
POV mas Dian
Ketika mas Dian mendengar nama Yessi dan mereka ada janji pertemuan dengan orang asing, tentu saja rasa tidak percaya itu seketika muncul.
Yessi yang selalu sengit dan tidak suka atas diri Lintang istrinya, kini malah melakukan janji temu antara khawatir dan curiga terhadap apa yang akan di lakukan Yessi pada istrinya tentu saja membuat mas Dian tidak konsentrasi dalam menjalankan tugasnya, namun dia harus tetap profesional dalam tugasnya.
Sedangkan dokter Dian sendiri sudah berjanji tidak akan membatasi kegiatan Lintang dalam beraktivitas selama itu positif dan tidak membahayakan dirinya, apalagi kini setelah mereka resmi menikah, dokter Dian langsung melakukan program hamil pada diri Lintang dan dirinya.
"Sayang, hati-hati, jangan percaya apapun kata Yessi bagaimanapun juga dia sudah sering melakukan perbuatan yang tidak wajar padamu, mas tidak mau kamu terluka."
Waktu serasa bergulir dengan lambat, sekian pasien yang sedang di tangani oleh mas Dian dengan telaten dan tetap menekan rasa kekhawatirannya pada posisi Lintang yang sedang temu janji.
"Sus... Pasien tinggal berapa?" Tanya dokter Dian pada seorang perawat senior yang selalu menemaninya dalam menjalani tugas prakteknya.
"Masih 2 pasien dok, dan setelah itu hari ini ada jadwal laparoskopi pengangkatan kista dok," jelas sang perawat dengan membuka table schedule.
"Baik, setelah ini tolong posisi saya digantikan dengan dokter Anita, saya ada keperluan diluar jadwal. Untuk operasi tetap saya sendiri yang menghandle," pesan dokter Dian kepada sang perawat dan sedikit bergegas untuk segera keluar menuju rumah makan gudeg Bu Broto, dimana Lintang berada.
Tidak sabar rasanya dokter Dian berjalan tergesa-gesa melewati lorong koridor rumah sakit, yang begitu luas dan besar.
Pikirannya seketika menjadi kacau ketika ponsel Lintang diluar jangkauan, lalu dokter Dian menghubungi telepon dirumah, namun jawaban ibu mertua sama saja dengan pikirannya, yaitu Lintang sedang memenuhi janji temu dengan Yessi.
Kondisi jalan raya sedang ramai-ramainya saat jam makan siang begini, walaupun lambat akhirnya sampai juga di rumah makan gudeg Bu Broto, dokter Dian memarkirkan mobilnya disisi pinggir halaman luas itu, matanya jelas melihat motor Lintang yang parkir disisi agak dalam.
__ADS_1
Sedikit membuat kelegaan tersendiri baginya, perlahan dokter Dian memasuki ruangan lebar dari pintu samping, dengan beberapa set Maja kursi kuno tempat makan para pelanggan gudeg Bu Broto.
Dokter Dian dari jauh melihat semua adegan antara bule kekasih Yessi dengan Lintang yang jelas-jelas sedang mempertahankan kehormatannya sebagai wanita dan seorang istri.
"Ya ampun Oh Lintang, kamu benar-benar wanita kuat ayo teruskan, hmm hajar dia tapi ouch... Lintang itu onderdil masih layak pakai ya ampun kasihan sarangnya sayang....!" Dokter Dian menyaksikan dari kejauhan bagaikan menyaksikan sebuah pertaruhan one pride MMA saja.
"Lintang...!"
"Huh... Mas Dian? Loh kok ada disini?" Lintang terkesiap menyaksikan kehadiran mas Dian yang tiba-tiba sudah berada didekatnya.
"Sudah sayang, ayo kita pulang saja biarkan dia?" Mas Dian menarik tangan Lintang dan mengambil ponsel Lintang yang terjatuh, lalu menuju kasir untuk meminta maaf telah terjadi kegaduhan, serta akan mengganti rugi bila terjadi kerusakan.
Setelah terjadi kesepakatan antara pemilik rumah makan, dokter Dian dan Lintang berjalan mendekati pria berkulit putih dengan dandanan keren namun meringkuk menahan rasa tidak nyaman pada sela-sela pahanya.
"Sayang... Motor biar diantar oleh jasa pengantar saja kita pulang bersama-sama," dokter Dian mencium pucuk kepala Lintang dan membukakan pintu mobil untuknya.
