
Penasaran dengan suara panggilan ponsel milikku berdering tanpa henti, setelah suara notifikasi aplikasi WhatsApp terdengar sebuah pesan, tidak seperti biasanya pagi-pagi sudah ada panggilan, apalagi ini belum termasuk jam kerja.
Tertera nama Yessi dan tidak berfikir panjang lagi kuangkat saja panggilan itu.
"Hai Yessi pagi, tumben banget pagi-pagi nelpon, apa kabar?" Jawabku tetap berusaha ramah dan selalu membawa suasana seakan antar aku dan dia tidak pernah terjadi perselisihan.
"Pagi mbak, iya nih mau ada perlu sama mbak sebentar aja, menganggu tidak ya?" Suara Yessi dari seberang rupanya juga sangat bersahabat, enak pula terdengar.
"Boleh Yess, gimana ya!"
"Pagi ini kita ketemuan di rumah makan gudeg Bu Broto ya mbak! Soalnya saya mau mengembalikan pinjaman uang ibu waktu lalu, sambil mau minta tolong lagi mbak!" Pelan suara Yessi dan mendekati kenormalan orang berbicara, tidak seperti biasanya yang selalu pedas padaku.
Aku setujui permintaan Yessi yang tidak seperti biasanya aneh, namun aku tetap bersikap wajar selama itu berada di jalan yang benar, lagipula dia tadi bilang akan mengembalikan uang duapuluh juta yang mantan ibu mertuaku pinjam.
"Sayang, tumben mantengin ponsel sepagi ini, ada apa?" mas Dian yamg baru saja keluar dari kamar mandi dan menghampiriku.
Aku ceritakan keinginan Yessi yang mengajak makan pagi di tempat gudeg Bu Broto, dan ada sedikit keperluan.
Mas Dian mendengarkan sambil mengenakan baju yang sudah aku siapkan, untuk hari Sabtu ini mas Dian ada jadwal praktek di rumah sakit dari pagi pukul 7.00 hingga 10.00.
"Aku naik motor saja ya mas, soalnya kalau bareng mas nanti terlalu pagi," ucapku sambil mengancingkan baju mas Dian yang hanya diam menatapku sambil memeluk pinggangku.
Sebelum melangkah keluar dari kamar, mas Dian terlebih dahulu mengambil ponselku, dan membuka sebentar aku sih biasa saja karena walaupun terlalu banyak chatting tapi itu hanya seputar benang dan kain saja.
"Ya sudah hati-hati, ingat! Mas tidak mau dek Lintang terlalu capek dan banyak aktivitas, itu saja hemm," mas Dian kembali menatap sambil tersenyum.
Berjalan keluar rumah untuk mengantar mas Dian berangkat ke rumah sakit, "sayang... Nanti kita sempatkan melihat rumah baru kita, mumpung ini weekend mas tidak terlalu sibuk dan sebelum dek Lintang merampungkan misi untuk pelaksanaan program kompetisi yang akan dek Lintang jalani," mas Dian benar-benar enggan melepaskan tanganku, seakan berat untuk meninggalkan dirimu.
"Dan satu lagi sayang.... Hati-hati kalau janjian sama orang, mas berangkat dulu!" Mas Dian mengulurkan tangannya dan kuraih lalu ku cium punggung tangan itu.
Setelah keberangkatan mas Dian, akupun segera berkemas untuk berangkat menemui janji dengan Yessi.
"Tumben pagi-pagi sudah rapi Lin, ini hari Sabtu loh mau kemana?" Sapa ibuku yang tidak biasanya melihatku rapi dalam weekend tanpa Shasy dan ketika mas Dian tugas.
"Yessi mengajak saya makan pagi Bu, dia bilang mau sekalian mengembalikan uang duapuluh juta yang ibunya pinjam tempo lalu," jelas ku dan tentu saja membuat mata ibu berbinar.
__ADS_1
"Syukurlah Lintang, ibu pikir mereka sudah lupa atau tidak mungkin akan mengembalikan, sebab dilihat dari sikap ibunya Iwan, mereka aneh sih pinjam tapi seperti penagih hutang saja," ibuku berkata sambil menerawang jauh, mengingat sikap ibunya mas Iwan yang selalu merendahkan diri kami ketika datang ataupun berbicara tentang keseharian kami.
"Untung dulu kamu nggak ikutan bisnis yang pernah ia iming-imingkan padamu dulu, kalau tidak mungkin semua pasti akan terbelengkai." Ibuku masih saja mengingat semua.
"Sudah Bu! Namanya juga orang sedang berusaha, tapi sekarang mereka sudah berubah sebaiknya tidak usah kita ingat tentang keburukannya," ayahku menyahutinya dengan suara yang khas dan lembut.
Memang tidak dipungkiri, ayah dan ibuku selalu bisa menjadi penyejuk satu diantara mereka bila terjadi ketidakcocokan dalam mengolah kata.
"Ayah.. ibu, Lintang berangkatkan dulu! Shasy akan di antar ke rumah ibunya mas Dian mungkin saya dan mas akan bermalam disana, Bu!" Ucapku mengalihkan pembicaraan sekaligus berpamitan.
