Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Pernyataan Dokter Dian


__ADS_3

POV pak Ahmad dan dokter Dian


Amarah yang sudah berada di puncak dan kejadian yang terulang-ulang semakin menipiskan kesabaran pah Ahmad Dahlan ayah Lintang.


Apalagi sang istri, yang sejak kedatangan Bu Lestari pertama kali dan membuat jeritan Shasy sampai ketakutan, semakin kuat memberikan dorongan pada pak Ahmad untuk melakukan laporan atas perbuatan tidak menyenangkan yang dilakukan Iwan bersama ibunya.


"Ayah... Ini sangat menganggu perkembangan cucu kita, sudah keduakalinya perbuatan nenek tidak berakhlak itu pada cucu kita, apalagi iwan! Bagaimana bisa menjadi seorang ayah kalau kasih sayang saja tidak pernah tercipta dari dalam dirinya sendiri!" Sewot Bu Ahmad setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya.


Alhasil pasangan suami-istri itu melaju pelan motor matic yang ditumpanginya, menuju kantor polisi dan mengajukan laporan.


Beberapa saat berada di kantor polisi, pak Ahmad bersama Bu Ahmad melajukan motor maticnya menuju rumah sakit, namun bukannya langsung ke ruang rawat Shasy, namun dokter Dian buru-buru membawa mereka menuju ruangannya, setelah menjenguk Shasy dan kini tertidur dalam penjagaan Lintang bersamanya, dokter Dian harap-harap cemas menunggu kehadiran bapak dan ibu Ahmad.


"Maaf pak, saya baru saja kembali dari ruangan Shasy, dan dia sudah tertidur bersama dek Lintang yang juga sedang beristirahat dengannya,"


"Bapak dari kantor polisi?" Tanya dokter Dian yang tentu tidak meleset, karena sudah di bisikin sama author sih 🤣😂.


"Kelakuan Iwan dengan ibunya sudah sangat kelewatan nak Dian, ini tidak bisa dibiarkan! Dan ini sudah menganggu ketenangan putri dan cucu saya," pak Ahmad mengucapkan kata-katanya sambil masih memperlihatkan wajah geramnya pada perbuatan Iwan.


"Lalu hasilnya bagaimana pak!"


"Ya... Pihak kepolisian akan segera menindaklanjuti laporan," nafas lega itu terdengar berat walaupun suara pak Ahmad jelas terdengar tegar.


"Bapak... Kalau boleh saya berbagi cerita dan pengetahuan saya mengenai pak Iwan dengan bapak, alangkah baiknya bapak mencabut laporan tersebut!"


"Hah.... Maksudnya ini gimana nak Dian, bukankah mereka berdua sudah hampir saja mencelakai Shasy, anaknya sendiri cucu saya loh nak Dian! Bagaimana mungkin saya hanya tinggal diam saja!" Bu Ahmad langsung saja sewot, ia bahkan mulai menampakkan wajah garang ala Farida pasha pemeran tokoh Mak lampir.

__ADS_1


"Bu...Bu.. jaga sikap! Kita dengarkan dulu penjelasan nak Dian, bisa saja ada sesuatu dibalik perkataan nak Dian yang kita tidak tau," pak Ahmad walaupun kurang setuju tapi masih juga mencari sisi positifnya dari saran dokter Dian.


Dokter Dian tersenyum penuh santun pada bapak dan ibu Ahmad, lalu membetulkan posisi duduknya.


Lalu dokter Dian menceritakan tentang pendengaran percakapan Lintang dengan Iwan melalui ponsel, beberapa hari lalu ketika baru saja terjadi insiden baku hantam dengannya.


"Ohhhh jadi nak Dian sudah sampai adu jotos sama Iwan! Wah... Bener bener keterlaluan, apa mau dia sih sebenarnya," Bu Ahmad masih saja geram dibuatnya begitu mendengar cerita dari dokter Dian.


"Lalu kenapa nak Dian diam saja? Bukankah itu sudah termasuk kasus penganiayaan, harusnya dilaporkan nak Dian?" Pak Ahmad menimpali juga.


