Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Kemarahan Iwan


__ADS_3

POV Iwan dan Bu Lestari


Raut muka Iwan bagaikan tersengat bara api ketika sendiri mendengar kata-kata Bu Lestari tentang utang-piutang yang sudah dilakukannya dengan Lintang, bahkan dengan orang tuanya juga.


"Ibu kita pulang bicara baik-baik di rumah!" Tangan Iwan menyeret Bu Lestari dengan kasar, menuju parkiran mobil di pelataran rumah sakit.


"Iwan kamu jangan begini dong, semua ini Ibu lakukan dengan sengaja karena banyak faktor dan untuk kenyamanan kalian juga kan?"


"Apa maksud ibu dengan kenyamanan? Bikin malu dengan sibuk pinjam uang dan menghitung kekayaan orang? huh ... Ini yang namanya kenyamanan?" Mata Iwan menatap nanar ke arah jalanan beraspal yang padat merayap pada jam-jam istirahat begini.


"Rasa malu ibu ke mana, oh... Ibu benar-benar menghancurkan reputasi keluarga kita,"


"Iwan... Hari gini kamu bahas tentang reputasi? Itu tidak penting yang penting sekarang itu adalah, bagaimana kita bisa hidup nyaman dan mendapatkannya dengan mudah!" Bu lestari juga tidak kalah geram dengan pernyataan Iwan.


"Buat apa ibu pinjam uang ke Lintang? Segera kembalikan! Ibu benar-benar memalukan!"


"Ya ketahuilah Iwan! Hidup sekarang harus lebih mapan, dan semua membutuhkan uang, penampilan juga harus sesuai dengan gaya hidup yang dibutuhkan, itu sebagian penunjang kelancarannya,"


"Ibu sudah tua, kamu hidup dengan istrimu yang sudah tidak bisa diandalkan lagi, di rumah hanya ada Yessi satu-satunya harapan ibu, sekarang dia bilang sedang kerja di sebuah perusahaan bonafit yang sedang berkembang, dan dia membutuhkan modal untuk dirinya sendiri agar bisa dekat dengan CEO-nya yang orang bule tuh!"


"Yessi membutuhkan uang tidak sedikit Iwan, penampilan dirinya juga harus diperhatikan agar bisa menggaet laki-laki itu, maka dari itu dia harus total di ,make over," dengus Bu Lestari mengakhiri pembicaraannya yang panjang lebar untuk memberikan penjelasan kepada Iwan, tentang rencananya kedepan.


Iwan terdiam mendengar ucapan ibunya. Ingin rasanya Iwan pergi jauh meninggalkan semua. Iwan sadar ibunya sudah sulit untuk belajar menerima keadaan keluarga mereka.


Obsesi ingin hidup kaya dan nyaman pun sudah merasuk dalam benak Yessi. Dia tak ingin terpuruk seperti abangnya. Dalam bayangannya, bila berhasil menaklukkan sang CEO, dia akan tinggal di rumah mewah, naik-turun mobil mewah, tas dan pakaian branded akan melekat di tubuhnya.


Yessi yang sudah tahu bahwa incarannya sudah punya anak dan isteri. Andai ia bisa merebutnya, Yessi akan menjadi ratu. Untuk melancarkan misinya, hanya dengan meminjam modal mempercantik diri dari Lintang. Toh, Lintang mantan kakak iparnya yang bodoh itu sudah sukses dengan memiliki modiste yang tak pernah sepi dari pesanan.


Sampai juga Iwan mengendarai mobilnya dengan perasaan kesal dan menahan amarah pada ibunya, bagaimanapun juga Iwan tetap menghargai Bu Lestari sebagai orangtuanya.


Yessi segera menyongsong kedatangan Ibu dan Abang satu-satunya itu.

__ADS_1


"Bu, bagaimana hasilnya? Sudah dapatkah pinjam ke Lintang? Aku harus beli high heels yang bagus, dan baju branded yang sedang ada diskon 50%," tanya Yessi.


"Kamu itu Yess, gak sabaran banget? Ini ibu baru dapat setengahnya. Nanti Lintang akan ibu telpon lagi. Pokoknya kamu harus tampil cantik paripurna, agar Bosmu klepek-klepek melihatmu."


Yessi yang pada dasarnya berotak bebal dan malas mikir, merasa yakin mantan kakak iparnya itu bakal menggenapi kebutuhannya, pikir Yessi sambil menghitung berapa modal yang dibutuhkan untuk tampil beda.


Bu Lestari kecewa berat dengan sikapnya Iwan. Tak disangkanya putra kebanggaannya jadi lembek, dan sepertinya tak rela ibunya berhutang kepada mantan menantunya. Bu Lestari berpikir, apa salahnya minta kepada ibu dari cucunya. Wajar kan, Lintang itu punya kewajiban membantu walau hanya sebatas memberi pinjaman. Kini tinggal satu harapannya yaitu Yessi harus cantik cetar membahana agar dapat menggaet sang CEO.