"Hati-hati Lintang, bicara dengan Yessi secukupnya saja dan jangan mau bila diajak kerja sama dengannya, nanti yang ada malah menjerumuskan dirimu sendiri?" Ibuku tetap saja was-was sambil mengalihkan pandangan ke ayah, seolah aku ini masih kecil dan meminta pendapat ayah untuk menimpali pesannya.
"Sudah Bu, Lintang tentu sudah paham, kita ke belakang saja ngasih ikan makan, kantin kan ada yang jaga, yuk!" Itulah ayahku yang selalu menjadi penyejuk dikala ibu dalam keadaan gundah seperti pagi ini.
Aku melaju santai menyusuri jalan aspal yang masih sejuk di kotaku, mengendarai motor matic sambil berdendang menyanyikan lagu kesukaanku.
Tidak terlalu jauh sih... Hanya memerlukan waktu tidak lebih dari 30menit sampai di tempat tujuan.
Rumah makan masih sepi, hanya ada tiga orang yang masing-masing menikmati pesanan, pandangan mataku menyapu setiap sudut rumah makan, namun belum juga aku temukan sosok Yessi.
Ak ambil positifnya saja mungkin dia masih di perjalanan, lalu sendiri ku pesan sesuatu untuk mengisi perutku yang sudah berontak minta diisi.
Antara kesal dan gemas telah menunggu satu jam lebih namun masih juga tidak ada batang hidungnya muncul.
Klunting....
Ponselku masuk panggilan tertera sebuah nama, dan itu ternyata dari Yessi.
"Ya hallo yess... Aku sudah nunggu dari tadi, tapi kamu nggak ada juga, jadi tidak? Kalau tidak aku langsung pulang nih!"
"Iya maaf mbak, tadi saya bangun kesiangan, maklum semalam melayani kekasih sampai kewalahan, he he he, sekarang ini sedang di jalan menuju lokasi sama ayankku," suara cempreng Yessi terdengar terburu-buru memberikan jawaban padaku.
Tidak lama ku taruh ponselku dalam tas tenteng milikku, Yessi sudah didepan ku saja sambil bergelayut manja pada lengan seorang cowok yang membuatku terkejut hingga lupa mengedipkan mata, dan seketika aku berdiri.
"Loh Yessi, ini kan..!"
__ADS_1
"Eh.. iya dia calon suamiku mbak Mr Darius namanya, bulan depan kami akan menikah, mbak datang ya!" Jawab Yessi tanpa dosa dan itu jelas semakin membuatku kaget saja.
Sedangkan laki-laki yang berada di hadapanku menatap genit seperti biasanya ketika bertemu denganku, yang ku tahu laki-laki dengan nama Mr Darius itu adalah bule suami kak Shinta, benar-benar sulit aku terima dengan akal sehatku.
"Mbak.. kita langsung saja ya, ini uang duapuluh juta yang di pinjam ibu, dan ini undangan pernikahanku bulan depan, mbak datang yah!"
Aku menatap wajah Yessi yang banyak perubahannya karena operasi oplas wajahnya, antara kasihan dan bingung menghadapi situasi yang jelas akan rumit lagi kedepannya.
Mereka berdua sibuk memesan makanan, sedangkan aku sibuk menghindari tatapan mata laki-laki bule yang duduk tepat di depanku, dengan cara mencuri pandang.
Tapi aku punya solusi sendiri dengan memainkan ponselku, dan iseng mengambil foto mereka berdua yang sedang memesan makanan.
"Eh mbak sebentar saya mau ke toko seberang itu ya! Mau ambil pesanan, honey! Sebentar ya!" Yessi begitu saja berlalu tanpa menunggu jawaban dan alhasil lagi-lagi di buat bengong dengan ulahnya.
Kini hanya aku dan laki-laki bule itu dan tempat makan ini kenapa tiba-tiba sepi saja, kemana para pengunjung?
Pria bule itu beranjak dari tempat duduknya lalu perlahan mendekatiku, aku jelas saja gugup, dan beringsut menghindarinya.
"Hei jangan takut! Kamu cantik bisa donk beri nomor telepon dan kita bisa janjian menghabiskan waktu luang bersama, Heem...!" Gerakan dia begitu gesit dan meraih tanganku, aku sendiri kesulitan menghindar karena terpojok di satu sisi.
"Pergi...! Saya bukan wanita yang seperti kamu pikirkan itu," aku berusaha melindungi diriku dari serangannya yang mengarah pada tubuhku.
Buhg... Secara spontan lututku yang bergerak maju, dan tepat mengenai onderdil keramat milik dia.
Tangannya yang semula hampir saja meraih pundakku kini beralih jongkok dan memegang onderdilnya.
"Kamu! Hemm ini mahal lady, kamu harus membayarnya kelak!" Rupanya bule itu mengancam ku sambil meringis kesakitan.
"Lintang...!"
"Huh...?"
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
__ADS_1
Nah loh 😳 bule gebleg main sosor aja 🤣, dah lah kita lanjut aja bakal ada sebuah konflik nih kalau nggak salah 🤭tapi jangan lupa like jempolnya komen membangun yah 😘
Salam Sayang Selalu Sehat Sejahtera Always By RR 😘