Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Kuretase


__ADS_3

Suara derap kaki tergesa-gesa, diiringi derit roda brankar dengan erangan antara kesakitan dan tidak rela akan jalan hidup yang jauh melenceng dari harapan.


"Om Ricky ini tidak benar, awas kamu Dona! aku akan membuat perhitungan denganmu, huaawaa ibu... Sakit!" Erang Yessi diantara ceracau nya yang tidak masuk diakal bila ditelaah.


"Ibu... Tenang dulu ya... Maaf kami akan melakukan tindakan kuretase dengan segera, karena pendarahan ini semakin mengkhawatirkan kondisi pasien!" Ucap dokter yang menangani kepada Bu Lestari yang selalu menemani Yessi.


"Dokter, jangan ambil janin ini! Tolong dok, aauucch.... Sakit ibu...!" Suara Yessi kembali mengerang dan menggenggam erat tangan sang Ibu.


Karena kondisi yang mengalami blooding dan sangat membahayakan, akhirnya dokter memberikan anestesi total dan segera melakukan tindakan pada Yessi.


Tinggallah kini Bu Lestari sendiri di ruang tunggu dengan harap-harap cemas.


"Ibu... Bagaimana keadaan Yessi! Sekarang dimana dia?" Iwan yang sudah berada di samping Bu Lestari menanyakan kondisi Yessi.


"Iwan... Maafkan ibu nak! Semua menjadi kacau begini, Yessi harus menjalani kuretase karena pendarahan, Dona! Anak itu benar-benar kurang ajar, tega benar dia berbuat begitu!" Wajah Bu Lestari yang semula sendu tiba-tiba saja berubah merah padam karena amarahnya.


"Kenapa dengan Dona Bu! Apa mereka baru saja bertemu?"


"Lihat ini, sungguh keterlaluan namanya cinta kok ya, mau di bilang apa lagi! Kan antara om Ricky sama Yessi sudah saling cinta, lalu mau gimana lagi! Ya nikahin lah...!" Sungut Bu lestari sambil mengulurkan tangannya ponsel Yessi pada Iwan.


Iwan menerima dan melihat apa yang sudah terjadi pada Yessi, hingga membuat ibunya sepanik dan semarah ini.


"Saya rasa Dona ada benarnya, ibu saja yang kurang baik mendidik Yessi, terlalu memanjakan dan melupakan norma yang seharusnya kaum wanita junjung tinggi, berpisah dari orang yang di cintai itu menyakitkan Bu!" Hati Iwan mencelos nelangsa ketika sendiri mengucapkan kata yang sudah pernah dia lakukan pada Lintang kala itu.


"Loh kamu menyalahkan ibu! Kamu itu harusnya berterimakasih istrimu yang sekarang masih bisa membantu walaupun dalam keadaan sakit, tapi masih fungsi juga dia pada kelangsungan hidupmu," ucap Bu Lestari tanpa merasa berdosa.


"Ibu akan tetap berusaha membujuk Lintang untuk mau kembali ke kamu, wan!" Kembali Bu Lestari berandai-andai berharap sesuatu yang indah.


Wajah Iwan berubah menjadi geram,"cukup ya Bu! Jangan jadikan kami sebagai melampiaskan keinginan ibu, atau ibu saya carikan pendamping saja? Biar tau rasanya bagaimana di permainkan perasaan itu!"


"Mari ikut saya!"

__ADS_1


Iwan tiba-tiba berdiri dan mengandeng tangan Bu Lestari, lalu membawanya menuju lorong dan mencari dimana om Ricky dirawat di rumah sakit yang sama.


"Iwan kamu mau bawa ibu kemana? Kamu jangan kurang ajar sama ibu! Ibu nggak mau kawin lagi, Wan.... Jangan mendurhakai ibu, nanti kualat kamu!"


Iwan yang sudah tidak mampu menahan marah, sikap ibunya yang selalu mengatur dan memasuki kehidupannya, membuatnya semakin tidak menghiraukan keadaan sang ibu yang terlalu egois.


Terpuruknya Yessi juga tidak lepas dari peran Bu Lestari yang selalu memanjakan dan bahkan terlalu melepas kendali terhadap Yessi.


Karena selalu mendapatkan dukungan tanpa penyelidikan dari Bu Lestari, apalagi akhir-akhir ini Iwan sendiri pola kehidupan didalam berkeluarga hanyalah sebagai pelengkap tanpa dia sadari, bergerak lepas pun selalu terbatas dalam lingkup keluarga Rahma.


"Iwan... Ibu mau kamu bawa kemana?"


Tujuan sudah sampai, Iwan memasuki ruangan dimana om Ricky sedang di rawat, suara derit mesin detak jantung menemani om Ricky yang tergeletak tidak berdaya.


