
Senyum nakal mas Dian semakin membuatku sedikit menaruh curiga akan tindakan selanjutnya padaku.
"Dia masih menantang sayang, heemm masih kurang, tapi istirahat dulu. Mas akan siapkan air hangat untuk kita mandi dan pesanan makanan, biar mas bisa kuat lagi bikin genjotan, mas juga suka mendengar dek Lintang menjerit, ha ha ha." Sambil memelukku erat.
Kuraih gelas berisikan air putih itu sambil mencubit perut mas Dian. "Mas mesum ternyata, ha ha ha baru ketauan sekarang juga," tawaku lepas.
Kuteguk habis isi gelas itu, tubuhku sedikit segar kembali, walaupun kaki-kaki ini serasa sedikit lemas karena gempuran 3-1 oleh serangan yang mas Dian berikan bertubi-tubi.
Mas Dian masuk ke dalam kamar mandi sedangkan aku hanya merebahkan tubuhku, sambil memejamkan mataku. Enggan rasanya membersihkan tubuhku yang lengket dengan peluh dan saliva yang sudah mas Dian saputkan pada hampir di seluruh bagian tubuh dan area sensitif milikku.
Suara gemericik air dalam bathtub jelas terdengar, tapi sangat sunyi tanpa adanya suara mas Dian yang seharusnya seperti biasanya bersiul atau gemericik suara orang mandi seperti pada umumnya.
Atau mungkin keluar pesan makanan? Tentu ini lebih mustahil, pesanan makanan jelas bisa dilakukan melalui telepon yang tersedia di setiap kamar di seluruh hotel sebagai fasilitasnya.
Rasa penasaran ini membawaku beringsut turun dari ranjang dan berjalan pelan karena pinggulku tiba-tiba sedikit nyeri karena terlalu lama melakukan gerakan sambil sedikit jongkok tadi.
"Sayang mau mandi sekarang, heemm..." suara mas Dian sedikit mengejutkanku dan nyaris lepas jantung ini rasanya.
Tanganku sibuk mencari penutup tubuhku yang masih tanpa selembar benang dengan kedua tanganku menutupi dadaku, namun naasnya yang bagian bukit tempat persembunyiannya si belalai gajah Afrika itu jelas masih terlihat dengan rumput pendek nan lembut.
"Eh.. emm, i.. iya Mas! Mas sedang ngapain kok sunyi nggak ada suara?" Jawabku mengalihkan rasa malu dan canggung yang kembali melanda jiwaku yang malu-malu tapi selalu penasaran ini.
Mas Dian mendekat dan kembali menggendongku menuju ke kamar mandi yang ternyata sudah siap dengan air hangat dengan aroma yang segar serta bunga merah merekah mengembang beberapa helai di dalam bathtub dan lantai kamar mandi.
Mas Dian menguyur pelan tubuhku dengan memakai air hangat yang mengucur deras lewat gagang shower lalu memberikan shower gel pada tubuhku, "sayang bersihkan dulu sisa-sisa permainan tadi, sebelum kita main ke babak berikutnya!"
__ADS_1
"Mas... Masih kurang ya? Tadi aku sudah lemas tiga kali loh, apa iya mau lagi dibikin tepar sayang?" Mataku menatap lekat ke wajah ganteng suamiku tapi tanganku tidak mau diam dengan mencari belalai gajah Afrika milik mas Dian yang kembali sudah mulai menegak mengacung itu.
Benar-benar bibir dan tanganku sama sekali tidak sinkron oleh keadaan.
"Ini adalah pembayaran denda yang tertunda beberapa hari lalu, anggap saja hari ini adalah malam pertama kita, untuk bulan madunya kita menyusul, gimana hemm?" Mas Dian malah semakin membuatku merinding dengan setiap helaan nafasnya yang aku rasakan di balik tulang selangkaku.
Aku sudah lupa dengan rasa nyeri dan lelah yang baru saja memperdaya diriku, aku bahkan membalas setiap usapan dan belaian tangan mas Dian dengan tujuan yang sama, yaitu kenik matan.
Mas Dian mengguyurkan air hangat kembali, sehingga busa sabun yang melekat pada tubuhku dan tubuhnya luruh bersama air.
Lalu perlahan dengan posisi saling berdiri, tangan itu mer emas Twins muffin yang toppingnya sudah berubah warna memar kemerahan karena hisapan yang terlalu kuat hingga aku terpekik bagaikan terkena sengatan listrik dengan tegangan tinggi.
