
Sama halnya dengan kejadian yang menimpa dengan Bu Lestari di dalam spa and treatment yang sekarang ia lakukan.
Setelah melakukan treatment dengan segala pelayanan di tempat yang bisa memanjakan kaum hawa tergantung kocek itu, dan yang diinginkan oleh Bu Lestari waktu pun telah usai dan tiba saatnya seorang kasir memberikan bill untuk Bu Lestari, setelah dilihat berapa jumlahnya tentu saja membuat mata Bu Lestari membulat.
"Waduh... kok banyak begini tadi saya melakukan apa saja ya mbak? Apa ini tidak keliru?" lalu sang kasir memberikan perincian yang sudah dilakukan pada pegawai spa and treatment, kalau Bu Lestari sudah meminta melakukan ini itu dan sebagainya.
Dengan harga yang tidak murah Karena bingung akhirnya Bu Lestari duduk di pojokan sambil berusaha menelpon Yessi alih-alih mendapatkan sambutan dari ponsel Yessi, yang hanya mendapat suara jawaban operator, 'Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan, tut...tut.... tut....'
Berulang-ulang menghabiskan waktu hampir 1 jam Bu Lestari tidak menyerah untuk menelepon Yessi keringat dingin pun tentu saja mengucur
Jelas antara malu dan khawatir menghantui Bu Lestari "aah.... ini bagaimana aih..! tidak boleh terjadi dimana sih ini anak kurang ajar mau aja ngerjain orang tua! kenapa hp-nya tidak bisa dihubungi ya! atau jangan-jangan ke mana sih coba aku telepon ke rumah saja,"
Bu Lestari bergumam sendiri lalu menelepon rumah kediamannya dan dan dari seberang mendapatkan jawaban dari Tini.
"Halo selamat siang! rumah kediaman Bu Lestari saya dengan Tini ada yang bisa saya bantu?" Seperti pegawai resepsionis saja si Tini menjawab telepon yang berasal dari Bu Lestari.
"Wah... wah... kamu sudah kayak pekerja di bagian resepsionis saja sih Tini," kali ini ucapan Bu Lestari seperti tidak biasanya yang suka nyolot ataupun selalu nyerocos saja.
"Tini, ibu minta tolong panggilkan mbak Yessi ya! Ini penting!" Perintah Bu Lestari pada Tini.
"Mbak Yessi tidak ada dirumah Bu, kan keluar sama ibu tadi!" Jawab Tini jujur.
"Loh kemana anak itu? Kenapa ibu telpon ponselnya selalu tidak aktif, ah...ya sudah."
Clek...
Panggilan terputus sepihak, membuat Tini bingung dan menatap gagang telepon rumah itu sambil melotot dengan bibir ndower yang sengaja di miringkan.
__ADS_1
"Hello...nyonya besar... Jangan bilang kalian berdua ada masalah di luar ya? Huh.... Bukan masalah eyke juga." Tini menaruh gagang teleponnya dan melenggang langkahnya menuju ruang tengah, dimana dia sedang menyaksikan sinetron kesukaannya.
Bu Lestari jelas semakin panik di buatnya, bukan masalah ia tidak bisa pulang, tetapi masalah dengan pembayaran bill yang harus dia lunasi, sedangkan uang yang dia bawa pun tidak sampai separuh dari nominal yang harus ia lunasi.
"Bagaimana Bu?" Tanya kasir itu ketika mengetahui kondisi Bu Lestari yang seperti kebingungan.
"Sabar menunggu bisa tidak, saya kan masih berusaha menelepon anak saya, tidak mungkin saya akan kabur mantu saya saja seorang bule kaya, mana mungkin uang segitu saja aku akan bawa kabur, ishh.... Bikin geram saja!" Bu Lestari benar-benar dibikin sewot sendiri, buntu sudah jalan pikirannya.
"Atau aku telpon Iwan saja yah, semoga bisa saja dia membantuku."
Bu Lestari mencari nomor Iwan dan melakukan panggilan telepon padanya, "hallo iya Bu, ada apa ya... Maaf mas Iwan sedang berada di luar kota, mungkin sore dia akan kembali, ini ponselnya tertinggal di rumah," jawaban dari seberang adalah suara dari Rahma.
