Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Kekuatan Cinta


__ADS_3

Perlahan namun pasti, kini Iwan telah memutuskan penawaran dari papa mertuanya untuk mengembangkan sayap pada perusahaannya untuk membuka cabang diluar pulau Jawa.


Banyak faktor yang telah dilakukan Iwan untuk memutuskan segalanya, antara usaha, keluarga dan yang paling utama adalah rasa hati.


Rahma dengan kondisi yang lambat laun juga mengalami perubahan signifikan atas kondisi tubuh dan manic depressive illness yang selama ini telah terjadi pada dirinya.


Pengobatan alami yang di ambil Rahma dan Iwan adalah, menerima kenyataan dan keadaan lalu merubah gaya hidup dengan saling mencintai dan menyayangi memberikan semangat hidup satu sama lainnya.


Buah hati Rahma dengan kekasihnya yang telah meninggalkan dirinya, kini lambat laun juga bisa tumbuh normal walaupun masih harus dalam pantauan medis untuk perkembangannya.


Tiba saatnya juga Iwan membawa Rahma untuk berpamitan kepada ibunya, Bu Lestari bagaimanapun juga Bu Lestari adalah ibu yang selama ini telah hidup bersama walaupun terkadang sulit untuk dimengerti kemana arah pemikirannya.


"Loh... Iwan! Kalau kamu pergi dan tidak lagi tinggal di kota yang sama dengan ibu, lalu bagaimana dengan hutang duapuluh juta yang ibu pinjam uuhhyy666 Lintang, kamu harus bantu ibu untuk mengembalikannya!"


"Iya mas! Nanti kalau Yessi sudah kaya dan bisa menggaet Mr Darius, Yessi jamin hidup kalian akan makmur di bawah kendali Yessi," Yessi menimpali ucapan sang ibu sambil mengecat kuku-kuku jari tangannya.


Rahma berjalan lalu duduk di samping Yessi, lalu mata mereka saling beradu sesaat.


Yessi yang memang agak takut dengan Rahma, sedikit beringsut dengan wajah yang tiba-tiba memucat dan bibir tertutup rapat.


"Mbak jangan begitu dong, kan aku jadi takut!" Pekik Yessi sambil mencari perlindungan di belakang punggung Bu Lestari.


"Uang duapuluh juta untuk apa? Dan apa juga sangkut pautnya mas Iwan dengan hutang kalian pada Lintang, huh?"


"Kalaupun kamu ingin menggaet laki-laki, tidak seharusnya juga kamu korbankan abangmu sendiri yang jelas-jelas dia juga mempunyai kebutuhan untuk keluarganya,"


"Oh ya Bu! Kami datang kesini hanya untuk berpamitan bukan untuk membahas hutang kalian, permasalahan kalian urusi saja sendiri dan jangan pernah melibatkan kami!"


Iwan yang mendengar hanya mendengarkan saja tanpa menimpali sedikitpun ucapan, ataupun membela ibu dan adiknya.

__ADS_1


Berpisah dengan Lintang saja sudah kesalahan besar, dan menyebabkan penyesalan seumur hidupnya, apalagi sekarang untuk kembali berhadapan dengan keluarganya, itu tidak mungkin!


"Rahma.... Kamu itu harusnya bersyukur dan berterimakasih pada ibu, tanpa ibu mana mungkin kalian bisa bersatu, dan harusnya akulah yang menjadi mertua dari menantu yang mandiri seperti Lintang,"


Semua hening tanpa suara, dan itu semakin membuat Bu Lestari merasa diatas angin.


"Tidak seperti kamu yang hanya memberikan masalah saja!"


"Heiii Ibu...! Jangan pernah salahkan anak menantu bila harus berani melawan mertua yang sudah tua bukannya mencari jalan yang baik-baik menuju surga, hidupku memasuki keluarga kalian ini juga tidak hanya masuk bawa tulang dan daging dengan wujud tubuhku, kalian pikir selama ini kalian bisa hidup dari hasil keringat siapa?"


Yessi beringsut lagi karena melihat wajah Rahma sudah berubah, siapapun orangnya pasti akan marah bila mendengar kata-kata Bu Lestari yang nyelekit hingga ke menghujam jantung.


