
Aku semakin tercengang dengan pernyataan Siska yang begitu mengejutkan diriku, "maaf, apakah ini sifat anda? Kita belum begitu jauh mengenal satu sama lain, dan mas Dian bukan sebuah benda yang begitu saja akan kita perebutkan, kalau aku sebenarnya secara jujur dengan naluri paling dalam, aku sangat dan sangat mencintai Mas Dian, aku bahkan untuk hidup bersanding dengannya sangat menjadi harapan terakhirku, dan aku menikmatinya," aku tau dan aku merasakan kata-kata Siska adalah mencari celah untuk mendapatkan simpatik mas Dian kembali.
"Kamu masih muda, Lintang lebih baik kamu mencari laki-laki selain Dian, karena aku tau dia sangat mencintai diriku, takutnya kelak Dian akan mengabaikan dirimu, apalagi dandananmu tidak selevel dia sebagai Dokter spesialis yang pernah mencintai seorang wanita yang sepadan dengannya," kata-katanya sungguh menghujam perasaan ku.
"Apakah jiwa seorang wanita yang lemah lembut akan begitu saja meninggalkan cinta pertama, lalu kembali lagi setelah merasa kembali membutuhkan! Mbak Siska tentunya bisa berkaca lebih jauh, mbak Siska yang meninggalkan lalu kenapa sekarang mbak Siska mengharapkan lagi?"
"Oh ya mbak, bagi saya semua tergantung dengan mas Dian sendiri, dia yang meminta aku sebagai pendampingnya, walaupun tidak di pungkiri aku juga sangat mencintai mas Dian, tapi setidaknya aku bukan perebut pasangan orang," aku merasa geram dengan ucapan Siska yang begitu menyakitkan.
Dering ponsel ku berbunyi bertalu-talu dan segera ku raih tertera nama ayah, sudah kupastikan ayah dan ibuku pasti cemas dengan kepulangan ku yang terlambat ini.
"Mama.... Shasy nunggu mama kok nggak pulang-pulang, shasy kangen Mama," suara cempreng putriku membuat kelegaan tersendiri dalam jiwaku yang sedang meronta menghadapi situasi yang tiba-tiba ini.
"Sayang... Mama sebentar lagi pulang, nanti mama bawain buku cerita yang bagus deh, oke! Sabar ya sayang hhm," putriku tidak biasanya menelepon dengan nada merengek begini, membuatku lupa dengan siapa aku duduk bersebelahan.
Mas Dian tiba-tiba juga sudah duduk di sampingku, dengan mata Siska yang memandang tercengang posisi yang tidak dia inginkan tentunya.
"Pasti dari Shasy kan dek? Oke sebentar lagi kita pulang, mas antar kerumah!" Mas Dian berkata sambil mendekatkan suaranya di dekat telingaku. Desir suara dengan helaan nafasnya membuat darahku seolah mendesir tidak seperti biasanya, bahkan kerling mata mas Dian benar-benar seperti seseorang yang sedang kasmaran saja, atau hanya sekedar membuat Siska marah dan pergi dari kami, ah.... Entahlah!!
"Oh.... Lintang ini janda ya! Hheemmm Dian.... Kamu Harusnya lebih bijaksana padaku, akupun juga janda, lalu apa bedanya?" Siska mendekat dan meraih lengan mas Dian lalu menyadarkan kepalanya di sebelah sisi tempat aku dan mas Dian bersandingan.
"Siska! Sebaiknya kamu pulang, dan jangan pernah mencari ku lagi, antara kita sudah selesai dan kamu tidak mempunyai pilihan apapun dariku," mas Dian sedikit mendorong tubuh Siska.
"Iya benar Lintang janda dengan anak satu, tapi setidaknya dia lebih terhormat dan benar pada langkahnya, dan aku sangat mencintanya serta menghargainya sebagai pendamping ku kelak,"
"Dek kita pulang, ayok!"
Mas Dian menarik tanganku dan melangkah, menjauh beberapa jengkal namun tiba-tiba sebuah jeritan, dan suara barang terjatuh di lantai.
"Dian... Please beri aku sedikit waktu bersamamu, Dian aku ingin bersamamu?"
__ADS_1
Brughh.... Prank...
Kami pun menoleh
"Siska...!" Sontak saja mas Dian melepas pegangan tangannya dan berlari meraih tubuh Siska yang sudah lemas terjatuh di lantai.
