Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Ketentuan Hati


__ADS_3

Aku menoleh kearah dimana berasalnya suara datang, ibunya mas Iwan berjalan dengan sedikit tergesa-gesa sambil melambaikan tangannya padaku.


"Kebetulan kalian bisa ketemuan disini, ini moment langka sebenarnya,"


Ibunya mas Iwan mengambil tempat duduk tepat disampingku, lalu menghela nafas dan setelah itu memesan minuman kepada seorang pelayan yang menawarkan padanya.


"Lintang.... kebetulan kita bertemu disini, bagaimana kalau kita bahas tentang hubungan kalian kembali, ibu yakin diantara kalian masih ada rasa cinta itu. Tentang kejadian beberapa waktu lalu itu sebaiknya kita lupakan saja, sebab waktu itu bisa saja kami khilaf!" Ibu mas Iwan dengan lancar berbicara setelah meneguk minuman yang baru saja dikirimkan oleh pelayan.


Uhuk...uhukk...


Kerongkonganku terasa tersumbat dengan air liurku sendiri, pernyataan yang sangat mengejutkan diriku setelah sekian lamanya usaha ibunya mas Iwan untuk mempersatukan antara aku dan mas Iwan.


"Lalu mengenai hutang ibu yang kemaren itu, ibu mohon kamu bisa melunasi biar genap dua puluh juta dan tanah di samping rumah ibu itu sebagai jaminan hutang ibu, gimana oke kan?"


"Loh ibu! Kok hutang? Apa maksud ibu dengan hutang duapuluh juta itu?" Mas Iwan seperti orang kebingungan dengan pernyataan yang ibu berikan secara tiba-tiba pada perbincangan tidak sengaja dalam pertemuan ini.


"Loh uang yang untuk operasi muka Yessi kan uang hasil pinjaman dari Lintang, kalau nggak mana mungkin ibu mampu memenuhi permintaan Yessi," kejujuran ibu mas Iwan tentu saja membuat mas Iwan terdiam sambil matanya tidak berkedip menatap sang Ibu.


"Lintang sekarang kan sudah mapan, dan mempunyai bisnis Modeste sendiri jadi uang segitu bukan apa-apa buat dia, iya kan Lin?"


"Kamu mana bisa mencukupi keluarga orang tuamu sendiri, perhatianmu hanya tertuju pada Rahma dan putramu yang masih saja berada dirumah sakit, entah sampai kapan itu!"


"Ibu, cukup! Ibu sungguh keterlaluan, ibu tidak sadar apa yang sudah ibu ucapkan baru saja, itu semua juga keinginan ibu yang ibu tekankan pada diriku, ibu masih sadar kan?" Mas Iwan terbawa emosi dengan menggebrak meja, matanya nanar menatap kepada ibunya.


"Lintang maafkan mas, aku sangat sadar kesalahan ini semua terletak pada ketidakmampuan mas untuk menjaga keharmonisan yang terkikis oleh ambisi serta keegoisan, kini semua sudah terlambat, maafkan keluarga mas!" Tangan mas Iwan menggenggam tanganku sedangkan ibu mas Iwan sepertinya mulai ketakutan dengan kemarahan mas Iwan yang tiba-tiba.


Aku...? Aku hanya mampu berdiam diri dengan berbagai pikiran yang masih saja bingung dengan sikap ibu mas Iwan yang lebih mementingkan kebutuhan Yessi dan tidak pernah memilah mana yang benar dan mana yang tidak seharusnya ia lakukan.


"Maaf mas, sepertinya aku harus pergi. Mungkin Ratih sudah menungguku, maaf!" Ucapku seraya menarik tanganku dan berusaha untuk menghindari semua kekacauan yang seharusnya aku tidak berada didalam permasalahan mereka.


"Tunggu Lintang...! Berilah waktu untuk diriku membenahi semua kesalahanku padamu, aku masih mencintaimu Lintang, kembalilah padaku!" Mas Iwan menatapku intens dan ini tentu saja membuatku merasa risih.

__ADS_1


"Maaf mas... Ini tidak mungkin! Diantara kita sudah tidak ada ikatan apapun, kecuali ikatan darah anak kita. Semua mustahil mas, maaf!" Aku tetap berusaha menarik tanganku namun mas Iwan masih juga enggan melepaskan.


"Mas... Lepaskan tolong!" Ucapku mengiba sambil sedikit meronta. Namun mas Iwan tetap saja diam bahkan perlahan ia berdiri dan membawaku berjalan keluar cafe sambil tetap menggenggam erat tanganku yang sudah mulai panas.


"Mas... Lepaskan tolong mas...!" Teriakku sambil tetap meronta.


"Lepaskan Dia pak Iwan?" Ketika aku menoleh ternyata mas Dian sudah berada di belakangku dan meraih sisi kanan tanganku.


"Lepaskan! Jangan pernah melukai sedikitpun dari kulitnya," suara mas Dian lirih namun penuh dengan sebuah penekanan.


Mas Iwan melepaskan sisi kiri tanganku, lalu mas Dian membawa diriku kedalam peluknya.


