
Bu Lestari yang kehidupannya lebih baik dari semula, kini menjadi berkecukupan walaupun tanpa bantuan dari Iwan maupun Rahma, perkumpulan ala sosialita yang dulu pernah terputus karena keadaan kini kembali dengan sejuta bualan untuk Bu Lestari.
"Ibu... ibu... Ini loh Bu Lestari yang sebentar lagi mau mantu, mana bule lagi pasti mapan dan kaya dong, iya kan Bu?" Ucap seorang ibu yang hadir berusaha mengalihkan obrolan kaum ibu yang mulai ramai seperti lebah berdengung.
"Eh, iyakah Bu Lestari? Makin moncer aja dong. Iwan sudah nikah dengan anak pengusaha tajir. Sekarang mau nyusul Yessy dapat bule." Ibu lainya pun ikut menimpali pembicaraan mereka.
"Ah tentu dong ibu-ibu, rencana sih bulan madu mereka mau ke Eropa loh, hemm... Nanti saya bisa mintain oleh-oleh dari mereka deh buat ibu-ibu!"
"Oh ya nanti pas mereka menikah di gedung Graha Orion, semua ibu-ibu harus hadir ya... Souvernirnya pasti tidak mengecewakan,"
"Ayo... ayo makan ibu-ibu. Eh..., ini daging pilihan dan mahal loh!" Bu Lestari terus saja berusaha memamerkan apa yang sudah dihidangkan pada tamu undangannya.
"Uh... Kalau daging mah nggak usah deh Bu, kota kan jaga stamina! Makanan lek gitu bukan lagi pilihan, aku ambil buahnya saja lah!" seorang ibu yang memakai perhiasan bagaikan toko berjalan rupanya tidak mau sedikit direndahkan oleh Bu Lestari.
Tentu saja mata Bu Lestari mencelos geram demi mendengar jawaban yang baru saja ia dengar namun sebelum menjawabnya, Sebuah mobil keluaran terbaru dengan warna hitam metalik, masuk ke dalam pekarangan rumahnya. Tidak lama kemudian Yessi membuka pintu mobil yang ia kemudikan sendiri, lalu berjalan masuk dengan menenteng berbagai tas-tas kertas. Semua mata tentu mengarah pada diri Yessi yang berjalan dengan derap kaki yang mengalun bak sebuah pukulan gendang yang sengaja di tabuh di dalam kesunyian.
"Oh... Ada perkumpulan rupanya, ibu-ibu silakan, kebetulan saya membawa oleh-oleh," Yessi memberikan sebuah kotak karton yang besar dengan berisikan kue.
"Nak Yessi makin ke sini makin cantik saja ya! Duh beruntung loh... laki-laki yang akan menikahinya nanti!" Celetuk seorang ibu sambil mencomot kue yang baru saja Yessi hidangkan.
Tentu saja sanjungan yang membuat Yessi melambung tinggi yang semakin yakin mimpinya hidup mewah serta menjadi sorotan para tetangga, dan tentunya dia akan memperlihatkan kepada Lintang bahwa hidupnya kelak akan jauh lebih indah dari pada dia.
Hampir dua jam para ibu beramah-tamah akhirnya para ibu ala sosialita itu saling berpamitan. Usai sudah perkumpulan ajang orang-orang pilihan dengan segala kelebihan yang mereka tonjolkan untuk menjadi merasa lebih baik dan lebih mampu.
"Yessi.. mana Mr Dariusnya, kok kamu pulang sendiri?" Celetuk Bu Lestari sambil kembali duduk di sebelah Yessi yang masih sibuk memilah hasil berburu barang yang diinginkan dari mall dengan teman-temannya tadi.
__ADS_1
"Oh... Dia ada panggilan mendadak dari perusahaannya Bu, dan dia akan keluar kota beberapa hari, mungkin dia sibuk. Bagi Yessi tidak ada masalah, asal jajan terus mengalir, itu aja sih Bu?" Jelas Yessi panjang lebar.
"Utang ibu yang di Lintang sudah Yessi kembalikan, kita memang utang Bu, jadi wajib mengembalikan!" Senyum Yessi puas dia merasa berjasa pada ibunya yang telah mengembalikan nama baiknya dengan membayarkan utangnya duapuluh juta.
"Loh itu duit yang pake kan kamu Yess, ya wajarlah kamu juga yang ngembaliin," sungut Bu Lestari sambil berlalu berjalan kebelakang.
Tidak lama seorang asisten rumah tangga mereka masuk dan membersihkan tempat. Lalu menyapa basa-basi dengan Yessi yang masih berada di sampingnya.
"Mbak Yess... Enak donk punya cowok bule... Tapi bule suka ganti-gantian pasangan dech perasaan..." ujarnya sambil membereskan pekerjaannya.