Mataku tidak bisa berkedip mendapati tubuh Siska yang benar-benar kejang dan dalam situasi kepanikan aku pun begitu saja meminta pertolongan dengan para pendatang yang sedang menikmati waktu santai di cafe ini.
Mas Dian sibuk meminta bantuan rumah sakit untuk mengantar ambulance dan membawa Siska ke rumah sakit terdekat. Benar saja kepanikan itu membuat mas Dian kalang kabut, dan kulihat ada rasa penyesalan dalam wajahnya.
Entah sadar atau tidak mas Dian memegang tangan dan menciumi tangan Siska yang masih lemas itu. Dia bahkan mungkin lupa akan keberadaan ku, namun bagiku itu bukan sebuah masalah besar, sebab rasa hati tidak akan menjadi wajar untuk didebatkan pada saat situasi yang sangat tidak mendukung.
Suara raungan ambulan pun akhirnya sampai juga dalam waktu tidak lebih dari sepuluh menit, dan aku mendekat ketika mas Dian memanggil dan menginginkan aku berada di sampingnya.
Kulihat darah segar mengalir dari lubang hidung Siska, dan tubuhnya kembali mengejang, perawat dan seorang dokter yang berada di dalam ambulans segera memberikan pertolongan pertama pada Siska.
Ambulance pun segera meraung kembali meluncur secepat mungkin untuk membelah jalanan yang padat didepannya.
"Dek, maafkan mas! Mas antar pulang ya, ini sudah malam biar motor nanti minta tolong jasa pengantar saja, setelah ini mas akan kerumah sakit," tanpa menunggu jawabanku mas Dian sudah menarik tanganku terlebih dahulu dan menuju mobil serta membukakan pintu untukku.
"Mas"
"Ya sayang..."
"Apa mas Dian masih mencintai mbak Siska? Dia sakit mas!" Ucapku berat hati dengan bibirku nyatanya tidak searah.
"Iya dek, itu dulu! Kalau boleh jujur dunia mas runtuh dengan segala dusta yang ia berikan pada mas, tapi tidak dengan saat ini! Mas hanya akan memulai hidup baru denganmu, dan anak-anak kita kelak,"
Mas Dian menatapku lekat, dan menyala mobil lalu beranjak dari tempat yang penuh drama dari sore hingga malam mulai merangkak ini.
__ADS_1
"Tapi dia menginginkan mas Dian Kembali menjadi bagian dalam kehidupannya lagi!"
"Dek... Bagaimana kalau pernikahan kita kita majukan! Sungguh aku tidak ingin semua terjadi, kita sama-sama pernah terluka, dan dek Lintang tau sendiri bukan? Usia mas tidak muda lagi, ini sungguh tidak mudah bagiku, dek!"
"Mas bercanda kan!"ucapku sambil tertawa lirih, mana mungkin sebuah kebahagiaan akan tercipta sementara sebuah hati berharap kembali asa yang Tersimpan.
Entah aku yang terlalu terbawa perasaan atau memang aku masih merasakan trauma yang pernah terjadi pada diriku, yang jelas daripada sakit hati lebih baik sendiri.
"Mas... Apa yang telah terjadi dengan kak Siska? Ini seperti mimpi yang tidak pernah diharapkan....?"
"Sudah dek... Sudah... Kehidupan kedepan bukan untuk berandai-andai, apapun itu permintaan atau kekonyolan yang di buat oleh Siska sekalipun, itu bukan sebuah alasan!"
"Kita akan tetap bersanding sebagai pengantin," suara mas Dian lugas dan tetap berusaha untuk meyakinkan diriku.
Dreett....dreett....
Ponselku yang mode silent bergetar membuat diriku segera mengambilnya dan mencari tau siapa yang meneleponku.
"Bila ayah yang menelepon katakan kita sedang dalam perjalanan pulang, hemm." Senyum itu kembali terukir di bibir mas Dian, dan itu yang paling ku suka.
Ya... Ternyata aku juga sudah teramat jatuh cinta seperti Siska yang ingin kembali dalam kehidupan mas Dian.
Ku amati nomor yang kembali bergetar pada ponsel ku, dan ternyata..... Nafasku serasa kembali berhenti....
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
hilih siapa lagi sihh🤧 satu belum usai muncul lagi satunya, lama-lama uban pula yang bertambah 🤣🤣 like dan komentarnya ya bestie ☺️
__ADS_1
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