Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Dua Puluh Juta


__ADS_3

Getar pada ponselku membuat mata ini sempurna membulat, karena ada beberapa saat aku abaikan, dan sekarang short message aku terima.


"Siapa dek..? Angkatlah kenapa ragu," suara mas Dian sedikit mengejutkanku, tanpa mengulang lagi aku buka saja message dari mantan ibu mertuaku.


"Assalamualaikum Lintang, ini ibu nak! Ibu mau minta tolong tapi ini sangat mendesak, ibu mau pinjam uang tidak banyak hanya dua puluh juta, sekarang ya Lintang! Ibu tau kamu nggak mungkin punya uang hanya segitu, nanti Iwan yang akan mengembalikan, ibu butuh buru buru."


Pesan WhatsApp yang sangat panjang dan membingungkan, antara aku dengan mantan mertua sudah tidak ada ikatan apapun, kecuali Shasy dengan mereka itupun kalau mereka masih mau mengakui putriku sebagai cucu dan bukan anak hasil dari selingkuhan ku yang selalu mereka tuduhkan padaku.


"Dek... Pesan dari siapa sih? Kok tiba-tiba diam!" Tanya mas dian membuyarkan ingatanku di masa lampau.


"Eemmm anu mas.... Ohh dari ibunya mas Iwan," entah serasa berat menyebut nama itu apalagi didepan mas Dian yang akan menjadi suamiku.


Mas Dian menoleh sesaat, lalu meraih tanganku dan meletakkan pada dada kirinya, seolah olah ingin memberikan rasa yang sedang berdetak normal pada jantungnya.


"Kenapa? Ada sesuatu yang menganggu sebaiknya tanggapi saja baik-baik, tidak usah membenci mereka pun jangan berlebihan dekat dengan mereka, mas takut nanti kamu dirayu mantan mertua dan meleleh, ha ha ha .... Sakit dek auch....!" Mas Dian berjingkat ketika jariku mencubit tepat mengenai pinggangnya.


Tapi jujur rasa was-was itu yang membuatku tersanjung, hal kecil saja bisa membuat dia cemburu, dan akhirnya kami pun sampai di depan rumah dengan di sambut ayahku yang masih duduk di teras rumah.


"Ayah maaf, tadi kami ada sedikit kepentingan dan tidak sengaja bertemu di tempat yang sama, jadi saya sekalian antar dek Lintang pulang," mas Dian terlebih dulu menyapa ayah setelah bersalaman, dan menceritakan alasan kenapa kami terlambat pulang.


Karena mas Dian masih akan mengurus dan memantau keadaan Siska yang tiba-tiba drop, maka setelah sedikit basa-basi dengan dengan ayah dan ibu, lalu segera minta ijin untuk kembali ke rumah sakit dimana Siska sedang dirawat.


Entah hati ini tiba-tiba m*erasa mellow ketika melihat mas Dian kembali pergi, apalagi pergi untuk bertemu dengan mantan kekasih yang masih berharap untuk bisa kembali dan menjadi bagian hidup mas Dian.


Ah.... Apakah aku cemburu...? Tentu iya! Aku cemburu dan aku jelas takut sesuatu terjadi kembali, ketakutanku jelas jelas beralasan walaupun aku sangat menyadari akan perhatian dan kasih sayang mas Dian sangat tipis baginya untuk mengkhianati cinta dan janjinya.


Tapi.... Siapa yang bisa melawan takdir Illahi...?


"Lintang, duduklah sebentar! Ayah dan ibu ingin bertanya sesuatu padamu, Shasy sudah tidur baru saja," ayah memandang ku dengan wajah serius membuat aku sedikit bertanya tanya, tidak sering ayah dan ibuku memberikan sesuatu pertanyaan yang begitu rumit padaku, hingga harus menunggu kepulangan begini.

__ADS_1


Aku pun duduk di kursi antara ibu dan ayah, mata ayah menatap penuh arti, hingga membuatku semakin bertanya-tanya.


"Lintang, sore tadi Bu Lestari datang ke rumah kita dan beliau meminjam uang. Ayah tidak bisa menolak Lintang, sebab Bu Lestari bercerita tentang Iwan yang sudah jarang memberikan uang, dan Yessi sedang di lilit hutang karena baru saja melakukan operasi di Thailand dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit," ayah terlihat men-jeda sesaat sambil sesekali menghisap rokoknya.