"Dan kamu Yessi! Ingat.... Aku dan abangmu tidak pernah memakai atau meminjam uang pada Lintang, jadi jangan pernah berharap uang dari kami untuk mengembalikan hutang-hutang itu, mas ayo pulang!" Teriak Rahma dengan sengit.


Bu Lestari lantas berdiri sambil berkacak pinggang dan berteriak lantang.


"Iwan.... Kamu jangan sembunyi di balik daster istri kamu, ibu sama Yessi sudah dilecehkan gitu kamu hanya diam saja!" Bu Lestari memburu langkah Iwan dan Rahma, lalu meraih tangan Iwan dan menariknya.


"Ibu mau saya bagaimana? Saya sudah lelah Bu! Dan saya disini sama saja tidak ada harga diri saya, lebih baik saya diam. Oh ya Bu... Saya tadi kesini itu sebenarnya hanya mau berpamitan, bukan beradu mulut begini,"


"Tapi Iwan... Bantu ibu untuk bayar hutang ibu kepada Lintang, apa tidak malu kamu? Melihat ibu punya hutang sama mantan?" Kembali Bu Lestari berargumen agar mendapatkan simpatik Iwan.


Iwan kembali menatap kearah ibunya lalu ke arah Rahma yang sudah merah padam menahan emosinya.


"Yessi, kamu yang bertanggung jawab atas seluruh keinginanmu, Jangan pernah melibatkan kami lagi, maaf Bu aku pergi!" Mata Iwan menatap Yessi lalu perlahan kearah Bu Lestari.


"Sayang ayuk... Kita jalan saja,!" Tangan Iwan mengandeng tangan Rahma dan tidak lagi memperdulikan raungan Bu Lestari yang masih saja mempermasalahkan uang duapuluh juta.


Sepeninggal Iwan Yessi sudah bersiap untuk keluar rumah dengan meninggalkan pesan kepada sang Ibu.

__ADS_1


"Ibu, jangan ragu! Yessi akan mengembalikan uang itu, tenang aja Mr Darius jelas sudah klepek-klepek, Yessi pergi ya Bu!"


Bu Lestari terdiam saja tanpa menjawab, dia sendiri duduk termenung setelah kepergian Yessi.


Sebenarnya kalau di telaah sendiri, memang kelakuan Yessi sangat keterlaluan. Bagaimanapun juga dia adalah perempuan yang seharusnya tidak menjadi orang ketiga pada sebuah hubungan berumah tangga.


Tapi ibarat nasi sudah menjadi bubur, mustahil untuk kembali menjadi bulir beras kembali.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


Lain Bu Lestari lain lagi Iwan yang sedang mengemudi mobilnya untuk menuju ke tempat kediamannya.


"Rahma... Antara kita sudah saling berjanji untuk terbuka dan menerima apa adanya, ku harap kamu jangan mengambil hati semua ucapan ibu, antara aku dan Lintang kamu sendiri jelas sudah tau, tidak ada sangkut pautnya lagi kecuali Shasy, karena aku adalah papa dan sekaligus sebagai walinya kelak.


"Sayang.... Usia kita nyatanya tidak akan muda lagi, di tambah lagi kondisi tubuhku dengan mental illness begini, aku hanya menginginkan kebijaksanaan yang akan kau berikan kepada kami,"


"Dan perlu kau ketahui sayang... Aku tidak akan menyerah sedikitpun, aku juga bersalah besar padamu, adalah sebuah kehormatan tertinggi bagiku kau mampu menerimaku apa adanya dan itu aku dapat darimu, sungguh luar biasa terimakasih sayang!" Mata Rahma berembun menatap kearah Iwan yang sedang mengendarai mobilnya.


Begitupun dengan Iwan, tangannya menggenggam erat sambil menciumi punggung tangan Rahma.


"Kita menuju masa depan, kita akan membawa anak kita menuju kehidupan yang normal."


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉


Nah kan kalau begini dari awal kan enak ya kan bestie 🤭


kita lanjut lagi ke sesi rumah tangga Lintang dengan dokter Dian, bersama kebejatan Yessi yang selalu saja sirik dan merasa baik Dimata siapapun, yuk ✌️✌️

__ADS_1


Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘


__ADS_2