"Lihat itu Bu! Itu kan yang diinginkan Yessi anak ibu yang manis itu? Kekayaan yang bagaimana yang ibu harapkan? Mau gaya sosialita dengan cara perlahan-lahan menjerumuskan anak-anak ibu?"


"Iwan...!"


"Ibu, setelah ini masa bodoh dengan Yessi, mau diapakan janinnya atau bagaimana calon ayah dari janinnya, jangan libatkan saya dengan berbagai masalah dia! Satu lagi, jangan usik Lintang."


Walaupun sejujurnya rasa cinta dan penyesalan masih saja menghantui dirinya namun semua ia sadari tidak akan mudah kembali seperti semula lagi.


Iwan pergi melangkah meninggalkan ruangan itu, hidupnya sudah benar-benar hancur dia tidak ingin menambah kehancuran berikutnya lagi.


"Tapi Iwan, tunggu dulu!" Bu Lestari bergegas meninggalkan ruangan dan mengejar langkah Iwan.


"Kamu tidak bisa begitu saja Iwan! Kamu adalah pengganti ayah, tidak mungkinkan kamu begitu saja meninggalkan ibu dan Yessi lalu berat pada Rahma, yang jelas-jelas kamu juga di manfaatkan keluarga mereka!"


Hening.... Lorong rumah sakit itu semakin menyeramkan ketika Bu Lestari menyebut tentang peran pengganti dalam keluarganya sendiri.


"Aaahh... Ayah... Keluarga kita sedang kacau balau, aku harus bagaimana!" Batin Iwan seketika berdialog sendiri.

__ADS_1


"Ibu... Maafkan aku ibu, kali ini aku tidak bisa!" Walaupun dengan berat hati Iwan tetap saja berlalu meninggalkan Bu Lestari sendiri.


Plak....plak.... Suara tepuk tangan yang berasal dari belakang punggung Bu Lestari mengagetkan dirinya, perlahan ia menoleh dan matanya membelalak ketika mengetahui siapa yang datang.


"Hemm bingung ya Tante! Ini belum seberapa loh, bagaimana kalau harta Tante di gerogoti suami Tante dan untuk menghidupi seorang pelakor murahan seperti Yessi itu"!


"Tidak rela kan? Hemm...!"


"Apa maumu? Kamu tau apa tentang kehidupan, bocah ingusan!" Emosi Bu lestari tiba-tiba terpacu dengan kecepatan di atas rata-rata.


"He...he..he bocah ingusan yah, lalu bagaimana dengan Yessi yang bocah ingusan tapi sudah bermain dengan laki orang,"


"Tante gini aja ya, nggak usah debat, percuma bikin malu!"


Dona lalu membawa Bu Lestari duduk di deretan bangku yang tersedia di lorong rumah sakit itu.


"Begini Bu, sebetulnya antara aku dan Yessi sudah tamat, apalagi dengan om Ricky itu, tapi ketahuilah Bu, Sebagai teman dan sekaligus anak tiri dari om Ricky. Sebaiknya nasehati anak ibu, sebelum terlanjur om Ricky tidak mungkin mencukupi kehidupan kalian, sebab om Ricky bukan siapa-siapa saat ini proses perceraian sudah di limpahkan ke pengacara, saya berikan kabar ini karena saya merasa care dengan Yessi. Oh ya keluarga om Ricky sebentar lagi mungkin akan datang, ibu seharusnya minggir jauh jauh sebelum terkena imbas kemarahan mereka, sebab! Saya masih berbaik hati pada Yessi untuk menyimpan rapat rapat rahasia ini, ibu paham kan!"


Dona walaupun marah dalam hati namun dia masih bisa berfikir secara logika, om Ricky butuh pelampiasan, lalu mamanya terlalu sibuk jadi kebutuhan sebagai suami istri seakan terabaikan, sedangkan Yessi salah satunya korban kehidupan mewah yang selalu ia mimpikan, Dona hanya menyimpulkan sebab, bagaimanapun juga dua di antara mereka adalah orang-orang yang pernah dekat pada dirinya, dan pengkhianat pada Mama nya adalah tamparan bagi dirinya. "Permisi!"


"Dona, tunggu! Terimakasih nak, tapi saat ini Yessi membutuhkan biaya untuk pengobatannya sekarang dia keguguran, Dona!" Mata Bu Lestari berkaca kaca.


"Ibu.... lain kali kalau bersandiwara jangan dengan saya, sebab setiap orang mempunyai hati yang berbeda-beda," Dona, melenggang tidak menghiraukan keluhan Bu Lestari lagi.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉


Bu Lestari bener bener ya🤧, keknya kita ikhlas in om Ricky ya Mak 🤭 cari mangsa baru lagi aja 🤣


Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘

__ADS_1


__ADS_2