"Hah operasi? Yessi ayah? Lalu apa hubungannya dengan kita, yah?" Aku benar-benar tidak memiliki kesabaran dibuatnya.


"Bu Lestari tidak mengatakan apa-apa tentang sakit Yessi, namun beliau hanya bercerita kalau Yessi ingin mengubah penampilannya, hanya itu saja!"


"Dan untuk pinjam uang, Bu Lestari akan memberikan sebidang tanah yang berada di sebelah rumahnya sebagai jaminan pinjamannya kepada kita,"


Aku benar-benar di buat bingung oleh penjelasan ayah tentang permasalahan mantan mertuaku.


"Berapa yang ibu mas Iwan mau pinjam dari kita ayah?"


"Dua puluh juta!'


"Dan Lintang yakin tanah itu sertifikat masih dalam tahap proses, sebab tanah itu masih menjadi kepemilikan bersama,"


Semua menjadi diam, sesak nafas ini terasa. Ada-ada saja berita dan kejadian yang aku terima hari ini.


Kembali ponselku bergetar, aku buru-buru meraih dalam tas yang masih ada dalam pangkuanku.


Ayah dan ibuku mereka saling beradu pandang.


"Assalamualaikum"


"Lintang ini ibu nak, gimana kamu bisa pinjamin uang kan? Ibu sangat butuh Lin dan ibu buru buru, dua puluh juta saja loh, daripada tanah di samping rumah itu di gadai ke orang lebih baik ke kamu saja,"


"Ibu maaf, saya tidak mempunyai uang sebegitu banyaknya, dan lagian kalaupun ibu sangat membutuhkan, ibu kan bisa menghubungi bank setempat untuk pinjam uang, bukan pada kami disini!" Gemas aku dibuatnya, kenapa masih saja dia mengusik kehidupan ku yang sudah bukan siapa-siapa lagi dengan dirinya.

__ADS_1


"Tapi... tadi ibu sudah bicara sama ayahmu, dan mereka akan meminjamkan itu untuk ibu, kamu jangan pelit pelit Lintang, jangan mentang-mentang sudah mapan kamu begitu saja mau melupakan ibu, ibu pinjam dan bukan minta uang sama kamu!" Aku jauhkan ponsel yang aku genggam dari telingaku.


Suara Bu Lestari begitu menggelegar bagaikan terompet pecah di telingaku.


Ku lihat ayah, dengan isyarat agar aku diam dan tidak beragumen lewat ponsel lagi. Akhirnya setelah berbincang sesaat lagi ku tutup juga panggilan itu.


"Lintang... Ayuk kita bersabar nak.... Mungkin Bu Lestari benar-benar membutuhkan uang itu, pinjami saja Lintang! Toh nanti akan di kembalikan juga kan?" Ibu ku yang selalu mempunyai hati yang suka nggak tega kalau melihat orang sengsara, akhirnya ibu memberikan uang cash padaku dua puluh lima juta padaku.


"Ibu, dua puluh juta bukan nominal sedikit loh! Kalaupun iya nanti di kembalikan kita ya bersyukur, kalau tidak!" Ucapku lirih, padahal terbayang aku sedang meneruskan pembangunan tempat Modeste ku.


"Ibu saya tidak memberikan dugaan yang buruk pada dia, tapi alangkah baiknya kita berikan separuh saja, biar sisanya mereka berusaha mencari sendiri," ku kembalikan uang ibuku dan ku buka ponselku untuk menghubungi ibu mas Iwan.


"Assalamualaikum Bu, maaf kami tidak memiliki uang segitu banyaknya ini ada uang hanya sepuluh juta, saya transfer sekarang!"


"Loh dua puluh juta Lintang, bukan sepuluh juta gimana sih kamu ini!"


Sambungan ponsel yang sengaja aku loudspeaker agar ayah dan ibu bisa mendengarkan, dan membuat ayah kembali tercengang dengan gaya bicara ibu Lestari yang selalu main bentak dengan ku.


"Ibu kalau mau saya transfer kalau tidak mau ya sudah! Kami juga punya kebutuhan lain, uang dua puluh juga bukan nominal sedikit dan kami tidak mampu meminjamkan uang segitu Bu!" apapun itu, aku masih tetap menghargainya sebagai seorang ibu walaupun sikapnya padaku sedikitpun tidak pernah mau menerima.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉


etdah 😂 utang ke mantan mantu, ada nggak sih? kalau nggak ada kita adain sekarang kak 😂.


tetep continued ya bestie.


Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘

__ADS_1


__ADS_2