Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Tamu Tidak Diundang


__ADS_3

'Assalamualaikum.....'


Suara salam membuatku berhenti, lalu menoleh mataku terbelalak saat mengetahui siapa yang bertamu, ayah dan ibu yang entah dari mana beliau datang, dan tiba-tiba sudah berada di belakangku seolah-olah akan terjadi pertempuran sengit lalu beliau bersiap untuk menjadi tamengku, untuk melindungi diriku.


Lidahku serasa kelu, mau bicara apa! Baru juga aku menertawakan kehidupannya kini Yessi bersama ibunya mas Iwan telah berdiri dihadapan ku, bahkan Yessi tidak segan-segan memeluk diriku. Ini yang pertama kalinya dan aku sungguh merasa ada sesuatu atas kedatangan mereka.


"Assalamualaikum bapak ibu dan mbak Lintang, kami tamu datang baik-baik masa nggak di persilahkan masuk atau duduk setidaknya," ucap Yessi mengulangi salamnya sambil nyelonong meraih tangan ku, setelah melepaskan pelukannya dan berjabat tangan layaknya tamu


Mau tidak mau kami menerima uluran tangan itu lalu mempersilahkan mereka duduk, di ruang tamu.


"Waalaikumsalam..."


"Yessi... ka... Kamu! "


"Iya mbak ini aku, dengan ibu sengaja datang kesini untuk meminta maaf dan mohon sesuatu sama mbak Lintang, untuk bekerja sama gitu loh mbak!" Ucap Yessi dengan ekspresi seperti tidak pernah terjadi apapun antara dia dan aku.


"Lo...Lo.... Datang lagi ya? Kalau mau bertamu baik-baik silahkan masuk, tapi kalau hanya untuk mencari keributan, mending jangan kerumah saya!" Ibuku yang pada dasarnya sudah tidak suka dengan mantan ibu mertuaku dan Yessi, kini semakin tidak terkontrol ucapannya.


"Ibu... Sudah Bu!"


"Mari silakan masuk, maaf!" Ucap ayahku dengan gerakan tangannya mempersilahkan mereka masuk dan duduk diruang tamu.


"Lintang coba hubungi nak Icha agar menahan Shasy untuk tidak pulang dulu, kalau melihat ibunya Iwan nanti yang ada malah kehebohan lagi!" Ibuku tetap saja tidak welcome dengan kehadiran mereka, tapi ucapan ibuku ada benarnya juga.


Kuraih ponselku dan ku tuliskan pesan untuk Icha yang sedang membawa Shasy les berenang.


Memang benar kata ibuku, mencegah sesuatu yang bisa saja terjadi, lebih baik daripada terjadi kehebohan lagi.

__ADS_1


Ku lihat Yessi duduk dengan santai sedangkan mantan mertuaku sepertinya ada sebuah keraguan yang dia simpan.


"Maaf ibu sama nak Yessi, ada keperluan apa kok tidak biasanya datang ke rumah kami?" Ayahku lebih bisa mengontrol emosi dan mulai membuka suara walaupun memang terkesan basa-basi.


"Oh gini loh pak, saya akan akan menikah dengan orang kaya, yaaa walaupun sudah tua tapi dia bisa mencukupi hidup saya,"


Kulirik ayahku yang menggelengkan kepalanya sambil tersenyum maklum.


"Ohhh mau ngasih undangan! Gitu ya Yess!"


"Bukan mbak, pernikahan ku akan diselenggarakan di gedung tertutup kok, mbak! Soalnya kan pasti mahal biayanya, itu hanya perkiraan kok heheheh... Nantilah kalau ada sisa tempat duduk saya suruh, sopir untuk menjemput kalian jadi nggak perlu naik sepeda motor!"


Ya ampun... Ayahku sampai mengepalkan tangannya hingga jari-jarinya memutih, ucapan Yessi benar-benar penghinaan. Tapi saat kulihat wajah ayah dan ibu, mereka seperti memberikan isyarat padaku, agar tetap membiarkan mereka menuntaskan maksud kedatangannya.


"Lalu apa hubungannya dengan kami? Menurutku tidak ada yang special buat kami Yessi," aku juga begitu saja menjawab kata-kata Yessi, karena jujur saja jelas pernyataan yang membingungkan.


