
POV Dokter Dian
Dering ponsel itu seolah enggan berhenti sebelum tersentuh dengan tangan si empunya.
Nama yang tertera di layar ponsel, yang tidak pernah ia hapus untuk sekian tahun lamanya, itu membuat mata dokter Dian terperangah tidak percaya, Siska Anggraini mantan kekasih dokter Dian yang telah pergi begitu saja meninggalkan dirinya sendiri tanpa kejelasan dan hilang bagaikan ditelan bumi hingga beberapa tahun lamanya.
Kini telah kembali lagi di saat semua telah berubah, dengan suara tangis yang tertahan Siska Anggraini memberikan alasan kenapa ia pergi begitu saja tanpa pamit dan memberikan informasi pada dokter Dian.
"Sayang... Kenapa susah sekali menghubungimu? Aku kangen sayang...!" Jerit yang tertahan Siska ketika panggilan ponsel itu di jawab oleh dokter Dian.
"Siska... Ini benar kamu? Tapi....!" Suara dokter Dian serasa terputus di kerongkongan ketika menyebut nama mantan kekasihnya.
"Aku bisa jelaskan sayang, kamu dimana? Aku benar-benar kangen, aku ingin di peluk sama kamu sayang,"
Pada dasarnya dokter Dian sangat mencintai Siska sebagai kekasih pertama dan sebagai belahan jiwanya, pertama dan terakhir dalam hidupnya kelak, namun semua hanya sebatas cita-cita yang kandas, begitu sulit ia terima ketika Siska begitu saja pergi meninggalkan dirinya tanpa pesan, beserta keluarganya yang sama sekali tidak bisa ia hubungi, bahkan tempat tinggal untuk mereka huni pun secara misterius menjadi milik orang lain ketika dokter Dian kebingungan mencari keberadaan Siska saat itu.
Tujuh tahun bukanlah waktu yang pendek untuk sebuah penantian, penuh siksa hati dan rasa kerinduan yang sulit diterima oleh seseorang yang benar-benar mencintai dengan tulus dan penuh harapan ke jenjang masa depan.
Masa yang begitu sulit dan hampir saja mematahkan perjuangan dokter Dian yang saat itu sedang menjalani pendidikan S2 untuk jenjang spesialis obstetri dan ginekologi.
"Siska, kamu tidak sedang bercanda kan?"
"Tentu saja tidak sayang, aku kini kembali untukmu, dan aku tau kamu tidak bisa hidup tanpaku, begitupun juga dengan diriku!" Suara Siska manja tetap dengan aksen yang selalu ia gunakan ketika sedang bermanja pada dokter Dian.
"Maaf Siska, sepertinya kamu telah salah kalau mencari diriku lagi, aku tidak mungkin kembali padamu."
Dokter Dian mematikan sepihak panggilan telepon itu.
Ponsel kembali berdering namun dokter Dian mengabaikan, dan mengganti dengan mode silent kembali.
Lalu tidak lama sebuah message terkirim dari Siska.
__ADS_1
"Aku tidak perduli apapun alasanmu, jemput aku di jalan Mastrip 13! Bawa aku ke tempat biasanya, Aku akan menjelaskan semua padamu!"
Mata dokter Dian mengembun sendu, bahkan hatinya bergetar bukan pada kerinduan, namun pada rasa kemarahan yang sulit ia lontarkan pada seseorang yang teramat sangat dia kasihi dan cintai, melebihi pada dirinya sendiri.
"Siska.... Permainan apalagi yang telah kamu mainkan pada hidupku? Hampir saja kamu memporak-porandakan hati lemah ini, sekian tahun kamu pergi tanpa pesan dan kabar, kini kamu kembali dengan mudah hanya mengucapkan kata maaf saja, kamu terlalu naif," dokter Dian merasa menebal wajahnya aliran darah seakan berhenti, ketika sendiri mendesiskan nama Siska.
Siska gadis pujaan dokter Dian yang selalu berpenampilan rapi, cantik cerdas, dan selalu manja adalah impian semua laki-laki, perkenalkan mereka terjadi pada saat saling menempuh pendidikan kedokteran.
Pada waktu itu Siska adalah siswa yang sedang melakukan koas dan dalam bimbingan dokter Dian sebagai seniornya pada waktu itu.
Cinta itu hadir dengan seiringnya waktu berjalan, penuh rasa sayang dan saling percaya satu sama lain, hingga hari yang sudah di tentukan pun telah tiba, hanya tinggal menghitung dentang waktu janji ijab kabul yang sangat sakral itu, harus berakhir tanpa sebuah pengakhiran dan selamat tinggal.
