Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Malam Special


__ADS_3

Guyuran air hangat itu memberikan kesegaran tersendiri setelah pertarungan sengit antara aku dan mas Dian.


Walaupun kakiku berjalan dengan sedikit gemetar, aku berjalan pelan menuju meja rias yang sudah tersedia dengan sebuah bingkisan besar, yang ternyata berisikan gaun malam yang indah dengan sepatu high heels dengan warna sepadan.


Mataku berbinar saat menyaksikan, sekaligus terharu dengan semua kejutan yang sudah mas Dian berikan padaku Hari ini.


"Kenapa hemm... Cepat ganti baju sayang, atau masih kurang lagi? Mas masih kuat kok berapa kalipun masih bisa melayani," kerling mata mas Dian membuat diriku menggidik geli atas kemesumannya yang tersembunyi rapat itu.


"Sudah jangan nakal lagi, Shasy nanti menunggu sayang kita segera pulang yuk!" Pintaku sedikit merajuk, memang sejujurnya aku kepikiran Shasy akan mencari dan mempertanyakan keberadaanku.


"Malam ini khusus untuk kita sayang, Shasy bersama ibu dan ayah. Mas sudah pamit pada beliau lagipula Shasy sudah pesan adik tuh! Jadi kita mau pulang kapan saja bebas, kain juga sudah sampai di rumah tadi sopir sudah menukar mobilnya, tuh!" Ucap mas Dian sambil memberikan tau kunci mobil yang berada diatas nakas sudah berubah bentuk saja.


"Lah kapan dia datang mas, dan ini bingkisan kapan juga sampai disini sayang!" Tanyaku terheran-heran sambil menatap mas Dian penuh selidik.


"Bagaimana dek Lintang mau tau ada orang masuk! Kan sedang sibuk meladeni mas tadi, kan?"


"Aahhh....sakit sayang!" Pekik mas Dian ketika cubitanku mendarat pada pinggangnya.


Mas Dian membalas dengan ciuman hangatnya sambil melingkarkan tangannya pada leherku yang dalam posisi duduk di sofa bed.


Dengan telaten mas Dian membantu mengeringkan rambutku dengan hair dryer, sambil sesekali tangannya masih saja usil.


"Sayang kita turun dan makan malam, ini sudah pukul 7 kamu luar biasa, makan siang kita berubah hidangan dengan makan Twins muffin suguhan dek Lintang yang luar biasa itu, membuat lupa makan dech.."


Malu rasanya mendengar ucapan mas Dian yang selalu berkata mengarah ke adegan mesum yang ia lakukan padaku.


Aku berdandan sepantas mungkin dengan mengenakan gaun yang pas melekat pada tubuhku, mas Dian pun terlihat semakin cakep dan gagah dengan setelan yang ia kenakan untuk makan malam yang tidak resmi namun sangat special ini bagiku.


Menuju rooftop mas Dian membimbing langkahku dengan tetap memeluk pinggangku, dan debar aneh dalam hatiku yang selalu menghadirkan kupu-kupu dengan bunga-bunga kecil bagaikan bertaburan dan berebut mengambil tempat posisi masing-masing.


Keluar dari lift disambut dengan alunan musik dari sekelompok mini orkestra, yang selalu hadir di cafe rooftop hatel ini. Mas Dian menggandeng tanganku dengan lembut, dan mempersilahkan duduk padaku, "sayang kamu cantik malam ini, makan yang bagus sayang, bisa saja malam ini kita membutuhkan energi dan nutrisi yang baik untuk melanjutkannya pertarungan yang belum usai ini,"


"Ahh... Sayang! masih kurang saja ya! Sudah klenger juga loh!" Mataku sedikit melotot mengarah padanya, walaupun sejujurnya aku sangat menyukai gaya dan cara dia memberikan kebahagiaan ini padaku.


Wanita manapun tentu tidak akan menolak, ajakan ranjang yang begitu liar namun tetap safety dan memberikan kebutuhan masing-masing, mengerti posisi pasangan dengan harapan menuju puncak bersama.

__ADS_1


Kami menikmati hidangan malam dengan mata saling menatap, tersenyum dan kebahagiaan yang sulit terucapkan.


