
Makan malam kali ini adalah makan malam yang paling special bagiku, selain masakan ibu yang selalu pas di lidah, dan aromanya yang begitu menggoda indera penciuman membuat selera makanku meningkat, tidak tanggung-tanggung piring makanku selalu saja ada makanan tambah dan tambah lagi.
"Dek Lintang makannya lahap amat? Nggak ingat kita dong!" Celetuk mas Dian sambil mengedipkan mata kirinya kearah ayah yang duduk didepannya.
"Kan enak mas! Iya kan Bu?" Jawaku enteng saja tanpa ada beban sambil tetap menikmati makanan didalam piringku.
"Sejak kecil dia memang suka makan sayur nangka muda, nak Dian. Kalau sudah makan lupa sama yang lain, iya kan?" ucap ibu tak kalah semangatnya mengomentari diriku.
Separuh panci sayur gudeg masakan ibu, hampir saja ludes menjadi santapanku kali ini. Malu sih... Tapi siapalah yang mampu menolak kelezatan masakan ibu, dan semua keluarga tau itu, kalau gudeg ibu tidak kalah dengan masakan gudeg Bu Broto.
Setelah usai makan malam, mas Dian yang biasanya nimbrung dulu di teras depan rumah hanya sekedar basa-basi dengan ayah, namun tidak kali ini. "Dek kita langsung pulang saja ya? Atau dek Lintang tidur di rumah ibu dengan Shasy?"
Deg....
Pertanyaan yang asing kurasakan, tidak biasanya mas Dian bertanya dan memberikan solusi pendek padaku, tentu saja karena sikap mas Dian yang tiba-tiba aneh, jelas tidak membuatku begitu saja menurut pada kata-katanya.
"Kita pulang saja mas, besok agak pagi aku yang akan jemput Shasy saja," jawabku sambil menahan rasa penasaran terhadap mas Dian dengan kejadian yang kulihat tadi Siang.
Setelah berpamitan pada ayah dan ibu, dan mencium Shasy aku beranjak menuju kamarku yang sekarang telah beralih menjadi kamar Shasy, walaupun tidak jarang ibu juga sering menemani tidurnya.
Ketika aku kembali keluar ku dapati mas Dian sedang menggendong Shasy, dan menciuminya. Ini adalah pemandangan yang sangat indah bagiku, walaupun sebagai ayah sambung, namun kasih sayang dan interaksi antara mereka sangat erat.
"Mas...!"
"Ya sayang, ada apa hm?" Jawaban ringan mas Dian betul-betul tidak memberikan diriku akan sebuah kepuasan, entah tiba-tiba aku merasa lebay saja disini.
Boleh minta di cium mas tidak sih?" Cicitku lirih sembari membuang mula ke luar jendela mobil, menahan malu.
"Uluh... uluh... Rupanya nyonya Dian sedang merajuk, tentu boleh donk!" Mas Dian dengan semangat meraih tubuhku dan memberikan pelukannya padaku, dengan satu tangan kirinya.
Perjalanan menuju kerumah kami tidaklah memakan waktu lama, 10 menit saja sudah sampai karena kita memang hanya beda gang saja.
Mas Dian turun dengan tergesa-gesa, lalu meninggalkan diriku yang masih didalam mobil. Benar-benar membuatku semakin kecewa, dan ini sulit aku terima.
Namun ketika pintu utama sudah terbuka, mas Dian kembali lagi kali ini wajahnya terlihat sedikit jahil dari semula.
"Aaahh..."
__ADS_1
Jeritku terkejut karena mas Dian begitu saja menggendongku, dan membawaku masuk kerumah, lalu pelan membaringkan tubuhku di atas tempat tidur king size yang bersih dan empuk itu.
Mencumbuku dan memperlakukan diriku lebih dari biasanya.
Ahh.... Ini aku yang sedang lebay atau aku yang sedang dilanda rasa curiga yang tidak beralasan atas penglihatan ku tadi sore, ternyata mas Dian tidak berubah sedikitpun, sendiri aku menjadi malu dan merasa sangat bodoh, ternyata aku sedang terbakar rasa cemburu.
"Tidurlah sayang, mas masih banyak pekerjaan!" Setelah usai melakukan ritual ranjang yang panas dan melelahkan namun nikmat tiada tara itu.
Usai membersihkan diri aku hanya merebahkan diri hingga menuju ke alam mimpi dan menikmati penggalan malam yang masih panjang.
🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️
Entah kenapa pada tengah malam ini, mimpi indah ku harus terputus oleh rasa lapar dan haus yang tiba-tiba melanda isi perutku dengan sejuta cacing-cacing yang sepertinya juga sedang kelaparan.
Mataku perlahan kubuka dan ku dapati pemandangan yang tidak pernah terjadi selama pernikahanku dengan mas Dian.
