
Rutinitas pagi ini seperti biasa, aku mempersiapkan sarapan dan membuatkan minuman hangat untuk mas Dian dan diriku sendiri.
Karena ijin praktek belum juga turun, maka mas Dian harus tetap aktif di rumah sakit, melayani pasien dan konsultasi tentang reproduksi wanita dengannya.
Mas Dian harus segera menuju rumah sakit, karena jadwal padat. Begitupun juga dengan diriku, persiapan untuk kompetisi yang akan ku ikuti, dan menyiapkan beberapa materi kepada siswa modeste yang juga akan mengikuti ujian awal pra sekolah mereka.
Setelah semua tersedia, aku kembali ketempat tidur karena harus ganti baju, dan berangkat bersama mas Dian ke rumah orang tuaku
Klunting.... klunting...
Dering ponsel mas Dian mengalunkan nada merdu, jelas aku tidak berkewajiban mengangkat walaupun itu berada di sebelahku. Sebab aku sudah yakin itu adalah panggilan untuk mas Dian, atau bisa jadi dari rumah sakit yang segera mengharapkan kedatangan mas Dian.
Terlihat mas Dian berjalan agak tergesa-gesa, keluar dari kamar mandi, lalu meraih ponsel di atas nakas, dan berjalan keluar kamar terlebih dahulu melihatku sambil matanya menatap penuh arti, entahlah! Apa maksudnya tetapi aku hanya membalasnya dengan senyuman saja.
Beberapa menit kemudian mas Dian kembali kekamar, lalu meraih pundakku dan mencium ujung kepalaku berakhir dengan memeluk hangat tubuhnya
"Sayang... Sore ini mas akan pulang agak lambat, kamu tunggu saja dulu dirumah ibu, nanti mas jemput," sudah bukan hal aneh lagi, mas Dian memang Selalu memberitahukan semua jadwal kegiatan dan kepulangannya padaku.
"Kalau gitu aku naik motor saja ya mas, soalnya nanti mau ada janji sama Anik," tawarku agar tidak membuatnya repot bolak-balik menjemputnya.
"Nanti mas jemput sayang, Hem...!"
Entah beberapa hari ini, berpisah dengan mas Dian serasa berat, dan saat dalam pelukannya rasa enggan melepas sentuhan tangan itu.
Beradu argumen juga bukan skill Lintang, sebab sejak dulu menurut adalah jiwa yang aku miliki asal itu tidak merugikan apalagi menjerumuskan diriku sendiri.
Akhirnya kami pun berangkat bersama menuju rumah ayah dan ibu terlebih dahulu, karena lupa mengambil sesuatu untuk ibu, aku yang hendak kembali lagi masuk kerumah dan mencari bingkisan untuk ibu yang aku lupa menaruhnya.
__ADS_1
Membuat diriku mengurungkan niatku untuk keluar dari mobil mas Dian, ketika mataku kembali mendapati ponsel mas Dian yang kembali bergetar, iya bergetar saja! Mungkin mas Dian mengalihkan mode silent, namun mata hatiku menangkap sesuatu yang janggal dengan nama yang tertera di layar ponsel itu.
"Siska!"
Belum juga sempat aku mendekat dan memastikan dengan benar layar ponsel itu, mas Dian tiba-tiba menyambar benda pipih dari sampingnya, dan ini tentu saja membuat diriku terkejut. Namun sesegera mungkin aku membuang negatif thinking yang sedang melandaku, sebisa mungkin aku harus mampu mengatasi hal yang terasa janggal ini. Akan tetapi rasa heran dan penasaran itu semakin membuatnya menjadi kerdil di depan mas Dian.
"Nama Siska yang tidak asing bagiku, dan sepagi ini sudah menelepon mas Dian, ada apakah? Bukankah mas Dian bilang bahwa Siska sedang dirawat di Singapore, lalu wanita di mobil yang aku lihat kemaren itu adalah Siska dong?"
Sendiri aku bermonolog tentang mas Dian, dan benar tiba-tiba rasa sakit itu muncul di sudut hatinya.
