Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Derita Yessi


__ADS_3

Darius memacu mobilnya menuju tempat dimana Shinta sedang mengawasi dan mengontrol para bawahannya, yang sebenarnya setiap awal weekday adalah tugas Darius, namun karena beberapa hari Darius lebih senang menghabiskan waktunya didalam rumah, dan memberikan kenikmatan yang selalu mereka inginkan untuk melengkapi keseharian mereka.


Derap langkah Darius tergesa-gesa seolah tidak ingin tersalip oleh siapapun, kedatangan Darius menjadi sambutan penjaga dan pegawai yang selalu tunduk dan berlaku sopan kepada Darius.


"Selamat bapak, tumben pak Darius berangkat agak siangan!" Tanya seorang pegawai yang sudah paruh baya, saat berada didalam lift yang sama.


"Biasa pak, kesibukan nyonya besar kadang mendadak, dan saya harus menuruti kemauan istri tercinta saya!" Darius memang pandai bergaul, dan juga pandai mengalihkan segala ucapan, yang biasa-biasa saja menjadi kearah keakraban yang memang sudah ia kuasai didalam kehidupannya.


Dua laki-laki beda usia dan status itu akhirnya berpisah arah setelah beberapa second didalam lift yang sama.


Pintu ruang kerja Shinta terbuka, Darius menyeruak masuk tanpa memperdulikan keterkejutan Shinta yang merasa heran dengan polah Darius yang tiba-tiba itu.


"Darius...kamu kenapa kok seperti orang kesetanan begini? Ada yang salah denganmu!" Shinta yang mendapatkan serangan bertubi dengan ciuman penuh gelora yang di berikan padanya.


Perlahan Darius melucuti satu persatu benang yang melekat pada tubuh Shinta, tubuhnya yang masih sintal walaupun usia tidak muda lagi, siapapun laki-laki itu pasti akan terkecoh olehnya.


Namun Shinta memang type wanita setia, walaupun dia sedikit berkebutuhan khusus terutama pada ranjangnya (( sudah saya beri penjelasan di bab sebelumnya))


Tubuh putih bersih, gundukan daging kenyal dengan topping biji lunak kemerahan itu menjadi santapan Darius, tentu saja bukan ham yang mengejutkan bagi Shinta dengan serangan yang ia dapatkan dari laki-laki yang sudah dinikahinya beberapa waktu lalu.


"Honey.... Terus sayang... Aku tidak habis fikir dari mana saja kamu kelayapan kenapa pulang pulang seperti bayi kehausan begini," Shinta dengan cepat memberikan respons pada Darius, walaupun sebenarnya dia tidak mengetahui bahwa, tindakan Darius kali ini adalah sebuah pelampiasan kepada Yessi yang telah mengarungi kenikmatan yang ia ciptakan, namun nyatanya ia harus rela memberiku pada orang lain, walaupun itu adalah umpan bagi mereka sebenarnya.


Erangan demi erangan yang diselingi dengan desa han, serta jerit kenikmatan berulang dan berulang lagi, peluh yang semakin lengket oleh bara nafsu mereka bukan lagi sebagai penghalang aktivitas ranjang mereka.

__ADS_1


🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️


Yessi yang telah memejamkan matanya, pingsan dalam beberapa saat karena telah bercinta dengan laki-laki brutal yang telah memberikan kenikmatan melebihi batas kewajaran pada dirinya, didalam ruangan yang remang-remang dan dan dalam keadaan tubuh yang sakit luar biasa ia rasakan.


Rasa perih pada rongga area intinya, ngilu pada kaki-kakinya, serta perutnya yang terasa perih karena rasa lapar, bibirnya serasa kebas, serata dadanya yang biasa menjadi tempat bersandar dan menjadi mainan kesukaan Darius , kini serasa kebas dan menebal karena Juno melakukan dengan brutal, bahkan bisa dikatakan aji mumpung mendapatkan bonus kenikmatan dari Darius untuk menjadikan dirinya sebagai penggantinya ataupun menikah dengan Yessi bila terjadi sebuah tuntutan pertanggungjawabannya yang jelas akan di minta oleh Yessi maupun Bu Lestari kedepan.


Tangan Yessi sibuk menggapai pinggiran tempat tidur untuk memberikan sedikit kekuatan ingin bangun dari tidurnya, dan meraih setidaknya air putih untuk membasahi kerongkongannya yang kering.


"Sayang... Darius kamu dimana? Kenapa ruangan ini minim sekali penerangannya? Aku haus sayang! Oh... tubuhku serasa tanpa bertulang, tolong aku?" Suara Yessi parau mengiba sambil tangannya mencari dimana keberadaan Darius di sampingnya.


"Oh.... Kau sudah bangun rupanya, minumlah ini! Mungkin kau kehausan, hemm kau terlalu binal untukku di atas ranjang sayang," lirih Juno sambil berjalan mendekat sambil memberikan segelas air segar untuk Yessi.


