
Prang....prang.....
Elisabeth istri om Ricky tidak sanggup membendung kemarahannya, segala sesuatu yang ada disampingnya menjadi pelampiasannya.
"Aku akan tetap menikahi Yessi, karena saat ini dia mengandung anakku, maaf untuk satu ini aku agak egois! Aku juga tidak akan menceraikan dirimu Elisa, sampai kapanpun Dona sudah aku anggap anakku sendiri. Dan aku akan memperlakukan kalian sama dan adil."
Om Ricky bicara sambil melipat kaki, dan menyulutkan cerutu Adipati slim panatella kesukaannya.
Dona tentu saja dibuat geram oleh ucapan om Ricky yang selama ini jelas-jelas dengan telinganya dan mata kepalanya sendiri ikut menyaksikan kata wasiat almarhum sang papa, bahwa om Ricky bisa menggantikan posisi papanya jikalau bisa memberikan kebahagian pada Elisabeth dan Dona serta menganggap seperti anaknya sendiri.
"Kamu mimpi Ricky, jangan harap kamu mendapatkan satu sen pun harta dari peninggalan almarhum suamiku! Sebelum kamu berbuat licik, aku terlebih dahulu sudah memblokir seluruh aset yang kamu miliki, karena kamu tidak berhak untuk menikmatinya,"
Ucapan Elisabeth tentu saja membuat om Ricky tertawa, namun rasa takut dan was-was itu tidak bisa ia sembunyikan dari gelak tawa yang sebenarnya palsu itu.
"Kamu sedang bercanda kan Elisa, aku juga bekerja dan menghasilkan pemasukan dalam bisnis kalian, dan kalian jangan menjadikan aku sebagai jongos donk!" Sungut om Ricky sambil mengurut dada sebelah kirinya.
Elisabeth dengan sangat santai berjalan memutari kursi besar tempat duduk om Ricky, "tidak pernah dalam hidupku memperlakukan seseorang sebagai jongos untuk melayani hidup ku! Tapi tentu saja aku tidak akan dengan mudah dibodohi, ingat kamu hanya pemegang wasiat mendiang suamiku saja, dan bukan pemilik harta warisan suamiku, Dona yang berhak atas segalanya,"
"Kamu!"
"Ya kenapa? Kamu akan menuntut? Silahkan! Kemanapun kamu mencari keadilan aku akan mengikuti kebenaran,"
"Apakah kamu pernah menafkahi aku sebagai istrimu selama kita menikah? Sangat disayangkan dalam usia pernikahan kita selama lima belas tahun terakhir ini, nyatanya kamu hanya merongrong dan menikmati harta peninggalan suamiku, rupanya suamiku terlalu baik kepadamu, hingga membuat kami lupa siapa dan darimana kamu berasal!"
Senyum puas Elisabeth tersungging di bibir seksinya, wanita yang sudah berusia lebih dari 50 tahun namun penampilannya tidak kalah dengan wanita yang masih belia, apalagi yessi.
__ADS_1
Wanita dengan garis keturunan warga timur tengah dengan gurat kecantikan alami,tubuh yang langsing dengan tinggi semampai, Namun rasa syukur itu rupanya tidak berada dalam pikiran om Ricky.
"Mobil, deposit dan kepemilikan harta yang selama ini kamu pakai, sudah aku ambil alih dan itu hak Dona, tapi kamu jangan takut untuk menghidupi ****** kecil itu, aku tetap akan memberikan mu gaji sebagai rasa terima kasihku, walaupun kamu bagaikan anjing yang lupa berbakti pada tuannya, setidaknya kamu tidak menghabiskan persediaan dalam gudang, aku begitu salut dengan kebodohanmu, Ricky!"
"Kamu bicara apa Elisa, kamu egois bukankah selama ini aku tetap menjalankan kewajibanku sebagai suami, dan menjalankan bisnis property dan berbagai bisnis sampingan milik kita!" Sesak nafas om Ricky mencekik hingga terengah-engah, mimpi dan harapannya kini hanya sebuah cerita belaka, ternyata Elisabeth dan Dona terlebih dahulu bergerak cepat.
