
Malam dengan berbagai keluh kesah dan kejadian yang benar-benar di luar dugaan dan tidak sekalipun terbayang olehku akan terjadi pada bagian cerita hidupku. Kini telah berlalu dengan sejuta mimpi dan menjadikan buah pikiran yang mengembara, gelisah akan kehilangan dan takut hingga membuat mimpi indah itu terburai perlahan.
Persiapan Shasy untuk berangkat sekolah pagi berlaku seperti biasa, cuma bedanya disini mas Dian sudah standby menunggu untuk menjemputnya.
"Ma... Hari ini papa yang antar Shasy ya? Mama juga ikut?" Kupandangi wajah putriku, berbicara dengan wajah serius dengan bibirnya yang sedikit agak di monyongin ke depan, semakin membuat aku gemas saja.
"Iya sayang, mama ikut soalnya motor kakek ada di tempat orang, nanti mama ikut antar Shasy dan pulang dengan naik motor kakek," jawabku memberi jawaban padanya, dan senyum dengan lesung Pipit itu menghiasi wajah imutnya.
"Ayah... Lintang mau antar Shasy dulu! Assalamualaikum," pamit ku pada ayah yang sedang memberi makan ikan di kolam belakang rumah.
"Waalaikumsalam, Lintang... Ayah minta maaf atas kejadian semalam!" Ayah menghentikan aktifitasnya dan berkata dengan mimik muka yang penuh penyesalan.
"Ibu mu tidak tega melihat Bu Lestari, mengiba dan menangis membutuhkan pertolongan kita,"
"Sudah ayah... Kasihan ibu juga, semoga nanti tidak akan terulang lagi! Ibu kemana ayah? didepan kok sepi?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Ke Pasar sama Mak Sri," perbicangan sederhana yang selalu kami olah setiap hari.
"Berangkat dulu ayah," kuraih tangan ayahku lalu di ikuti putriku, kami pun berjalan keluar dan menghampiri mas Dian yang sudah menunggu di teras dengan secangkir teh hangat buatan ku tadi.
Mas Dian meraih tas punggung Shasy dan mengandeng tangannya menuju mobil, sedangkan aku berjalan di belakang mereka, tersenyum bahagia namun juga was-was dalam hati serasa ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranku.
"Sayang, nanti ikut mas ya! Kita jenguk Siska bersama-sama, dia berada di ICU dan semalam orang tuanya sudah mas kabari," ketika mas Dian menyebut nama Siska kenapa rasa cemburu itu kembali aku rasakan, aku merasa menjadi penyebab Siska berada dalam kondisi kritis seperti ini.
"Mas.... Apakah mas masih mencintai mbak Siska? Dia kembali kritis karena aku kan mas!"
"Sudah dek, tidak perlu untuk merasa bersalah dan sakit Siska sedikitpun bukan karena kamu, karena ulah dia sendiri,"
Mas Dian menatapku sambil meraih kepalaku dan menyandarkan di pundaknya.
"Jangan terlalu banyak berfikir yang macam-macam dek! Siska mengalami sakit ini sudah lama, dan itu tidak ada sama sekali sangkut pautnya dengan kamu dek,"
Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku dan merasa nyaman setelah mendengar penjelasan mas Dian.
"Mas... Motor ayah apa nggak sebaiknya aki ambil saja dulu!" Tanyaku mengalihkan kesunyian.
__ADS_1
"Sudah di rumah dek, sudah mas minta tolong kurir untuk mengantar,"
"Sebaiknya dek Lintang kalau ada waktu luang selain mengerjakan pemesan Modeste, gimana kalau adek kursus menyopir, sepertinya akan lebih baik, setuju tidak?"
"Ah... Mana sempat mas! Bulan ini terlalu padat dengan persiapan pernikahan kita, biarlah saya naik sepeda motor saja mas, dulu saya pernah bantu ayah di kelurahan jadi untuk membawa mobil sendiri saya bisa kok mas," jawab ku malu-malu.
"Oalah... Tau gitu..." Mas Dian tiba-tiba menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu turun dan berjalan berputar menuju pintu di sebelah tempat aku duduk.
"Mas Dian kenapa?"
"Mas mau duduk sebagai penumpang dan dek Lintang yang menyopir, ayo!"
Tidak kuduga mas Dian berbuat kekonyolannya dengan secara tiba-tiba, membuatku sedikit bingung dibuatnya.
"Ayo! Kita oper tempat duduk !"
"Tapi kan lintang tidak punya SIM, nanti kena tilang bagaimana mas?"
"Ahh... Itu urusan mas, Ayuk!"
Perlahan ku melajukan mobil milik mas Dian, dan mas Dian bukanya komen dia malah bersandar sambil menutup mata, "sayang... kita mengarah ke rumah sakit daerah di kota K, mas ngantuk dek nanti kalau sudah sampai bangunkan mas ya!"
Aku begitu salut dengan keadaan mas Dian yang mampu tetap bertahan dengan kondisi kurang istirahat namun tetap pada komitmennya untuk menyelesaikan tugasnya sebagai dokter spesialis Obgyn.
Perjalanan menuju rumah sakit kota K memerlukan waktu kurang lebih 1 jam, waktu yang lumayan untuk istirahat.
Aku sadar dan sangat memahami tugas seorang dokter kadang tanpa mengenal waktu, ku putar musik kesukaan ku dan aku tetap konsentrasi di jalan.
"Sayang.... Kamu cantik!" Suara mas Dian yang tiba-tiba saja membuatku terkejut dan refleks aku menoleh padanya.
"Jangan melotot, tambah cantik kamu dek, apa hari ini mas absen saja ya, terus kita ke KAU kota nikah yuk... Mas rasanya sudah tidak sabar loh!"
"Ish.... Mas ngerjain Lintang ya, ihh!"
"Auhhcccssss..... Sakit dek! Etdah jari-jari mu kenapa sudah mirip kepiting suka main capit saja sih," mas Dian meringis sambil mengelus pinggang, sedangkan aku hanya tertawa lepas.
__ADS_1
Perlahan ku masuki pelataran parkir rumah sakit yang luas, "mas... Kita sudah sampai turun yuk!" Perlahan ku lepas seat belt dan melakukan persiapan untuk turun.
Mas Dian berjalan di sebelahku, para perawat yang sudah mengenal mas dian, mereka saling sapa ini semakin membuatku sedikit kikuk.
"Tenang sayang, mereka lambat laun akan tau bahwa Dokter Dian Agung Satyanagara sedang berkunjung ke rumah sakit dengan nyonya Lintang Prameswari," alis mata mas Dian naik turun sedangkan aku tentu saja tersipu malu di buatnya.
Kami berjalan menuju ruang ICU dengan lorong rumah sakit yang di tata sedemikian asri dengan tanaman hias yang sangat terawat, hingga memberikan suasana jauh dari kata sunyi dan menakutkan diantara ruang yang kosong dan tempat para pasien yang sedang berjuang melawan sakit.
"Dian... Akhirnya kamu datang juga, apa yang akan terjadi pada Siska? berikan dia yang terbaik Dian!" Seorang wanita tua jauh di atas usia ibuku, tiba-tiba menangis dan memegang tangan mas Dian, lalu di susul laki-laki tua yang mungkin mereka sepasang suami-isteri, orang tua Siska.
"Tante... Sabar dulu, dokter spesialis onkologi yang menangani Siska sebentar lagi, mari silahkan duduk! Kenalkan ini Lintang calon istri saya Tante, om!" Ku ulurkan tanganku kepada kedua orang tua Siska dan mereka menyambut uluran tanganku, tidak lama tangis ibu itu kembali pecah.
"Dian, Tante mohon janganlah kamu dendam atau benci pada Siska, terutama calon istrimu. Sekali lagi Tante sangat berharap kesembuhan Siska dan...."
Ibu itu terdiam sesaat bahkan semakin terisak dan menjatuhkan Kepalanya kedalam dekapannya sang suami yang ada disampingnya.
"Dian... tante dan dengan sangat atas pengertiannya, menikahlah dengan Siska mungkin ini jalan satu-satunya untuk kesembuhannya,"
Jantungku terasa tertindih berton-ton baja ketika mendengar pernyataan Ibunya Siska yang dengan tanpa bersalah atau setidaknya melihat aku yang berada di samping mas Dian.
Mas Dian menatapku dan tetap dengan tatapan lembut sorot matanya padaku, "sayang, tenang mas harap dek Lintang tidak terpicu emosi, hemm!"
Aku coba tersenyum walau batinku serasa tersakiti oleh sebuah kenyataan ini.
"Nak Lintang, saya mohon kesadaran nak Lintang, kondisi Siska parah nak, dengan kanker ovarium stadium 4," ibu tua itu tergugu pilu, semakin membuatku tercengang dan berada diantara kenyataan pahit.
"Dian ibu mohon nak!"
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
Lah... kalau mohon beliin ayam geprek mah tinggal pesan ya Mak! lha ini permohonannya minta yang aneh-aneh, apalagi cinta Lintang sedang mekar mekarnya tuh, ah... ada-ada saja sih 🤭 lanjut kuy. ... Yessi mana Yessi 🤣🤣
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘
__ADS_1