Mas Dian yang seharusnya tidur di sampingku, entah kemana dia! namun yang jelas kamar luas ini hanya aku yang menempatinya, mungkin ada di kamar mandi? Namun kosong juga.
Ku menoleh menatap jam yang berada di nakas tidak jauh dari tempat tidurku, waktu masih menunjukkan pukul 1.45 dini hari, waktu yang lumayan panjang untuk menuju matahari terbit.
Perlahan kuberjalan menuju dapur mengarah ke dispenser air hangat dan mencari makanan, untuk sekedar mengganjal perutku yang sedang berdisko ria karena lapar.
Sepenggal kata yang baru saja mendarat di indera pendengaranku, entah mas Dian sedang on the line dengan seseorang, jelas sulit bagiku untuk sekedar menduga duga saja.
"Mas Dian!... Belum tidur?"
"Hah... Eh ... Dek kok ada disini? Sejak kapan?" Jawaban yang sedikit aneh, membuatku terdiam sambil mengambil tempat duduk lalu menikmati air mineral dan sekeping roti tawar.
"Kenapa mas tidak tidur? Bukankah ini sudah malam?"
Bukannya menjawab tapi mas Dian malah mendekat dan mencium ujung kepalaku, dan balik melontarkan pertanyaan padaku.
"Tumben bangun tengah malam? Lapar lagi ya?"
"Haus mas, dan menyadari mas Dian tidak berada disampingku, terasa aneh gitu loh!" Kali ini kucoba mengimbangi pertanyaannya dengan sedikit gurauan.
"Mas telpon dengan siapa kok tumben malam malam, ada yang darurat kah?"
__ADS_1
"Bukan darurat dek, hanya sebuah pelayanan saja, kita tidur lagi yuk!" Mas Dian membimbing langkahku kembali menuju kamar dan kami akhirnya tidur terlelap hingga pagi.
🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️
Yessi yang terlihat lusuh dan dengan wajah pucat pasi turun dari taxi, berjalan sempoyongan melewati halaman kecil yang berada di depan rumahnya.
Pagi yang seharusnya cerah menjadikan petaka bagi dirinya, jangankan untuk tersenyum, menyapa saja ia enggan membuka suaranya.
Sakit, sedih, marah dan dendam merajalela menyusuri setiap inci pikirannya, langkahnya yang gontai tidak luput dari pandangan Tini sang asisten rumah tangga yang selalu kuat instingnya tentang bule Darius yang tiba-tiba muncul tiba-tiba menghilang begitu saja.
Bu Lestari yang sudah sejak semalam ancang-ancang mau menegur Yessi yang begitu saja meninggalkan dirinya di spa and treatment dan memaksanya harus berhubungan kembali dengan Lintang, menjadi heran dan bertanya-tanya dengan kondisi Yessi yang menegaskan dimatanya.
"Ibu...."
Yessi menjatuhkan dirinya diatas sofa empuk begitu memasuki ruang tamu, dan menangis sejadi-jadinya meratapi apa yang sudah terjadi pada dirinya.
"Loh ada apa ini? Kenapa kamu begini Yessi! Mana Darius itu? Sudah bikin susah ibu saja, masa ninggalin orang tua ditempat spa mana di telepon kamu juga susah, malah mematikan data!" Bukannya menolong dan berbicara baik-baik Bu Lestari semakin nyerocos saja.
Hening....
Namun mata kedua ibu dan anak itu saling tatap, dan merasakan suatu kemarahan masing-masing.
"Ibu... Tidak bisakah ibu prihatin sedikit saja, ini kacau ibu!"
Dengan langkah cepat dan sedikit pincang, Yessi berlalu masuk kedalam kamarnya dan menutupnya dengan keras.
Tini yang menyaksikan dari awal sejak kepulangan Yessi dan pertengkaran dengan Bu Lestari, hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Walaupun hanya sebagai pembantu rumah tangga dalam keluarga Bu Lestari, tapi Tini juga orang yang sering mengingat majikannya, namun sedikitpun tidak pernah di gubrisnya.
Nasi sudah menjadi bubur, apalagi yang harus disesalinya lagi, dari sudut dapur dimana Tini melihat Bu Lestari duduk sambil mengelus dadanya, tidak dipungkiri! Sejahat apapun seorang ibu, jelas tidak akan rela putrinya menangis dengan kondisi yang sangat memprihatinkan begitu.
"Bu... Minum teh hangat, Monggo!" Tini menyodorkan teh yang masih mengeluarkan asap kehangatan itu, Bu Lestari meraihnya sambil tangan Tini untuk duduk bersamanya.
🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️
To be continued 😉
Sepertinya pada chapter ini dua wanita yang sedang dalam kondisi lemah, dan terdapat kecurigaan dengan porsi yang berbeda, beri saya like, komen membangun dan plus-plusnya 🤣 maka jempolku akan terus menari dan mengasikan coretan lagi 🤭
__ADS_1
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