"Oh ya! Om Ricky sayang...! Harusnya hari ini adalah terakhir berada di sini, bukan berarti Dona tidak berbakti dengan om Ricky, tapi nyatanya perbuatan om Ricky sangat menyakitkan, menyalah gunakan kepercayaan kami dengan bermain asmara di dengan sahabat karib Dona, yang lebih pantas menjadi anak mu dan bukan gundik pemuas nafsumu, tragis!"
"Dona... Maafkan papa nak, kembalilah!"om Ricky berjalan terhuyung berusaha mengejar langkah Dona yang berlalu menjauh.
"Untuk apa kamu kejar! Dia bukan darah dagingmu dan dia akan pergi menjauh meninggalkan dirimu," Elisa mencekal tangan om Ricky.
" Pergi dari sini! Rumah ini sebentar lagi akan pindah hak kepemilikannya, aku akan membawa Dona kembali ke negara ku, dan ini gajimu selama lima belas tahun bersamaku." Elisabeth melemparkan sebuah ATM lalu melangkah pergi menjauh tidak menghiraukan erangan om Ricky yang sedang menahan rasa sakit pada dada kirinya.
"Oh ya.... Ricky satu lagi! Aku menginginkan perceraian kita, semua berkas sudah aku limpahkan kepada pengacara, kamu tinggal tau bersihnya saja."
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
"Mana laki-laki tua bangka itu hah....! Atau jangan jangan dia kabur dan tidak akan bertanggungjawab atas semua perbuatannya," entah mengapa kali ini Bu Lestari begitu geram dengan perbuatan Yessi yang telah terang-terangan mempermalukan keluarga, apalagi hampir sebagian tetangga kompleks di kampungnya mengetahui cerita tentang Yessi yang telah hamil duluan sebelum menikah.
"Ibu sabar kenapa sih! Yessi juga nggak tau kenapa om Ricky nggak bisa di hubungi?" Yessi serasa putus asa dengan upayanya untuk menghubungi calon ayah bayi dalam kandungannya.
"Aku akan menelepon Dona, nanti ibu yang bertanya ya! Soalnya aku malu bu."
Iwan yang semula hendak berjalan kebelakang, mendadak berhenti. "Hei... Di mana kamu menjaga kehormatan kami, kamu benar-benar perempuan murahan Yessi, mas harap si tua itu tidak kabur dari tanggungjawabnya!"
__ADS_1
"Kalian jangan begitu dong, ibu! Yessi begini semua karena ingin merubah nasib kita, aku juga tidak ingin selamanya hidup dalam cengkraman mbak Rahma, aku muak dengan gaya dia!" Teriak Yessi tidak kalah sengit kepada Iwan.
Plaakk.....
"Aaahh..... Ibuuu....!"
Rupanya Iwan sudah habis kesabarannya, tangannya begitu saja melayang dengan sekali tampar Yessi terhuyung kebelakang.
"Iwaannn...! Ya ampun sudahhh... Kenapa semua harus begini?" Teriak Bu Lestari sambil membantu Yessi berdiri dan membimbingnya untuk duduk di sofa kembali.
"Tidak bisakah kalian rukun! Huh... Anak ku hanya ada dua kenapa harus begini semua? Salah apa aku ini ya Tuhan....!" Sendiri Bu Lestari mengelus dadanya dan duduk bersandar sambil menangis tersedu.
"Menyesalkan Bu...! Sama akupun juga menyesal, tidak pernah sekalipun aku membayangkan kehidupan ku akan berakhir tragis begini!"
"Aku pergi!" Iwan melangkah tergesa dengan membawa kemarahan dan kekecewaan yang selama ini ia alami.
"Yessi bagaimana ini? Segera cari jalan keluarnya, perutmu semakin hari akan semakin membesar, dan ibu tidak mau menanggung malu,"
"jangan hanya menangis saja, semua tidak bisa menyelesaikan permasalah. hubungi Dona! buang jauh jauh gengsi dan rasa bersalah itu, calon anak kalian membutuhkan ayahnya."
Yessi semakin dirundung kesedihan, orang yang selama ini menjadi tempat ATM berjalan baginya, dan yang selalu memberikan kelebihan dalam kekurangannya untuk sebuah materi. Kini telah hilang entah kemana.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
__ADS_1
Waduh 😳 papa sugar jadi kere dong 🤧, tapi Elisa masih baik loh kasih pesangon pisan 🤣. lanjut kuy likenya donngg😘😘
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera So Pasti by RR 😘