Siska raib begitu saja bersama keluarga, tanpa jejak. bukan hanya rasa malu saja, namun rasa sakit itu nyatanya masih saja terasa hingga saat ini.
Lamunan dokter Dian buyar, tatkala melihat dari kejauhan Lintang dan Shasy dengan tawa lepas sambil berjalan menuju tempat duduknya, Shasy lantas mengulurkan tangannya untuk salim.
"Lintang kau telah mampu membalut luka yang ada pada diriku hingga mengering dan totally sembuh, dan akupun berjanji pada diriku akan membalut lukamu, tapi aku biarkan celah luka itu kembali merobek lagi, meskipun itu Siska orangnya." Dokter Dian kembali bermonolog lagi
"Dek hari ini mas ada teman lama yang mau bertemu sore nanti, mungkin dek Lintang mau menemani mas?" Tawar dokter dia pada Lintang dengan maksud bila Lintang dan ikut dengannya, tentu tidak akan ada celah bagi Siska untuk bersikap seolah-olah mereka masih ada ikatan asmara seperti beberapa tahun lalu.
Siska masih saja berusaha untuk menelepon dokter Dian, terbukti ponsel miliknya intens bergetar walaupun dalam mode silent.
Sebenarnya Lintang merasa sedikit aneh, kenapa panggilan ponselnya selalu tidak di jawab sedangkan posisi dokter Dian bukan sedang cuti.
Namun sedikitpun Lintang tidak menaruh kecurigaan yang berarti, dia bahkan beranggapan mungkin dokter Dian sedang tidak ingin di ganggu atau sebagainya, karena memang tidak mudah baginya untuk mencari waktu luang disaat waktu kerjanya yang harus on-time.
Setelah mengantar Lintang dan Shasy pulang, dokter Dian sesaat termenung sendiri di area parkir pada alamat yang sudah di berikan oleh Siska Anggraini.
Wajah cantik nan manja milik Siska itu, saling beradu dalam bayangnya sedangkan senyum tulus dan penuh kasih serta kelembutan Lintang yang telah menjadi bagian dalam hidupnya kini.
"Siska apa maumu!" Nafas berat itu kembali menguar sesak, ketika mengingat kembali masa lalu yang membuatnya terombang-ambing.
__ADS_1
Sebuah rumah sederhana jauh dengan keadaan sebelumnya, tertera nomor 13 alamat yang di berikan oleh Siska.
Rumah sederhana dengan berpagar besi pendek dan tertutup, sepi seperti tanpa penghuni Dokter Dian memencet tombol bel yang berada di sisi pagar itu.
Wajah tua namun masih jelas terlihat garis kecantikan alami tercengang ketika mengetahui kedatangan dokter Dian tepat di depan rumahnya.
Gurat tua yang semakin jelas terlihat, nampak semakin berkerut ketika dokter Dian menyapa dirinya.
"Tante... Assalamualaikum!" Tangan tua itu mengulur dan saling bersalaman.
"Dian kamu!"
"Iya Tante, ini saya maaf! Saya kesini atas permintaan Siska, apakah dia ada?" Benar-benar situasi yang sangat canggung.
"Maafkan Siska, Dian!"
"Semua sudah berlalu Tante," dokter Dian berusaha tetap tegar dan tersenyum walaupun pahit kenyataan yang sebenarnya, cinta yang dia berikan tulus hanya untuk Siska, namun pengkhianatan yang ia dapatkan.
"Hii... Sayang... Mam.. Siska. Mau keluar dulu dengan Dian, mama nggak usah khawatir! Siska akan baik-baik saja." Suara Siska yang selalu ceria, tidak sedikitpun berubah, hanya saja tubuhnya yang dulu sintal padat berisi, kini kurus dan tidak terdapat dandanan yang dulu selalu melekat pada dirinya.
Bulu mata yang selalu lentik, lipstik yang selalu merah memikat, kini telah terjadi banyak perubahan pada diri Siska, termasuk hijabnya.... Ya! Siska sekarang berhijab dengan penampilan yang lebih tertutup.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
nah loh Iki piye dong! ini calon pelakor apa cinta lama bersemi kembali🤔
entahlah biar tetep jempol saja yang berkisah, saran dan like serta plus plusnya ya kak 🤭 biar semakin syahdu menghalunya.😅
Salam Sayang Selalu by RR 😘
__ADS_1