Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Kakak Tua


__ADS_3

Akhirnya persiapan pulang dari acara short honeymoon pun berakhir, aku mengantar mas Dian ke rumah sakit, dan aku sendiri pulang kerumah ayah.


Entah hari ini perasaan ini serasa berbunga-bunga, antara bahagia dan merasa tersanjung berbaur menjadi satu.


Aku sempatkan belok kerumah cookies dan berbagai makanan ringan serta brownies kesukaan ayah dan ibu, sekedar oleh-oleh.


Akan tetapi.....


Mataku nggak salah lihat kan? Atau ini benar-benar wajah yang mirip atau kembaran ya? pikiranku menuju pada pandangan mataku.


Aku keluarkan ponselku dan jiwa kepoku tiba-tiba muncul, dengan berdalih menerima kiriman pesan dari seseorang.


Namun ku arahkan kamera ponselku menuju pada sepasang suami-isteri atau kekasih aku tak peduli tapi yang jelas mengundang rasa penasaranku


Cekrek cekrek dan sudah pasti kudapat foto pasangan itu.


"Ohhh... Kita bertemu lagi dek Lintang, hi apa kabar, duh pengantin baru kalau pakai parfum yang harum dikit lah biar nggak bosen lakinya deket terus, belilah yang agak mahal dikit! Nih kek punya kakak harum, iya kan sayang!"


"Eh... Kalau semua pakai yang murahan nanti laki kita selingkuh loh dek, nggak takut apa?" Hufft... Ini benar-benar racun kehidupan bagiku.


Spontan saja ku cium ketek dan baju yang kupakai, baunya masih nyaman tuh tidak ada sedikitpun bau aneh pada bajuku, tapi ucapan perempuan tua yang maunya di sebut kakak itu malah dibilang murahan pula.


"Oh Bu eh.. kakak ya! Maaf setia nggak setia seorang laki-laki itu tergantung bagaimana kita menjalani biduk rumah tangga dengan serius, sudahlah kak, kesetiaan suami-istri bukan dinilai dari berapa mahalnya parfum yang kita pakai, melainkan berapa besarnya kita saling menghargai dan menjaga hati satu sama lain!" Ucapku lirih namun sebenarnya penuh penekanan pada kakak itu, dan laki-laki bule yang jauh lebih muda itu hanya senyum-senyum saja sambil mencuri-curi pandang padaku, aku sangat menyadari akan itu.


"Loh jangan marah loh dek ini fakta ya? Iya kan darling hemm!" Ucap kakak itu sembari memberikan ulah yang genit dan menjijikan bagiku.


Ahh... Kemana-mana masih jauh beda dong dengan penampilan Yessi, walaupun jujur aku sangat tidak setuju dengan ulah Yessi yang sama sini ganti-ganti pasangan, apalagi laki-laki yang semalam bertemu dengannya bersama Yessi di cafe hotel Sheraton adalah bule mata keranjang ini.


"Maaf kak saya cabut dulu ya, mau jemput anak dulu, Ayuk?" Aku begitu saja memangkas percakapan unfaedah penuh dengan emosi yang takutnya tiba-tiba tersulut dan berakibat fatal.


Ah... Dunia benar-benar penuh dengan orang-orang yang masing-masing mencari kenikmatan sesaat saja.

__ADS_1


Semalam jelas-jelas dengan mata kepalaku sendiri pria bule itu bergandengan mesra dengan Yessi, bahkan berpenampilan beda dengan pria bule yang sekarang aku lihat.


Ah masa bodoh, Bukan urusanku! Akupun segera pulang dan berpacu dengan waktu kembali sebab pekerja dirumah sudah menungguku.


Setiba dari rumah ibu menyambutku dengan senyum khas seorang ibu yang sedang merindukan putrinya walaupun hanya semalam saja ku tinggal.


"Lintang, makan dulu! Ibu sudah masak kesukaan kalian, ayah sudah jemput Shasy."


"Hemmm harum Bu dari depan sudah tercium aroma masakan ibu, bikin lapar saja sih langsung makan saja ya Bu, nggak tahan nih!" Entah dari semalam main genjot saja mas Dian jadi bawaannya lapar mulu, mungkin untuk mengembalikan stamina ya? Bisa jadi!


Setelah makan dengan kenyang, aku lanjut menuju ruang modeste meneliti dan memberikan pengarahan pada mereka.


Aku meneliti dan memperhatikan cara kerja dan beberapa pesanan yang masuk dan pesanan yang harus ready dan penggunaan jasa kirim untuk beberapa hari yang lalu.


