipiku dan pelan mengecupnya. "Mas hufftt..." Serasa hilang kata-kata mas Dian kembali membimbing tubuhku, dan kali ini dia dalam posisi berdiri di pinggir ranjang dan aku dalam posisi tengkurap sedikit jongkok.
Posisi yang belum pernah aku mainkan dan ini membuatku penasaran apa yang akan dilakukan oleh mas Dian padaku.
"Sayang.... Nikmati ya!" Perlahan kurasakan belalai itu kembali memasuki liang persembunyian dari posisi belakang.
"Arrgghh... mas...oh!" Teriakku lebih keras.
"Kenapa sayang hemmm nikmat atau sakit?" Saat aku menoleh kebelakang kulihat mas Dian menggigit bibirnya sendiri sambil menatapku, tatapan yang mengharapkan sesuatu yang lebih dariku.
"Ini sesak mas, tapi aahhh... Terus mas aku sangat menikmati posisi ini, aahh...!"
__ADS_1
Gerakan liar kembali terjadi, sementara aku menopang tubuhku sendiri, dengan melawan gerakan yang mas Dian berikan.
Tangan mas Dian mer emas Twins muffin milikku dari belakang dengan satu tangannya, sedangkan tangan satunya sibuk dengan mer emas panttaku.
"Sayang terima yah... Oohhh Lintang, sayang oohh..."
Sodokan kuat tiba-tiba bagaikan menghujam diriku, dan jelas kurasakan hangatnya semburan keju mozzarella itu benar-benar meleleh seakan tepat bersarang pada rahimku, dan menghangatkan memberikan sensasi yang wow...
Nafas kami perlahan menjadi teratur, walaupun debar jantung masih enggan beranjak dari detak yang kuat, dan mas Dian masih saja memeluk tubuh yang masih basah oleh peluh.
"Mas, tenggorokanku kering rasanya," aku berusaha bangkit namun mas Dian menekan tubuhku.
"Mas yang ambil!" sambil berdiri berjalan menuju nakas dan mengambil minuman yang sudah tersedia.
Mataku menatap belalai gajah Afrika milik mas Dian yang masih saja menjuntai, dengan mengikuti gerakan mas Dian saat berjalan.
Rupanya mas Dian melihat kemana arah mataku memandang. "Mau lagi! hemm? hari ini khusus proses bikin anak, jadi kapanpun dek Lintang menginginkan, dia sudah siap!"
"huh....?"
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
Bila kurang hot tambahin sendiri ya Mak 🤭, chapter berikutnya mau ganti posisi dan tempat nih 🤣🤣
Like dan komen Mak e 😪 please
__ADS_1
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