"Yessi... Kamu benar-benar keterlaluan! Belum kapok juga dengan kejadian yang pernah menimpamu dengan om ricky, kamu bisa nggak sih berpikir sedikit cerdas, hah!"


"Dimana harga dirimu sebagai wanita, kamu tidak beda dengan wanita murahan!" Iwan bahkan seperti orang hilang kendali dengan berteriak sekuat mungkin.


"Mas.... Kamu kenapa sih! Memang mas pernah kasih modal buatku? Nggak kan! So... Diam sajalah...! Ini duniaku mas, hidup ini susah jangan dibikin makin ribet dengan tetap mempertahankan nilai harga diri, persetan dengan semua omonganmu, mas!"


Plak...plak...


"Aaahh..... Ibuu.. tolong!" Jerit Yessi setelah sesaat terjadi keheningan di ruang tamu, tempat ajang adu mulut.


"Iwaan.... Apa yang kamu lakukan? Dia adikmu bukan tandinganmu, lepaskan tanganmu atau akan terjadi kasus kekerasan dalam rumah tangga!" Teriak Bu lestari tidak kalah hebohnya ketika melihat tangan Iwan mencengkeram leher Yessi.


Braakk...


Sengit Iwan sambil berdiri dan menendang kursi yang ada didepannya.


Bu Lestari dan Yessi yang menyaksikan amarah Iwan, hanya berani berdiri di pojokan sambil saling berangkulan satu sama lain.


"Ingat! Aku sudah mengingatkan ya Bu, bila terjadi sesuatu pada diri Yessi! Jangan pernah sekalipun mencari ataupun menghubungi saya, sebab saya akan menikmati dan menjalani kehidupan yang wajar dengan keluargaku sendiri!"


Iwan bergegas keluar rumah dengan membawa sejuta kemarahan dan kekecewaan pada ibu dan adik perempuan satu-satunya.


POV end.

__ADS_1


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


Pelan-pelan ku cerna ucapan mas Dian cinta tidak akan bisa sejalan tanpa adanya rasa, begitupun juga sebaliknya!


Kali ini mas Dian membawaku masuk kedalam ruang ICU, dengan memakai baju khusus untuk masuk keruangan steril itu.


Bunyi mesin monitor yang


digunakan untuk memonitor kinerja organ tubuh, misalnya detak jantung, kadar oksigen dalam darah, atau tekanan darah.


Serta ventilator sebuah slang untuk membantu alat pernafasan Siska. Mata itu terpejam rapat, masih terlihat gurat wajah cantik walaupun pucat pasi.


"Kalaupun dia tau kamu disini, mas yakin Siska akan senang. Bicaralah dia hanya lemah tapi untuk mendengarkan pembicaraan kita, mas rasa dia mampu merespon dengan baik,"


Ku tatap mas Dian dengan tatapan tidak yakin, namun senyum itu kembali memberikan kekuatan pada diriku untuk mendekat pada Siska.


"Mbak Siska, ini aku Lintang... Bersabarlah, sakit adalah cara Tuhan untuk menghapus dosa-dosamu. Sebentar lagi kamu pasti akan segera sembuh. Mbak... Setiap penyakit pasti ada obatnya. Jadi, tetaplah berpikir positif agar kamu lebih cepat pulih,"


Kugenggam tangan Siska dengan rasa yang hangat terasa.


"Bersabarlah dan jangan sedikit pun berpikir untuk menyerah, karena kamu pasti bisa melawan penyakit itu. Aku tahu kamu pasti bisa melalui semua ini! Sakit ini bukanlah penghalang bagimu, mungkin hanya ujian kecil saja. Jadi, kamu harus selalu tetap percaya dan berpikir positif agar bisa lekas pulih."


Pelan namun jelas aku rasakan Siska membalas genggaman tanganku. Mata yang semula tertutup itu perlahan terbuka, menatap langit-langit ruang ICU.


"Siska, lihatlah Lintang ada disini dia telah memaafkan dirimu, tanpa dendam dan tanpa amarah yang masih tersisa, segera sembuh kamu harus menepati janjimu untuk menghadiri pernikahanku dengan Lintang!" Mas Dian meraih sisi kiri tangan Siska lalu memberikan kecupan pada punggung tangan lemah itu.


Mata Siska perlahan menatapku dengan senyuman tipisnya, walaupun terlihat pucat namun senyum itu nyata sebuah ketulusan.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉

__ADS_1


semoga Siska benar benar insaf dan merenungi kesalahannya, dan segera diberi kesembuhan serta kesempatan untuk melihat pernikahan mas Dian dan Lintang, walaupun tipis harapannya, semangat pokoke.


Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘


__ADS_2