
Malam ini bukan lagi malam seperti biasanya, setelah beberapa hari terjadi kesibukan membuat Shasy sedikit rewel dan selalu tidak mau jauh dariku, seperti malam ini.
Tiga pria dengan usia berbeda sedang duduk bercengkrama, mereka asyik membicarakan dunianya, tawa mereka terkadang pecah bersama ketika pembicaraan nyambung satu dengan yang lainnya.
Ratih yang sejak tadi masih saja berkutat dengan laptopnya, kulihat sangat sibuk namun tidak jarang juga terlihat wajahnya memancarkan aura kebahagiaan, sedangkan ibu masih saja menemani beberapa sanak famili yang masih nimbrung di ruang tengah.
"Mama... Shasy mau bobo sama mama, Shasy kangen mama!" Sejak sore putriku merajuk dan ada saja alasan untuk tidak mau jauh dariku.
Sedangkan di sisi itu mas Dian menatapku penuh harap dan sesuatu yang seharusnya terjadi namun selalu tertunda.
"Sayang... Masih belum bisa ya? Ini sangat menyiksa sayang, kapan dong...?" Wajah penuh harap itu, memperlihatkan mimiknya yang lucu sehingga membuat diriku semakin merasa bersalah dan tertawa geli pada waktu yang sama.
Namun kesabaran mas Dian memang luar biasa, pria yang penuh kasih sayang dan tanggung jawab. Hanya sebuah ciuman dan pelukan saja yang masih bisa aku berikan sebagai kewajibanku kepada mas Dian sejak resmi menjadi istrinya, semua karena keadaan dan situasi yang selalu tidak bersahabat.
Tok....tok...tok....
"Lintang... Maaf ibu menganggu!" Baru saja aku hendak naik kedalam ranjang dan akan merebahkan diri di antara mas Dian dan Shasy.
"Sayang... Itu suara ibu, buka dulu mungkin butuh bantuan!" Bisik mas Dian sengaja di dekat telingaku hingga membuahkan rasa geli.
Aku bangkit perlahan dan berjalan menuju pintu dan mendapati ibu yang sudah berdiri didepan pintu kamarku.
"Ibu...!"
"Lintang ibu kangen tidur sama Shasy, antar Shasy kekamar ibu ya! Mumpung dia belum terlelap sangat," ibuku menatapku sambil mengelus lenganku dan berlalu menuju kamarnya sendiri.
Rupanya ibuku lebih bijaksana dan memahami keadaan yang kini sedang aku hadapi.
Antara malu dan semangat menghadapi malam pertamaku yang unik ini, dan entah berwarna apa wajah ini yang jelas ruangan dalam rumahku sudah temaram tentu wajahku selamat dari penglihatan ibuku.
__ADS_1
"Mas... Ibu mau tidur sama Shasy, tolong angkat Shasy ya!" Ucapku sambil membawa boneka kesukaan Shasy yang selalu menemani dirinya bila sedang tidur.
Binar mata mas Dian menyiratkan semangat sambil tersenyum penuh kemenangan, sebab dari isyarat yang ibu berikan dengan mengambil alih Shasy bersamanya sudah jelas, kemenangan bagi dirinya.
Sekembalinya mas Dian mengantar Shasy kekamar ibu, mas Dian langsung saja menerjang diriku yang baru saja merapikan tempat tidur lagi.
Pelukan mas Dian yang sudah tidak mampu membendung rasa dan hasrat lagi, "sayang... Kita ambil wudhu dulu dan setelah itu mas ingin meminta kewajiban dari dek Lintang, ayuk!" Tangan itu membimbing ku untuk melangkah mengambil air wudhu dan mensucikan diri terlebih dulu, sebelum menjalankan dua raka'at untuk malam pertama kami.
"Sayang... Malam ini adalah pertama mas akan menjamah mu sebagai istri yang sah, semoga ini semua membawa berkah untuk keluarga baru kita,"
Tatapan mas Dian perlahan meluluhkan rasa malu dan kini menjadi gelora yang sama-sama mengharapkan dan menginginkan.
Perlahan namun pasti tangan mas Dian membuka satu persatu kain yang melekat pada tubuhku, tentu saja panas dingin aku dibuatnya.
"Jangan malu dek tatap mata mas, kita nikmati rasa ini bersama, heemm!" Nafas mas Dian mulai tidak teratur.