Yessy terkesiap bagai disengat lebah, 'apa-apaan ini orang? Kurang ajar sekali berani mengomentari hal buruk kekasihku.'
"Hei, dengar ya, kamu jangan ikut campur urusanku. Dengan siapa aku akan menikah apa urusannya dengan kamu?" Teriak Yessy tersinggung, sambil berjalan ke kamarnya.
Bu Lestari mendengar suara nada tinggi putri kesayangannya, ikut menegurnya.
"Eh, maaf Nyah. Saya nggak punya maksud apa-apa kok." Jawab si asisten rumah tangga yang tak sadar ucapannya menyinggung sang majikan.
"Kamu itu cukup bekerja saja dengan baik-baik, Mr Darius kan baik, Yessi juga cantik! Mana ada laki-laki akan berpaling dari anakku, ah... Kamu ini ada-ada saja!" Bu Lestari bergumam sambil terus menatap si asisten yang masih saja menunduk sungkan.
"Bukan begitu Bu... Jaman sekarang mah orang berduit itu satu pasangan saja kurang, apalagi Mr Darius orangnya ganteng gitu, pasti banyak yang meliriknya," ternyata masih saja si asisten itu melanjutkan pendapatnya tentang Darius.
"Hei mau aku pecat apa gimana sih orang ini, diam dan lanjutkan pekerjaanmu atau kemasi barang-barangmu lalu keluar dari rumah ini, huh!" Teriak Yessi yang kembali berjalan mendekati assisten yang sangat usil itu.
"Sudah-sudah, ah... Yessi dia kan ada baiknya juga, kamu harus hati-hati! Namanya juga laki-laki sedangkan kalian masih calon belum menikah juga, kamu juga Tini! Nggak usah ikut-ikutan masalah kami," Bu Lestari berusaha melerai perdebatan kecil itu.
__ADS_1
Yessi pun kembali masuk ke kamarnya, dan berusaha menghubungi Darius hingga beratus kali namun sambungan WhatsApp hanya memanggil bukan berdering, pesan bertulis pun hanya centang 1 tanpa berubah sejak berpisah dengannya tadi siang.
"Ibu... Kenapa Darius nggak bisa aku hubungi ya! Ponselnya tidak aktif sedangkan besok pagi aku butuh uang untuk membayar pesanan souvenir yang sudah aku pesan, duh... Gimana ini Bu?" Yessi benar-benar di buat keki dengan situasi saat ini.
"Ini tidak seperti biasanya Ibu, aku berharap bukan mbak Lintang yang main embat pasangan ku, kalau memang iya benar adanya, beneran ku hancurkan hidup dia kelak!" Geram Yessi sambil menghentakkan kakinya ke lantai dimana dia berdiri.
"Loh ada apa dengan Lintang ya? Wanita itu masih saja mengusik kehidupan kamu yah, apa perlu ibu datangi keluarganya lagi!" Bu Lestari sepertiya juga terbakar omongan Yessi.
"Sebab hanya dia tadi Darius berdua di cafe saat kutinggalkan sebentar, namun setelah Yessi kembali, mbak Lintang sudah tidak ada dan tidak lama Darius pamit pulang dengan dijemput seorang supir,"
Yessi masih saja sibuk dengan ponselnya, bibirnya manyun dan matanya berkaca-kaca. Rasa curiganya bahkan kuat mengarah ke Lintang yang tadi sempat berdua dengan Darius saja.
"Kamu tenang saja dulu, kalau besok tidak bisa juga kamu hubungi, kita datangi rumah Lintang berdua! Tapi anehnya kamu kenal Darius lama, kenapa rumahnya saja tidak tau Yessi!" Kini ganti Bu Lestari yang menatap penuh selidik pada Yessi.
"Darius bukan seperti almarhum om Ricky kan Yessi?"
"Aahhh ibu! Mana mungkin aku salah pilih calon suami, ya nggak lah dia masih muda, kalau om Ricky kan memang sudah tua." Yessi tetap saja kukuh pada penilaiannya, hampir satu tahun ia berkenalan dan bercinta dengan Darius, dan dia yakin bahwa Darius masih single dan seorang pebisnis, CEO muda tajir dan tampan.
"Lalu pernahkah kamu diajak dia atau membawamu berkenalan dengan keluarganya? Sebab selama ini dia agak aneh saja Yessi! Masa iya melamar kamu seorang diri, kan aneh toh!" Kali ini pertanyaan Bu Lestari benar-benar penuh selidik.
Ruangan menjadi sunyi, Yessi pun diam seribu bahasa pikirannya menjadi semakin galau.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
__ADS_1
Nah loh 🤣 semakin kesini semakin ruweh aja ya🤧 dan semoga Yessi baik-baik saja.
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