
Ku kendarai mobilku menuju toko kain langganan, yang selalu memberikan pilihan warna dan beberapa diskon untuk pembelian tertentu.
Ketika asyik memilih dan mencari corak yang sedang aku butuhkan, mataku mendapati sosok wanita cantik yang sudah cukup usia, dengan mengandeng laki-laki muda tanpa dan macho, sebagai wanita normal walaupun sudah bersuami juga boleh dong menilai lawan jenis.
Hanya menilai dan bukan berarti menyukai ataupun naksir, "heemm.... Sepertinya aku pernah bertemu ya dengan wanita itu? Tapi dimana? Aaahh kotaku sesempit ini kah? Bisa jadi!" Sendiri aku bermonolog mencari jawaban itu.
Tapi jiwa kepoku masih saja seputar mengingat sosok wanita cantik yang sudah cukup usia, tidak jauh dari usia ibuku itu, tapi memang dasar kaum hawa kalaupun mencari sesuatu dan itu sangat membuatnya penasaran tentu saja tidak akan menyerah sampai diujung cerita saja.
Mataku bertatap langsung dengan mata wanita itu, dan....
"Oh... Ini anaknya mantan pak lurah yang baru saja menikah itu kan? Hem...!" Mata itu dan dengan wajah yang full riasan makeup yang tebal entah berapa centi.
"Maaf ibu siapa ya? Apa kita saling kenal?" Tanyaku sambil sedikit mengerutkan keningku.
"Kita itu tetangga loh neng... Hanya beda gang saja, kamu gang 2 sedang kakak gang 3," jelasnya detail padaku, tapi kata-kata kakak yang aku dengar sedikit membuatku canggung, dan aneh saja.
Ingatanku kembali mengingat mungkin ada kejadian yang terlewatkan pada perjalanan hidupku, dan benar ibu ini pernah nyinyir di pasar basah waktu itu ketika sama-sama sedang belanja
Dulu pertama bertemu di pasar nyinyir namun kini seolah-olah menjadi sahabatnya saja. "Ibu sedang mencari kain, atau mau pesan hantaran dengan cik Sharon?" cik Sharon adalah pemilik toko besar dan biasa juga menerima pesanan hantaran segala hajatan.
"Eh.... Kok ibu sih! Biar begini tuh laki kakak masih unyu-unyu loh, tapi awas jangan main embat ya! Dulu suka was-was sih kalau lihat dek Lintang ini jalan didepan rumah, soalnya laki kakak suka duduk didepan rumah sih, tapi sekarang lega, si janda sudah nikah, hi hi hi," tawa cekikikan ibu itu menggelitik jiwaku yang sudah hampir saja berasap mendengar kata-katanya barusan.
"Heh Bu, biar saya janda dan, Saya lebih cantik sekalipun dari ibu, lebih seksi dari ibu, tapi saya jamin saya bukan type wanita yang suka merebut laki orang, ingat itu!" Emosiku sesaat benar-benar sulit aku kendalikan ucapan wanita yang baru saja bertemu denganku.
__ADS_1
"Loh jangan sewot dong, apa salahnya sih kalau aku berjaga-jaga, makanya aku harus hati-hati karena aku merasa tersaingi dengan adanya janda muda, apalagi kita bertetangga loh!" Ibu itu benar-benar seperti orang yang tidak bersalah berbicara dengan tetap santai sambil memegang pundakku, sedangkan aku yang masih diliputi emosi sedikit beringsut menghindar dari sentuhan tangannya.
"Sayang... Ada apa Hemm... Sudah selesai milih kainnya?" Seorang laki-laki muda yang pantas menjadi anaknya mendekat dengan tangannya memegang pinggang ibu itu.
Mata laki-laki muda itu jelas jelalatan melihat diriku dari atas hingga bawah tanpa sepengetahuan ibu yang dia peluk pinggangnya, matanya berkedip sambil sedikit menjulurkan lidahnya padaku, seolah-olah aku ini wanita yang hendak ia gebet berikutnya.
Merinding aku dibuatnya, entah mimpi apa semalam sampai bisa bertemu dengan orang-orang aneh di depanku, "maaf permisi! Saya mau mengambil pesanan saya!" Ucapku serasa melangkah meninggalkan orang-orang aneh ini meladeninya juga nggak ada mutunya bagiku, hanya menambah emosi saja.
"Ehh.... Tunggu dulu! Kita belum kenalan, panggil kakak yah bila kita nggak sengaja bertemu, dan nama kakak Shinta!" Karena wanita bernama Shinta ini mengulurkan tangannya, mau tidak mau akupun menerimanya, tanpa menyebut namaku karena aku yakin dia sudah tau namaku.
Lalu laki-laki genit itupun ikut mengulurkan tangannya, namun aku ragu untuk menerimanya, jadi aku hanya menautkan kedua tanganku untuk menghindari kontak fisik dengannya.
Ah.... Ada-ada saja dunia ini yang muda lupa pada posisinya, sedangkan yang tua lupa usia pun tidak mau mengakui sisi faktor yang seharusnya sadari.
Pesanan kain yang sudah aku pilih sudah siap dan tertata rapi, satu persatu sudah di masukkan kedalam mobil, lalu aku meninggalkan toko dengan perasaan yang berbagai campur aduk oleh kejadian yang baru saja aku alami.
Ponselku bergetar dengan tanpa suara, karena mode silent lupa aku alihkan pada mode dering.
"Sayang... Masih sibuk ya! Mas mau kita makan siang bersama, mas kangen dek! Separuh hari tanpamu membuat hari-hari mas serasa lambat," suara mas Dian merengek bagaikan rengekan Shasy bila berebut posisi duduk saat kami sedang bersantai ria.
"Hemm rayuan pak dokter ampuh nih, heemmmm he he he, boleh mas kita makan dimana yuk, mumpung masih di luar ini mas!" Berbunga juga hati ini ketika suami tercinta merayu apalagi mendengar suaranya yang manja tidak seperti biasanya.
Ku belokkan mobil yang ku kendarai menuju rumah sakit, menjemput mas Dian, lalu menuju menuju ke cafe tempat yang mas Dian sepakati.
__ADS_1
"Sayang... Mas ada berita buat dek Lintang, tapi janji tidak boleh sedih maupun mempunyai pikiran yang membuat dek lintang tertekan dan sebagainya," mas Dian membelai suraiku dari tempat ia duduk di samping ku.
Tangannya yang usil juga mulai berselancar mencari tempat favoritnya selama ini.
"Mas... Geli loh, masa iya semalam masih kurang! Nanti lagi sayang hemmm, dan ceritakan saja berita apa yang akan mas berikan pada Lintang, semoga tidak mengejutkan buatku!" Mulut dan hatiku jauh dari kata sinkron ternyata, keusilan tangan mas Dian ternyata membuatku nyaman dan bahkan sedikit memberikan akses untuknya menikmati.
"Dek... Belok kiri ya, lalu masuk!" Perintah mas Dian ketika berhenti di traffic light.
"Ke hotel? Bukannya kita mau makan siang di cafe okxon kenapa ke hotel ini?" Tanyaku bingung dan tidak paham dengan maksud mas Dian.
"Masuk saja dek, mas pingin makan kamu saja, semalam masih kurang, lihatlah dia sudah menggeliat ingin mencari tempat persembunyiannya yang nyaman itu!" Mas dia berucap seolah tanpa rasa canggung maupun bersalah dengan mengalihkan arah tujuan awal.
Akhirnya ku belokkan juga mobil ke arah hotel Sheraton yang berada di jalan Basuki Rahmat.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
duh mas Dian, main kurang aja sih makannya 🤭 mentang mentang sudah halal ya mas...
hiii bestie maaf saya dua hari lalu sempat ngambeg sama entun 🤭 kini balik lagi.
beri like, komen dong biar semangat 2 chapter up-nya perhari 🤭
__ADS_1
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