Perlahan mas Dian merebahkan tubuhku, ibarat kata aku adalah mangsa yang siap untuk di eksekusi dengan caranya.
Gerakan mas Dian semakin menjalar dan melampaui leher jenjangku, gigitan lembut dengan memberikan sensasi hisa pan sedikit sakit namun itu kenikmatan yang benar-benar aku rasakan dan membuatku perlahan memberikan respons, tanganku meraba dada bidang dengan bulu lembut itu, lalu menuju sebuah benda yang sudah kokoh berdiri dan siap menghujam liang persembunyian yang selama ini ia inginkan.
sementara lidah mas Dian masih asyik men gisap ujung Twins waffle dengan topping biji lunak milikku yang sangat sensitif, dengan lidahnya yang sengaja mengecap rasa mencari sesuatu yang baru saja ia miliki untuk ia nikmati.
Hingga pada akhirnya berhenti pada sebuah gurun yang sedang menanti curahan air sebagai penyejuk kekeringannya. Bukan lagi rasa malu yang kurasakan namun sensasi gelitik lidah mas Dian yang memainkan area tersembunyi itu, dan dengan sengaja menggelitik mengitari lubang yang akan menjadi tempat bersembunyinya belalai gajah Afrika milik mas Dian.
"Dek ini kan, masuk ya? Nikmati sayang, mas akan pelan-pelan,"
Tangan mas Dian membimbing lembut belalai gajah Afrika miliknya menuju liang tempatnya untuk menyimpan dan menyemburkan hasil akhir selama mengolah gerakan intensnya.
"Mas..."
__ADS_1
"Hem... Nikmati sayang!"
Merasa tidak ingin kalah dengan sensasi yang mas Dian berikan, akupun memulai mengimbangi permainan mas Dian yang selalu membuatku merasa hilang kendali.
Peluh dan saliva sudah bukan menjadi penghalang untuk menuju puncak yang selama ini menguras emosi dan imajinasi liar.
Berulang kali aku harus mengerang merasakan puncak kenikmatan. Tubuhku bagaikan gorengan tahu yang di bolak-balik dengan berbagai gerakan, hingga berakhir pada posisi asing bagiku, namun membawa kenikmatan yang luar biasa tubuhku dengan memunggungi posisi mas Dian yang masih juga memacu gerakan pelan lalu menuju kenaikan retensi, dan turun lagi begitu berulang dan berulang lagi hingga....
"Mas..."
"Ya .. nikmati sayang..."
Mas Dian menghentikan gerakannya dan kembali menghujam semakin dalam dan dalam lagi, rasa nikmat dan gatal pada intiku membuat rasa ingin menggelepar dengan lengu han untuk kesekian kalinya, namun masih juga tidak dengan mas Dian yang masih tegak berdiri manggut-manggut.
"Sayang...buka matamu sayang lihat mata mas, jangan pejamkan matamu sayang,"
Kubuka mataku perlahan namun pasti, mas Dian semakin memacu gerakannya, dengan menekan pinggang dan mengerang akhirnya belalai gajah itu menyemburkan dan menumpahkan cairan kehangatannya, tubuhku pun mengejang merespon dengan geliat yang sama. Tubuh mas Dian akhirnya tumbang juga, dan menjatuhkan dirinya disampingku dengan nafas yang masih memacu.
((Maaf pemirsa bila kurang hot tambahin dengan sensasi sendiri ya🤣 saya mentok di adegan ini, ha ha ha))
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
Aktivitas kembali seperti semula lagi, Ratih yang sedang menjalani koas dirumah sakit umum sedangkan Rudi masih harus kembali ke Jogja untuk melanjutkan tugas-tugas akhirnya.
Dokter Dian sendiri juga harus kembali kerumah sakit dengan rutinitasnya, sebagai seorang dokter. Shasy sudah rapi dengan baju seragam sekolahnya, berangkat bersama dengan dokter Dian.
Sedangkan Lintang sendiri kembali fokus pada pekerjaan dan kegiatan mengajar di ruang modiste miliknya.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
__ADS_1
Hhuuuff🤣🤣🤣udah kelar yah 🤭 kalau gitu selanjutnya kita bahas yang lainnya bestie, tetap dukung karya Rhuji dengan komen membangun, like dan sedikit plus-plusnya 🤣
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