"I...iya Lintang, Yessi sebenarnya mau menawarkan bisnisnya yang akan ia geluti bersama dengan calon suami dia sebagai distributor minyak wangi, disamping kamu sebagai perancang baju kamu juga bisa mendapatkan penghasilan dari minyak wangi,"


"Kan cocok, dengan bisnismu sebagai sampingnya,"


"Lalu dengan adanya bisnis itu bisa saja nanti kalian berdua siapa tau menjadi kebiasaan yang bagus, dan bisa mendorong kalian untuk kembali rujuk, karena...."


"Karena mbak Rahma sedang sakit dan tidak bisa memberi keturunan lagi, lalu putranya masih kritis... Begitu kan Bu?" Sela ku memotong alasan ibu mas Iwan yang berbelit-belit, gemes!! rupanya mereka masih saja mengunakan ilmu licik untuk memperdaya diriku.


"Ibu, saya tidak bisa, maaf untuk rujuk kembali dengan mas iwan saya tidak bisa, tapi kalau untuk tetap menjaga silaturahmi silahkan Bu! Karena bagaimanapun juga mas Iwan adalah ayah dari Shasy, ibu paham kan?" Suaraku sedikit memberikan penekanan agar mereka tidak mengulangi ucapannya lagi.


"Mbak Lintang nggak usah belagu dehh! Usaha menjahit juga nggak begitu menjanjikan, baju di mall lebih branded dan tinggal comot saja tidak perlu mau pake baju baru saja nunggu pakai lama," Yessi tanpa segan masih juga berbicara dengan nada bersungut-sungut.

__ADS_1


"Yessi, kamu tau apa dengan jalan hidupku, sebaiknya kalian tidak usah mimpi agar kami rujuk lagi, itu mustahil!" Aku berdiri dari tempat duduk ku, ingin rasanya aku mengusir mereka, kalau saja ayahku tidak melarang ku dan tetap saya menghormati kedatangan mereka sebagai tamu.


"Gini loh mbak... ya ampun susah ngomong sama mbak Lintang yah... Calon suamiku yang kaya itu akan memberikan keuntungan lumayan loh mbak! Lumayan bisa buat beli mobil tanpa harus kepanasan lagi naik motor bila mau ke mall, hemmm!"


Bibir Yessi terlihat membusa ketika berbicara penuh dengan semangatnya, "sebentar lagi aku akan menikah sama dia mbak, aku sudah hamil anak dia, jadi peluang untuk menjadi wanita kaya pada usia 24 tahun adalah besar untukku mbak!"


"Ya ampun Yessi, selamat ya... Tapi sepertinya aku tetap nggak bisa loh ikut kerja sama seperti yang kamu rencanakan itu, sebaiknya cari saja yang lain, atau ibu saja kamu berikan kesibukan positif daripada menganggur, kan?" Ucapku sedikit latah mengikuti gaya bicara Yessi yang benar-benar bikin risih saja.


"Yessi kita pulang saja yuk! Biar Lintang sendiri berfikir, ibu gerah ayok...!"


Ayahku sedikit banyak sudah tau tentang kedatangan mereka, semakin dibuat geli sendiri oleh ulah ibu dan anak, tiba-tiba datang menawarkan dan tiba-tiba juga menjatuhkannya tuan rumah.


"Ho oh... Iya sih ya pak, buk... Kita pamit saja nanti mbak Lintang biar kasih jawaban pada saya, peluang bagus jangan disia-siakan dong...!"


Ibu mas Iwan terlebih dahulu berdiri lalu mengulurkan tangannya untuk ayah dan ibu, disusul Yessi yang sedikit ragu-ragu.


"Eemmm mbak! Minta mangganya dong! Mangga ini kalau beli mahal loh, aku kan lagi ngidam mbak lumayan nggak usah beli, he he he!" Tanpa malu-malu Yessi memungut mangga yang jatuh di tanah beberapa biji karena belum sempat aku ambil setelah tadi memetiknya dengan gala.


"Lah ini saya kalau mau jual juga bisa bikin kaya loh Bu! Tapi sayangnya saya nggak bakat jual mangga sih," suara ibuku tiba-tiba meletus begitu saja, membuat ayahku tertawa lepas.


Ya ampun mimpi apa semalam, bisa-bisanya siang ini kami sekeluarga dapat hiburan yang menggemaskan dari mantan adik ipar dan ibu mertua.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


dih calon wanita terkaya pemirsa 🤣🤣, yang sabar ya Mak 🤭 semua proses. like komen plus anu ajah 🤭 yukkk


Salam Sayang Selalu Sehat Always dan Sejahtera by RR 😘

__ADS_1


__ADS_2