"Oh... Ya sudah tidak apa-apa, ibu hanya mau menanyakan kabar kalian saja, kapan menjenguk Ibu! apa kalian tidak kangen sama Ibu sudah hampir 1 bulan loh kalian nggak pulang!" Sandiwara Bu Lestari berhasil mengalihkan pembicaraan yang sudah ia rencanakan semula.
"Tenang saja Bu kita juga kangen sama Ibu, cuman saat ini Mas Iwan sedang sibuk dan kita sedang disibukkan dengan anak kita yang masih aktif-aktifnya jadi butuh perhatian dari saya dan mas Iwan," jawaban Rahma benar-benar membungkam rencana Bu Lestari untuk minta uang padanya.
Disaat sudah putus asa tiba-tiba muncullah Lintang dengan Icha dari dalam, dengan masing-masing menentang bag paper, tentu saja itu adalah produk kecantikan untuk perawatan mereka, sudah di pastikan harganya pun akan merogoh kocek agak dalam.
"Loh ibu? Belum pulang? Bukanya sudah dari tadi selesai, atau nunggu jemputan?" Icha dengan luwesnya menyapa Bu Lestari, walaupun menyebalkan baginya, tapi bagaimanapun juga dia adalah orang tua, dan patut untuk dihargai.
Sedangkan Lintang menuju kasir dan membayar seluruh bill dan dipotong dengan voucher yang mereka dapatkan dari dokter Dian dan Icha yang memang mereka sudah menjadi customer tetap di spa and treatment ini.
"Begini loh nak Icha, Ibu kesulitan membayar seluruh bill, sebab ibu tidak membawa uang cash, sedangkan Yessi ibu telpon tidak nyambung dari tadi," Bu Lestari mau tidak mau menjadi jujur dihadapan mereka, dan berharap akan mendapatkan bantuan dari mereka.
"Berapa tagihan treatment ibu, coba Icha lihat?" Icha yang memang pada dasarnya wanita supel dan mudah bergaul, jadi merasa baik-baik saja dekat dengan Bu Lestari.
"Tiga juta, tujuh ratus ribu nak!"
__ADS_1
Nominal yang tidak sedikit untuk sebuah treatment bagi seorang Bu Lestari tentunya, apalagi uang yang dia gunakan juga masih menunggu dari pemberian Yessi dari hasil morotin Darius, namun harapan kini hanya tinggal harapan.
Lintang berjalan mendekat dan mengajak Icha segera pulang, karena perutnya yang sudah merasa lapar menginginkan asupan makanan yang ia mimpikan sejak tadi melakukan facial wash.
"Icha yuk..! Aku sudah lapar!" Bisiknya pelan pada Icha agar tidak terdengar oleh siapapun.
"Lintang, bantu bayar bill ibu ya, nanti ibu akan segera kasih balik setelah Yessi pulang, ponsel dia susah di hubungi!" Bu Lestari kali ini benar-benar menjatuhkan harga dirinya di hadapan Lintang dan Icha, tangannya yang dingin meremas lengan Lintang.
Lintang dan Icha saling pandang, dan menggelengkan kepalanya pelan, "Ibu ada uang berapa? Sebab saya juga tidak punya uang dengan nominal sebanyak itu,"
Lintang yang sudah mengetahui seluk beluk permainan mantan ibu mertuanya itu jelas ia harus tetap pasang badan dan waspada.
"Baik Bu berikan uang itu padaku, saya akan melunasi sisanya tapi ingat! Ibu tetap harus mengembalikan, sebab saya juga membutuhkan uang untuk modal dan gaji beberapa karyawan," Lintang menuju kasir dan melunasi tagihan Bu Lestari.
Transaksi pelunasan sudah usai, Lintang kemudian pamit menggandeng tangan Icha keluar dari ruangan yang begitu luas dan nyaman.
🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️
"Huh belagu kamu Lintang, awas ya... Kamu pasti menyesal!" Rupanya Bu Lestari masih saja tidak bisa menerima kenyataan yang benar-benar telah membelenggu dirinya dan nasib Yessi yang sudah berada di ujung kesengsaraannya.
Tapi ya sudahlah.... Watak manusia memang sudah di mengerti, banyak juga sih yang di kasih iga bakar malah minta buntut goreng 😂
🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️
To be continued 😉
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘
__ADS_1