Semua berjalan dengan seperti yang ku harapkan, memuaskan serta selalu mendapatkan dukungan serta rekom dari beberapa instansi maupun perorangan yang menggunakan jasa Modeste ku.


Ponselku berdering, dengan semangat ku terima.


"Ha ha ha Icha.. icha kebiasaan deh kamu ya, kalau bertanya nggak nunggu jawaban tapi ngasih jawaban sendiri," jawabku sambil tertawa melihat aksi emak-emak adik mas Dian satu ini memang super.


"Mbak bolehkan? Nanti sore aku jemput ya, aku sudah ijin sama mas Dian, katanya kalau mbak boleh mas juga boleh?" Lagi lagi Icha membikin kehebohan dengan keinginannya.


Memang adek mas Dian yang satu ini sangat dekat dengan Shasy, bahkan Olive dengan ojack juga akrab dan sayang dengan Shasy.


"Okelah, tapi hanya semalam ya soalnya nanti takutnya dia jadi kebiasaan dan menjadi manja sama kamu Cha!" jawabku memperingati Icha agar tidak memanjakan Shasy, sebab itu jelas akan menjadi kebiasaan dan sangat tidak bisa memberikan kemandiriannya kelak.


"Sudah Mbak tenang saja, itu sudah aku pertimbangkan dan berikan buat anak-anakku, tidak usah khawatir oke dah ya assalamualaikum."


"Baiklah... waalaikumsalam."


Kembali ku letakkan ponselku di atas meja kerja, lalu beranjak menuju mesin jahit yang nganggur akupun mulai melanjutkan jahitanku yang tertunda kemaren.

__ADS_1


Dengan hati-hati dan penuh ketelatenan ku jahit dan ku rangkai manik-manik pada kain yang sedang ku kerjakan.


Hingga waktu pun tidak terasa sudah sore bahkan beberapa pekerja sudah ada yang pulang, namun aku tetap saja masih asyik melanjutkan hobiku serta pekerjaanku yang sudah aku geluti beberapa lamanya ini.


Asyik dengan melampiaskan imajinasiku pada setiap potongan dan model yang akan aku tampilkan pada ajang kompetisi untuk beberapa bulan kedepan.


Tanganku menari sepuas mungkin pada kertas putih, dengan gambaran tentang busana yang harus tampil elegan serta potongan yang detail agar menjadi karya yang mudah untuk menjadi sorotan pecinta model dan akan semakin membuka peluang bagiku untuk membuka sebuah branding.


Sebuah definisi dari kamus bisnis Cambridge menyatakan bahwa branding adalah upaya untuk memberikan perusahaan dengan desain atau simbol tertentu untuk mengiklankan produk dan jasanya.


Ini adalah mimpiku yang harus aku raih, aku tidak boleh menyerah begitu saja, dan semua ini harus menjadi nyata walaupun, mas Dian selalu mensupport dan bahkan telah sepenuhnya mencukupi kehidupan dan kebutuhan diriku dan Shasy, namun aku harus tetap menjadi wanita yang mampu berkarya dan tidak hanya berpangku tangan saja.


"Sayang... Kok masih disini sih, kamu jangan capek loh ya, mas nggak mau itu!"


"Ayo keluar ada icha mau menjemput Shasy, yuk!" Mas Dian tiba-tiba sudah berada di belakangku sembari memelukku dan mencium tengkukku hingga membuat berdiri merinding bulu roma ini.


"Mas kapan pulang, ya ampun aku lupa audah janjian sama Icha loh tadi," ucapku sambil menutup mulutku karena keasyikan jadi teledor semua.


"Malam ini Shasy mau ke rumah Icha, kita berdua akan leluasa bikin Satyanagara junior ya sayang!" Mas Dian dengan genit mengeringkan matanya dan menggodaku kembali.


"Ish mas kok mesum lagi sih, malu nanti ketahuan loh!"


"Lihat dia menggeliat dek!" Tangan mas Dian menunjuk pada sesuatu yang telah berontak ingin demo ke tempatnya.


"Ahh.. mas Dian....jangan mesum ish!" Bisikku sambil melotot tapi mas Dian malah semakin mendekat dan memberikan ******* penuh keinginan yang tidak pernah habis-habisnya.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉


Aaahh.... mas Dian masih kurang aja sih 🤭 like dan komen membangun yah bestie.

__ADS_1


Salam Sayang Selalu Sehat Sejahtera Always 😘


__ADS_2