"Mas...!" Aku berusaha menyela agar pandangan mata mas Dian tertuju padaku, namun yang aku dapati justru hanya jari telunjuk mas Dian yang ditautkan pada ujung bibirnya, mengisyaratkan untuk diam dan jangan berisik.
Akhirnya aku keluar dari mobil dan masuk kerumah dengan tujuanku yang pertama, yaitu mengambil bingkisan untuk ibu.
Bayangan tentang diri Siska yang menggelayut di pundak mas Dian saat duduk di samping kemudi, kembali membuatku merasa terkikis oleh rasa yang menghimpit dan sakit.
Setelah kudapatkan apa yang kucari didalam rumah, aku kembali menuju mobil akan tetapi pembicaraan by ponsel mas Dian dengan entah siapa belum juga usai.
Aku terdiam, dan sebenarnya sedikit mencari celah untuk mendengarkan, apa sih sebenarnya yang mereka bicarakan, dengan siapa...? Apakah memang benar dengan Siska...?
"Sayang... Sudah? Yuk!" Tangan mas Dian begitu hangat mengusap pipiku.
Setelah tiba di rumah ibuku, mas Dian tidak turun dulu melainkan langsung berangkat kerumah sakit.
"Lintang, loh... Kok seperti sedang bersedih begitu, kenapa?" Ibu yang tiba-tiba sudah berada di sampingku, dan meneliti wajahku yang sedang menahan air mata agar tidak jatuh, setelah menyaksikan mobil mas Dian berlalu menjauh meninggalkan diriku yang masih mematung didepan rumah.
"Kalian bertengkar? Atau kenapa? Ayo masuk dulu nanti dilihat orang malu!" Ibuku mengandeng tanganku memasuki halaman kecil dan masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Sesaat kembali aku merasa menjadi seorang gadis kecil, dan membutuhkan pelukan seorang ibu ketika mendapati sesuatu telah menimpa kecerobohanku.
"Nggak apa-apa kok Bu, tadi hanya kelilipan saja jadi mata agak sedikit perih," benar-benar dusta yang menggelikan.
Aku langsung menuju dapur dan mencari sesuatu untuk bisa kumakan, dan pucuk di cinta ulam pun tiba. Diatas meja terdapat masakan ibu yang menggoda selera makan, lontong sayur dengan telur rebus plus opor ayam, hmmm sejenak lupa lara yang menyayat hati.
"Loh tumben makan lahap hari ini Lintang, nggak biasanya loh!" Loroh ibu sambil membawa masuk buah mangga yang baru saja beliau dapat dari depan rumah.
"Tadi sudah makan sih Bu, tapi entah buka tudung saji melihat yang harum harum langsung saja pasukan cacing menggeliat, he he he..."
"Ibu... Mangga depan rumah ya? Mau dong...! dilihat dari warnanya menggoda," lagi lagi hanya makanan saja yang setia melintas di benakku.
"Kamu sedang hamil Lintang?"
"Oh... Ah... Belum ibu, masih setia tamu bulanan menghampiri bahkan tiga hari lalu baru saja pergi," jawabku santai dengan terus mengunyah dan menikmati masakan ibu.
"Kamu terlihat gemuk Lintang, ibu yakin kamu sedang hamil, coba cek dulu atau bicara sama nak Dian!"
Deg... Mas Dian!... Ah.... Kenapa lagi-lagi rasa sedih itu menyeruak kembali, ada rasa rindu, benci sekaligus ketika mengingat kejadian tadi pagi.
Nama dan wajah Siska kembali menari pada otak penasaranku, tiba-tiba saja muncul pemikiran untuk menyusul mas Dian ke rumah sakit, tapi.... Ini jelas akan memalukan bila benar-benar terjadi.
"Loh.... Melamun! Kamu kenapa to Lintang? Jangan banyak pikiran mungkin masih belum rejeki, berusaha saja dulu siapa tau segera mendapatkan apa yang kamu inginkan." Ucap ibu yang aku Amin-in dan menerima piring dengan potongan mangga muda yang menggoda selera.
🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️
To be continued 😉
__ADS_1
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