"Sayang minum dulu! Kamu tidak apa-apa kan? Lain kali kalau tanpa mas jangan pernah bertemu dengan mereka, mas khawatir dan mas tidak ingin kejadian serupa terulang kembali, walaupun mas tau dek Lintang bisa melakukan perlawanan namun itu sangat rentan, kekuatan wanita bukan tandingan bagi pria apalagi disaat dalam keadaan penuh nafsu," dokter Dian membukakan botol air mineral dan memberikan pada Lintang.
"Mas, maafkan aku... Ini di luar dugaanku. Tadi Yessi memberikan undangan pernikahannya dan mengembalikan uang pinjamannya duapuluh juta milik ibu, dan semua ini terjadi untung saja mas Dian datang tepat pada waktunya, kalau tidak entah apa jadinya diriku ini!" Lintang menunduk menyembunyikan wajahnya dan merasa bersalah dengan kejadian yang menimpa dirinya.
"Sudah.. kita ketempat lain saja mas ada jadwal operasi siang ini, malam kita ke rumah ibu dan besok kita melihat rumah kita, oke!" Kedip mata dokter Dian menggoda Lintang, dan itu tentu memberikan kelegaan tersendiri pada pasangan suami-istri yang sedang dimabuk asmara ini.
Sementara itu Mr Darius yang masih merasa kesakitan pada onderdil miliknya, sambil menunggu kedatangan Yessi dia berusaha mengatur rasa sakit yang luar biasa ia alami.
__ADS_1
"Hemm... Wanita itu luar biasa tapi, ini bisa menjadi bumerang bagiku, dia harus tutup mulut agar tidak buka mulut pada Shinta mengenai hubunganku dengan Yessi," Mr Darius mulai memutar otaknya untuk selamat dari kemungkinan Lintang akan melapor tentang hubungannya dengan Yessi.
Selama hidupnya mencintai dan dicintai kaum hawa, baru kali ini ia merasa kena imbasnya. Lintang yang lemah lembut seperti tidak punya nyali dan akan mudah bertekuk lutut ketika berada pada tekanan, namun malah sebaliknya dia lebih garang dari dugaannya.
"Hei honey kemana mbak Lintang? Bukannya tadi dia ada disini! Lalu kenapa dengan perutmu, ada yang salah?" Yessi yang tiba-tiba datang dan langsung memberikan ciumannya sambil tidak peduli begitu saja duduk di pangkuan Mr Darius.
"Oouuaahhhh.... Sakit honey, Ohh duduk sendiri dulu ya! Ini tadi saya ke toilet dan jatuh terbentur lantai, lalu Lintang kawan mu itu sudah pergi, dengan seorang laki-laki!" Dusta Mr Darius, tentu saja tentang Lintang bukan masalah bagi Yessi, akan tetapi tentang Mr Darius yang terjatuh dan terbentur lantai, ini yang sedikit tidak masuk akal baginya.
"Hemmm... Honey menyembunyikan sesuatu dari Yessi? Heemm jangan bohong!" Yessi rupanya tidak begitu saja percaya, namun untuk marah tanpa bukti juga akan membuatnya mati kutu.
"Dear honey, bawa saya pulang saja? Mungkin setelah mendapatkan pijitan dari tanganmu semua akan baik-baik saja, gimana?" Mr Darius benar-benar pakar merayu hati Yessi, dan ini yang sering membuat hati Yessi luluh tidak berdaya didepannya Mr Darius.
"Pulang ke rumah Mr Darius saja ya! Masa iya, kita sudah mau menikah tapi keluarga Mr tidak pernah bertemu atau membawa Yessi berkenalan dengan mereka!" Yessi merajuk lagi, sambil menyuguhkan wajah melas pada Mr Darius.
Laki-laki dengan postur tubuh macho, tinggi besar berkulit putih layaknya bule kebanyakan, namun anehnya Mr Darius ini fasih berbahasa Indonesia bahkan bahasa daerah tidak menjadi kendala baginya.
"Sabar honey, bila waktunya sudah tiba keluarga saya pasti akan datang dan kita akan bulan madu ke belahan benua dimana kamu suka, hemm ojo rewel oke!"
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
Nah loh🙄 bule jowo paling yah 🤭 elah melalang buana honeymoon nya pemirsah kagak penasaran tuh, like komen membangun aja yah, biar Rhuji lanjutin kisahnya 😂
__ADS_1
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