"Siapa kamu, kenapa kamu ada disini, pergi! Dan dimana Darius," suara parau Yessi yang sudah tidak mampu lagi untuk mengeluarkan tangannya untuk berteriak.


"Minumlah dulu, baru aku akan bercerita padamu, hemm Ayuk!" Juno membelai dan mencium ujung rambut Yessi namun Yessi buru-buru menepis tangan kekar yang penuh dengan bulu-bulu kasar itu.


"Hei kenapa kamu masih disini, pergilah! Dimana Darius kami siapa?" Kembali suara Yessi lebih nyaring dan mengambil selimut untuk menutupi tubuhnya yang telan jang tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya.


"Yessi, kamu cantik dan luar biasa, permainanmu sungguh membuat siapapun akan ketagihan berada dalam pelukanmu," Juno meraih kembali tubuh Yessi yang masih lemas.


Tanpa kekuatan yang berarti, Yessi pun tetap saja tumbang dalam pelukan Juno," katakan padaku apa yang terjadi pada diriku, dan dimana Darius lalu kamu kenapa ada disini?" Yessi kembali mengulangi pertanyaannya pada Juno yang masih saja berada di sampingnya dengan memberikan tampang yang sangat menyebalkan dan Yessi semakin geram di buatnya.


"Menurut saja denganku Yessi, aku akan membersihkan tubuhmu, dan mengantikan baju yang layak lalu istirahatlah!" Juno pun akhirnya membopong tubuh Yessi yang lemas tidak berdaya, menuju kamar mandi dengan air yang telah ia siapkan sebelumnya.

__ADS_1


"Pergi kamu.... Aku bisa membersihkan diriku sendiri, aku tidak butuh bantuanmu!" Tangan Yessi mendorong tubuh Juno.


Namun bukan Juno namanya kalau ia begitu saja menyerah, dan membiarkan Yessi sendiri melakukan aktivitas mandi dengan kondisinya yang terlihat memprihatinkan itu.


"Aku bisa mandi sendir, pergi dari sini setan kamu panggil Darius untuk kesini, aku butuh dia, dan kamu jangan coba-coba menyentuh tubuhku lagi atau Darius akan mematahkan tulang-tulang mu!" Yessi rupanya belum sepenuhnya sadar akan apa yang telah terjadi pada dirinya, karena pengaruh obat yang masih menyisakan rasa pada dirinya.


"Diam, atau kamu akan jatuh dari tempat basah ini, dan terdapat benjolan atau mungkin bisa saja bibirmu pecah terkena lantai keras ini, berteriak pun semua akan tetap saja sia-sia, jadi menurut saja lebih baik!" Akhirnya Juno memberikan ketegasan pada sikap Yessi yang selalu melawannya dengan cara memukulnya walaupun lemah pukulannya namun itu sangat menghambat pergerakan Juno dalam membantu membersihkan tubuh Yessi.


"Tapi aku tidak mau kamu melihat tubuhku, pergiiiii" lagi-lagi Yessi berteriak dan kali ini lebih keras dan cempreng.


Juno yang sudah di ujung kesabarannya, akhirnya geram juga di buatnya.


Tangan Yessi diikat nya dengan ikat bathrobe miliknya, dan dengan sedikit kasar Juno kembali menikmati indahnya tubuh Yessi tanpa ampun, kondisi separuh sadar akan apa yang terjadi padanya.


Antara sakit dan marah, membaur jadi satu pada diri Yessi. Pergulatan tanpa perlawanan membuat Yessi hanya bisa berlinang air matanya tanpa ia bisa bendung lagi, hingga pada akhir hujaman Juno yang menuju puncak dan sengaja memuncratkan keju mozzarella ke wajah cantik Yessi yang sudah sembab tanpa ampun itu.


"Aahhhh.... Gadis binal, puas aku menikmati semua yang ada pada dirimu." Juno pun akhirnya berhasil memandikan Yessi dan membersihkan dirinya sendiri, lalu membawa Yessi keluar dari kamar mandi, lalu mengenakan baju, mengeringkan rambutnya dan tidak lupa juga memesan makanan malam untuk mereka berdua.


Yessi yang menjadi takut dan berubah pendiam, karena kondisinya yang lemah, capek dan ngilu seluruh tubuhnya mau tidak mau dia harus menurut pada Juno, atau harus melayani pria blangsak itu lagi.


🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️🧚🏻‍♀️


To be continued 😉

__ADS_1


Lama-lama kok Yessi kok jadi budak nafsu Bang Juno yah 🤔, harus memupuk kekuatan buat Yessi ini kekya bestie, kasih jempol Mak biar ku bejek-bejek bule dambaan Yessi itu ya 🤭


Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘


__ADS_2