"Sakit, hemm... Aku gemas sayang!"
Mas Dian memelukku dengan posisi tetap berdiri dan meremas panttaku, sedangkan aku sendiri beringsut jongkok ke bawah dengan terus memainkan belalai yang semakin lama semakin membuatku mabuk tanpa kendali.
Kini giliran mulutku yang bertindak dengan brutal, kulahap dengan rakus ibarat diriku yang sedang menikmati sosis kanzler jumbo dengan rasa keju itu. Aku bahkan tidak peduli dengan er angan mas Dian yang dengan memegang kepalaku.
"Sayang kamu benar-benar istri bianl, dan ini sungguh nikmat ohhh kamu liar sayang, teruskan mas suka, Lintang...!"
Aku bahkan tetap menikmati dan melakukan isa pan demi isa pan, serta kuberikan sensasi gelitik dengan lidahku saat berada di antara buah avocado mas Dian yang menggelantung.
Mas Dian meraih tubuhku lalu membalikkannya dengan pelan namun pasti, diangkatnya kakiku pada satu sisi, lalu perlahan mas Dian memasukan kembali belalainya yang sudah mengeluarkan lendir berasa asin itu, rasa sesak namun luar biasa kunik mati di bawah guyuran shower benar-benar rasa yang tidak ingin usai aku nikmati.
Hingga pada tahap yang sudah menjadi pasti, tubuhku bergetar hebat dengan mencengkeram paha mas Dian, kunik mati kli maks untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
Mas Dian mengehentikan aktivitasnya lalu mendudukkan tubuhku pada tempat wastafel lebar, kupikir dia memberikan masa jeda, namun aku salah besar.
Mas Dian membenamkan wajahnya di antara bukit milikku dan kembali lidahnya melukiskan sebuah kenik matan lagi dan lagi entah harus dengan apa aku ceritakan di sini, yang ada aku cukup kewalahan meladeni gejolak mas Dian yang seakan tidak pernah kehabisan energinya.
Tonjolan biji kecilku yang ada pada liang masuk itu sesaat menjadi permainan lidah mas Dian, membuatku menggelinjang tanpa ampun. Aku makin berge tar. Aiihh, serasa melayang di awan menggapai tak tahu yang kugapai.
Perlahan namun pasti mas Dian mengangkat tubuhku mendekati bathtub. Dia masuk lebih dulu dan posisi tiduran. Diraihnya pinggangku dan mendudukkan aku di atasnya. Kuraih belalai yang sudah semakin mengeras ingin masuk ke liang persembunyiannya di antara rimbunnya rerumputan.
"Aahh, Maaass," teriakku saat si belalai menemui sarangnya. Tak terbayangkan rasa ini. Mas Dian mendekap erat pinggangku, dan lidahnya tak henti bermain di bukit kembar, sementara aku serasa bermain jungkat-jungkit naik turun mengikuti irama yang dimainkan mas Dian dari bawah.
Kumerasa saatnya melayang bebas, kupeluk erat tubuh kekar itu saat kurasa getar dan kedutan mengoyak sukma naik ke puncak, yang entah untuk keberapa kalinya aku alami.
Setelah aku agak tenang kembali, tiba-tiba mas Dian memintaku bangun dan keluar dari bathtub. Dia pun bangun dan membawaku kembali ke bawah shower, dipepetnya badanku ke dinding agar tak jatuh. Satu kakiku diangkat dan dilingkarkan ke badannya. Belalai cintaku kembali menghunjamku.
"Aahh, Maaaass. I love it." Ceracauku. Mas Dian tersenyum bahagia. Aku hanya pasrah mengalungkan tanganku di lehernya.
Intensitasnya mulai meningkat, aku merasa hilang kendali. "Maass, ayoo," teriakku menyemangati untuk bersama-sama mencapai puncak.
"Lintaaàang," teriak mas Dian sambil menembakkan keju mozzarelanya.
menggeram, mencengkeram sama-sama melayang menikmati curahan air hangat dan kepuasan yang tiada tara.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
__ADS_1
huffftttt meleleh sayang, es... mana es... haus bestie jempolku serasa melentung 🤣🤣. jangan lupa like jempolnya komen membangun, bila kurang hot kalian bikin sendiri sama pasangan masing-masing ya🤣🤣
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘😘