
Persiapan demi persiapan untuk pernikahanku dengan mas Dian, yang hanya berselisih satu Minggu saja dengan pernikahan Ratih dan Rudi, kini pelan-pelan sudah terkumpul dan sudah hampir mencapai maksimal dengan pembagian tugas masing-masing.
Ratih dan Rudi yang kebetulan pulang ke kota tempat tinggal kami, karena harus melakukan fitting baju pengantin. juga karena Ratih sendiri harus mempersiapkan dirinya untuk mengikuti koas di rumah Sakit Umum Daerah, dan dimana tempat Siska dirawat.
Persiapan pernikahan yang hanya satu bulan saja rasanya seperti ikut perlombaan lari maraton di samping banyaknya tugas di luar. Untung saja Keluarga mas Dian dan keluargaku sendiri selalu kompak.
Kali ini aku menemani Ratih kerumah sakit daerah, sambil hitung-hitung berharap ada jadwal kosong mas Dian, mungkin bisa makan siang atau hanya sekedar berbincang saja.
Klinting... klinting....
Ponselku berbunyi sebuah short message dari mas Dian, "Dek bisa kerumah sakit susul mas! Siska kritis lagi,"
Langkahku tiba-tiba terasa berat, setiap mas Dian menyinggung Siska yang sedang dirawat dirumah sakit, hatiku serasa ngilu perasaan tidak menentu selalu mengguris hati.
"Kenapa mbak, kok mandek jalannya?"
"Emmm Siska kembali drop lagi kondisinya, mas Dian ada ruangan ICU. Kamu jalan aja dulu! Mbak akan menemui mas Dian,"
"Mbak jangan terbawa perasaan ya! Dia sakit mbak bisa saja mas Dian hanya sebagai penyemangatnya untuk melawan rasa sakit yang ia derita," Ratih yang sudah tau sebagian cerita tentang mas Dian dan Siska, dengan senyumnya tetap memberikan semangat padaku, agar aku tidak terlalu berpikiran negatif saja.
Tapi siapapun tentu tidak mudah untuk menjalani kehidupan seperti yang aku lalui sekarang, berada diantara orang-orang yang tidak pernah menginginkan kehadiran diriku.
Aku berjalan agak cepat menuju ruang ICU dimana Siska berada, melewati lorong dengan bangku-bangku yang penuh dengan orang-orang yang melakukan kepentingan bermacam-macam dari Pasien yang menunggu panggilan dari dokter untuk periksa, ataupun hanya sekedar mengantar saja.
Beberapa langkah lagi tempat yang akan aku tuju sudah di depan mata, "Lintang... Kau datang juga! Ini adalah waktu yang tepat, Lintang tolong kami tolong Siska! Dia sangat membutuhkan Dian sebagai pendampingnya, hanya ini yang Dia inginkan sebelum menghembuskan napas terakhirnya,"
Belum juga sempat aku lihat Siska dan mas Dian didalam ruang ICU yang hanya di perbolehkan satu orang saja masuk, orang tua Siska sudah memberondong kata-kata menyesakkan padaku.
"Apa yang bisa aku lakukan Bu? Semua diluar kemampuan saya, disini saya bukan siapa-siapa!" Lirih ucapku sambil melepaskan tangannya yang menggenggam tanganku.
"Ibu mohon degan sangat! Bujuk Dian untuk mau menikah dengan Siska, ibu akan memberikan seluruh kepemilikan ibu padamu Lintang, andai kamu sudi membujuk Dian, ibu mohon Lintang!"
Wanita tua itu menangis tersedu bahkan sambil mencium tanganku yang tidak bisa aku hindari.
__ADS_1
"Sudah ma... Jangan semakin membuat kesedihan, biarkan saja semua berjalan dengan alurnya sendiri. Cinta memang tidak bisa dipaksa, hanya waktu yang mampu membawa kita pada kenyataan sebagai jawabannya," laki-laki tua itu merangkulnya dengan penuh kasih sayang, disini jiwaku semakin serasa puing berserakan diantara bangunan yang rapuh.
"Maafkan istriku Lintang, semua memang harapan kami atas kesembuhan Siska, karena dia adalah satu-satunya yang kami miliki pada usia senja ini. kebijakan ada pada dirimu! Akan tetapi bila itu sangat berat bagimu untuk merelakan, abaikan saja mungkin ini adalah jalan akhir hidup kami harus begini," ucap laki-laki itu sambil menuntun sang istri untuk kembali duduk disampingnya.
Benar-benar rasa bersalah yang tidak tau dimana letak kesalahanku, perlahan aku mendekat ke dinding kaca sebagai pembatas dan sarana untuk keluarga yang bisa melihat pasien di ruang steril ICU.
Mas Dian berada di samping Siska, tangan mas Dian Mengusap pelan ujung kepala Siska.
Siska perlahan membuka kelopak matanya, senyum itu menahan rasa sakit dan pengharapan pada sebuah keinginan.
Mataku tidak mampu berkedip ketika sendiri menyaksikan interaksi dua insan yang pernah menjalin kasih dan cinta itu.
Sendiri aku menyaksikan mas Dian mencium kening Siska lalu meraih tangannya dan perlahan mencium tangan Siska lalu meninggalkan siska, keluar dari ruangan tanpa menyadari diriku yang melihatnya sejak awal.
apakah aku cemburu? tidak! ini bukan waktu yang tepat untuk mendebatkan rasa cinta, namun saat ini adalah sebuah tantangan bagiku untuk menyatakan kebijakan yang di harapkan orangtua Siska, tapi apakah itu harus begitu saja aku berikan? tidak! ini sangat berat bagiku.
Aku perlahan menyelinap berjalan menjauh, membawa rasa hati yang perih, apakah aku terlalu terbawa perasaan atau cemburu dengan keadaan? Entahlah yang jelas aku merasa berada di sebuah persimpangan jalan dengan berbagai arah.
"Mas Iwan....!" Mataku tidak percaya ketika melihat penampilan mas Iwan yang jauh berbeda dengan biasanya.
Tubuhnya yang kurus dengan rambut dibiarkan gondrong serta brewok dan sangat tidak beraturan.
Jauh beda dengan penampilan mas Iwan kala itu.
"Kenapa ada disini!" Aku dan mas Iwan sama-sama mengucapkan Kata-kata yang keluar dengan nada yang bersamaan.
"Oh ha ha ha, kok samaan yah!" Ucap mas Iwan sambil tetap berjalan mengimbangi langkahku.
"Mau ke cafe itu? Yuk!" Ajak mas Iwan padaku.
Aku mengangguk saja tanpa berkeinginan menolak ajakan dia.
Aku memilih tempat duduk yang kurasa nyaman dan sejuk dengan environment tanaman perdu di sekitar cafe sehat yang di rancang sebagai usaha lansia mandiri dirumah sakit daerah ini.
__ADS_1
Hening sejenak tidak tau harus berkata apa,"Lintang mau minum apa? Mas kopi pahit saja sama snack ringan,"
Kuraih buku menu dan kupilih minuman yang mungkin bisa mengalihkan rasa dan mood ku yang berantakan hari ini.
"Aku hot chocolate saja mas!"
Kembali sunyi... Karena aku sendiri merasa enggan bicara, "Shasy apa kabar Lintang! Bagaimana perkembangan Dia? Mas kangen tapi belum bisa bertemu dengannya,"
Sirat sendu itu memberikan sebuah kerinduan yang ia pendam sendiri.
"Dia baik-baik saja mas, tambah pinter dia!" Jawabku jujur.
"Lintang... Aku dengar dari ibu apa bener kamu mau menikah dengan dokter Dian itu?" Mata mas Iwan menatap tajam ke arahku, sedang aku hanya bisa mengangguk.
"Iya mas... Akhir bulan ini, tapi!" Entah apakah ini pantas untuk tanpaku bercerita tentang yang sebenarnya.
"Tapi kenapa Lintang! Tidak adakah sedikit hatimu untukku? Aku sangat menyesal untuk semua yang telah aku lakukan padamu, Lintang!" Mas Iwan meraih tanganku, sesak ini menggelayut pada rasa yang baru saja ku alami.
benarkah aku cemburu? Haruskah rasa ini aku ceritakan kepada mas Iwan? Ah.... Kebodohan macam apa ini, andaikan ada pihak ketiga yang jelas-jelas menginginkan diriku dan aku jadikan tempat curhat. Tidak..! tidak mungkin ini akan terjadi pada diriku, meskipun sebuah kebodohan yang kulakukan.
"Sudahlah mas...hiduplah bahagia dengan mbak Rahma dan membesarkan putra kalian bersama," kilahku sambil menarik tanganku, agar tidak terjadi kesalahpahaman antara aku dan mas Iwan.
"Maaf mas... Sepertinya aku harus pulang, soalnya tadi saya berangkat bersama dengan Ratih yang akan menjalani koas dirumah sakit ini," ucapku sambil hendak beranjak meninggalkan tempat ini.
"Kenapa harus tergesa-gesa Lintang, duduklah kita berbincang Sebentar! Mumpung kita ada waktu bersama!" sedikit tersentak ketika aku mendengar suara itu, rasa tidak nyaman seketika menggerogoti diriku.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
Piye ikih 🤧 no idea wes harus cari pangsit yang hot hot ini biar semakin semangat nulisnya 🤣
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘
__ADS_1