"Sayang... Minggu depan kita akan mengunjungi rumah yang kelak akan kita tempati bersama, tinggal mengecat saja dek Lintang yang memilih warnanya ya! Untuk semua interiornya mas sudah yakin dek Lintang akan menyukai pilihan mas," aku berhenti mengunyah makanan dan mataku menatap membulat kearah mas Dian.


"Rumah baru? Dimana mas?"


"Tidak jauh dari rumah ayah sayang, kita tetap bisa sewaktu-waktu berkunjung toh tempat usaha dek Lintang masih di tempat ayah kan setiap hari bisa bertemu juga?" Mas Dian mengulurkan potongan steak untukku, dan aku membuka mulutku menerima suapan itu.


"Shasy anak kita juga tetap sekolah di tempat yang sama, dan tidak akan berubah, jadi semua tidak perlu khawatir, sayang!"


Perbincangan seputar kami seolah tidak ada habisnya, kata-kata mas Dian selalu saja membuatku merasa bahagia.


Sebab, segala sesuatu akan masa depan rumah tanggaku dengannya dia selalu terbuka dan sangat jujur.


Malam ini benar-benar malam kencan dengan suami yang indah buatku, aku bahkan tertawa lepas dan berada didalam pelukannya tanpa ada sedikit rasa canggung lagi.


Alunan musik akustik terdengar merdu, yang dinyanyikan oleh sekumpulan anak band yang sudah kontrak dengan cafe memaksa mulutku untuk ikut menyanyikan lagu itu walaupun lirih, namun jelas terdengar.


"Sayang, mau menyanyikan sebuah lagu? Heemmm suara dek Lintang enak loh!"


"Tidak mas! Aku malu," jawabku tentu saja spontan sebab sekalipun aku tidak terbiasa berada dilingkup orang-orang yang asing bagiku, jadi semua akan merasa canggung.


"Bayangkan bila harimu penuh warna


Itulah yang saat ini kurasakan


Dia membuat tidurku tak nyenyak


Dia membuat makan pun tak enak


Ku terpikat pada kehangatan


Yang s'lalu dia berikan


Kurasa ku sedang dimabuk cinta

__ADS_1


Nikmatnya, kini ku dimabuk cinta


Dimabuk cinta


Bayangkan bila harimu penuh warna


Itulah yang saat ini kurasakan


Dia membuat tidurku tak nyenyak


Dia membuat makan pun tak enak


Ku terpikat pada kehangatan


Yang s'lalu dia berikan....."


Musik akustik itu mengiringi suara merdu mas Dian, jelas aku merasa lagu itu hanya untukku, bibirku tersenyum melihat suguhan yang penuh keindahan ini.


Beberapa saat kemudian tiba sudah waktunya kami untuk kembali ke kamar hotel, sudah tentu kami akan menghabiskan waktu yang indah kembali, dan itu tidak aku pungkiri akupun sangat menikmatinya.


Mataku menangkap sosok yang lama sangat aku kenal dengan seseorang yang baru saja bertemu, penampilan mereka sangat berbeda bahkan hampir saja aku sulit mengenali pria yang bersamanya itu.


Awal bertemu dia tidak ubahnya bagaikan sosok childish, bahkan tidak malu hanya untuk bergelayut manja di depan umum, namun kini pria itu berpenampilan sangat jauh berbeda, lebih matang berwibawa dan cakep. Ya.... Dia pria yang mapan kalau dilihat dari segi penampilannya.


"Dek ada apa? Kok seperti melihat hantu saja?" Mas Dian rupanya juga mengamati apa yang sedang aku perhatikan.


"Oh... Eh.. anu mas, itu loh!" Tanganku sedikit menundukkan jariku, mengarah kepada sepasang anak manusia yang seperti sedang di mabuk asmara itu.


"Kita kan lebih mesra dari dia dek, mau apalagi hemm?" Bukannya menjawab mas Dian malah berbalik bertanya sambil mengeringkan matanya nakal padaku.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉


nah loh, dunia tak selebar daun kelor kan 🤭, dimanapun tetap aja ketemu orang yang aneh sih.

__ADS_1


siapa dia? yuk simak lagi kelanjutan Lintang, Jandaku i love you 😘


Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR


__ADS_2