"Maaf, Saya tidak bermaksud melukai Lintang," mas Iwan terlihat gugup dan berusaha memperbaiki posisinya.


"Iwan... Sebaiknya kita pulang saja, ayok kita selesaikan baik-baik permasalahan kita!" Ibu mas Iwan langsung saja menarik lengan mas Iwan.


Sungguh semakin kesini aku semakin bingung dibuatnya oleh setiap kelakuan mereka padaku. Ada apa sebenarnya dengan mereka, bahkan ibu mas Iwan tetap aja membahas tentang uang duapuluh juta padaku benar-benar membingungkan saja.


"Dek... Kenapa kamu bisa sampai disini dengan Iwan? Bukannya tadi ada di depan ruang ICU?" Mas Dian membawaku melangkah menuju ruangannya kembali.


"Kenapa diam dek? Kamu marah, atau cemburu ketika aku mencium Siska? Percayalah! Siska hanya teman saja atau saudara itu yang lebih baik, dek Lintang jangan khawatir!" Mas dia seperti mampu membaca semua yang aku takutkan.


"Mas... Aku tadi tidak sengaja bertemu mas Iwan, dia..."


"Mas tau dek, mas mengikuti mu sejak kamu pergi meninggalkan tempat Siska dirawat, anak pak Iwan sekarang di rawat di rumah sakit ini, jadi dia kadang menjenguk putranya." Mas Dian seperti memberikan penjelasan padaku, yang sebenarnya tidak aku butuhkan.


"Mas..."


"Hem.. ya sayang!"


"Apakah mas bersedia menikah dengan mbak Siska?" Tanyaku sambil menunduk merasakan kembali betapa perihnya hati ini ketika melontarkan pertanyaan itu.

__ADS_1


"Kenapa? Apakah dek Lintang masih mencintai Iwan? Katakan Dek! Pernikahan kita hanya tinggal menghitung hari saja," tatapan tajam itu begitu menghunus serasa ingin merobek isi hatiku.


"Mas jangan marah, maafkan aku, mungkin aku salah dalam penyampaian. Ibu mbak Siska berharap hubungan mas Dian dan mbak Siska kembali terjalin, sebab mereka berdua beranggapan mas Dian adalah kehidupan bagi mbak Siska," lirihku sambil menyimpan rapat-rapat sedihku saat menyampaikan harapan ibu Siska pada mas Dian.


Sunyi... Tiada sepatah katapun untuk menjawab pertanyaanku dari mulut mas Dian, hingga beberapa saat aku merasa asing dihadapan mas Dian, ini yang membuatku semakin kikuk kembali merasa bersalah.


Mas Dian lalu duduk pada kursi dan kembali matanya menatapku, tanpa suara dan tanpa kata-kata, hingga beberapa saat.


"Mas... Jangan diam mas! Katakan sesuatu padaku, semua ini bukan berarti aku masih menyimpan rasa pada mas Iwan, tapi semata hanya karena permintaan seorang wanita yang sedang dalam keadaan sakit dan berharap kesembuhan, dan itu kamu mas!" Benar-benar ucapan yang sangat menyakitkan bagi diriku sendiri.


Mas Dian tetap saja tanpa reaksi, bahkan matanya semakin tajam menghujam kearahku, dengan Perlahan ia berdiri dari tempat duduknya, berjalan mendekat kearahku.


"Apakah jika mas menikah dengan Siska adalah jaminan untuk kesembuhannya, lalu siapa yang akan menjamin kebahagiaan itu bisa dengan mudah kita dapatkan?"


"Jangan pernah memaksa hati bila tidak sanggup melakukan yang sebenarnya, antara mas dengan Siska sudah usai beberapa tahun lalu dan tidak akan pernah terulang lagi, kita akan menikah dan itu sebuah pilihan yang sudah kita sepakati bersama,"


Mas Dian berdiri lalu menarik tanganku, berjalan keluar ruangan menuju ruang ICU dimana Siska berada.


Tergolek lemah dengan alat bantuan yang menempel pada tubuhnya sebagai penunjang kehidupannya.


"Lihatlah sayang... Dia sudah mulai bisa menerima apa yang seharusnya Ia alami, Siska akan sembuh dan dia akan melihat kita menikah, dan yang jelas bukan sebaliknya, Minggu ini Siska akan menjalani pengobatan medis secara intensif dirumah sakit Singapura," mas Dian menggenggam erat tanganku lalu mencium keningku.


"Jangan selalu terbawa perasaan nyonya Dian, semua akan berjalan baik-baik saja, kita akan menikah mas sudah tidak sabar untuk memilikimu utuh!" Ucapan mas Dian berakhir pada sebuah pelukan yang hangat dan itu membuat tangis yang tertahan akhirnya tertumpah juga.


"Mas..."


"Ssstt... Sudah! Jangan banyak pikiran jangan pengaruhi masa-masa menuju kebahagiaan kita dengan pikiran sampah sebagai penghalangnya, Relax!"


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉

__ADS_1


Tuh...! tetep aman pemirsah tetep ke pelaminan kok 🤭 tetep ikuti kelanjutannya jangan lupa like jempolnya donk plus komen membangun 😉


Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘


__ADS_2