"Bapak, kalau boleh jujur saya juga marah dengan sikap pak Iwan yang menurut saya sangat tidak menghargai seseorang, akan tetapi kembali ke sisi manusiawi saya cukup terharu dengan kehidupannya,"


"Istrinya baru saja mengalami solusio plasenta, karena Bu Rahma mengalami manic depresion, saat ini dalam pengawasan dokter spesialis yang menangani keadaannya, dan juga putra pak Iwan dalam kondisi kritis kesempatan untuk hidup sangat tipis, namun itu hanya analisa tim medis untuk selanjutnya, kita hanya pasrah dengan kuasa Allah SWT, pak...Bu," dokter Dian berusaha memberikan pengertian kepada orang tua Lintang.


"Tapi nak Iwan.... Mustahil tidak akan terjadi atau terulang lagi! Saya maunya Iwan biar hidup penjara saja, nak Iwan! Biar aman cucuku Ini sudah menyangkut harga diri," Bu Ahmad rupanya masih saja kurang puas atas penjelasan dokter Dian, dan berkesan tetap melanjutkan laporannya.


"Apa ada yang bisa menjamin, bila terjadi sesuatu lagi pada cucuku dan Lintang anak saya, nak Dian?" Sorot mata pak Ahmad berbalik memberi penekanan kepada dokter Dian.


"Saya akan menghubungi pihak kepolisian, untuk sekedar memberikan efek jera pada pak Iwan, karena kebetulan saya kenal baik dengan beliau dan semua akan diatur oleh beliau, bapak sama ibu tenang saja!"


"Dengan jaminan apa nak Dian bisa yakin semua ini tidak akan terjadi lagi pada cucu saya! Nak Dian bisa tau sendirikan? Bukan satu kali dia berbuat begitu pada diri Shasy dan Lintang, bahkan pada nak Dian sendiri bahkan pernah terjadi baku hantam!" Suara pak Ahmad mulai meninggi dan semakin tidak sabar dengan pernyataan dokter Iwan.


"Saya mohon maaf bapak dan ibu, dengan segala harapan dan maksud yang baik, saya yang akan menjamin! Saya mencintai dek Lintang dan saya akan meminta bapak dan ibu untuk merestui hubungan ini, walaupun dek Lintang masih meragukan, saya tidak akan patah arang untuk meyakinkan dia!"


Sunyi...

__ADS_1


Suasana dalam ruangan menjadi sunyi tanpa suara, hanya detak jam dinding saja yang bergerak menandakan sebuah perputaran waktu masih tetap berjalan walaupun, terdapat permasalahan yang rumit sekalipun.


"Bu... Gimana? Marah? Nak Dian tadi ngomong apa sih?" Pak Ahmad menggaruk kepalanya yang bisa jadi tidak terasa gatal sebenarnya.


"Tapi nak Dian... Lintang janda anak satu, apakah keluarga nak Dian bisa menerima kehadiran Lintang bersama cucu saya!"


"Saya jamin tidak bu! Ibu saya sudah mengetahui tentang dek Lintang dengan Shasy, karena saya sering bercerita mengenai Shasy dan dek Lintang, dan akhir pekan kemaren saya membawa dek Lintang bertemu ayah dan ibu saya,"


Senyum dokter Dian dengan sorot menyakinkan bahwa dia tidak sedang bercanda atau hanya sekedar menghibur kedua orangtuanya yang sedang dirundung kegelisahan dan kemarahan.


"Mari... Kita kembali ke kantor polisi, bisa jadi saat ini pak Iwan juga sedang menunggu kehadiran kita," ajak dokter Dian sambil memberikan jalan pada mereka berdua.


"Tapi nak Dian, Sebentar! Bapak tidak bisa memberi jawaban dan kepastian tentang kedepannya, semua tergantung Lintang dan nak Dian saja, bapak hanya bisa memberikan doa saja, sebab kehidupan kedepan Kalian yang menjalani,"


"Saya juga akan pelan-pelan pak, dek Lintang orangnya terlalu kuat, tapi saya tidak mudah menyerah."


Sepasang suami-isteri itu akhirnya memahami apa yang sebenarnya terjadi, walaupun sebenarnya ayah Lintang sudah merasakan gelagat dokter Dian, dan ini juga bukan kali pertama dokter Dian memberi pernyataan kepada pak Ahmad.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉


Akhirnya 🤭 tapi masih belum deal tuh mak! kita lanjut aja yuk lihat reaksi Iwan dong. like nya Mak 🤭 komen juga yah biar jempol makin semangat loh🤭


Salam Sayang Selalu Sehat Sejahtera by RR 😘

__ADS_1


__ADS_2