
Bangunan rumah dengan jenis vintage modern bercat putih bersih dan sangat asri dengan berbagai tanaman hias dan berpagar kokoh walaupun berada di pemukiman yang baru saja di buka semula lahan kosong dan kini di fungsikan sebagai perumahan elite di wilayah tidak jauh dari rumah Ayah dan ibuku.
"Waah.... Ini rumah mas? Yah sering loh lewat sini mas, tapi nggak tau kalau ini rumah mas Dian," binarku kagum setelah turun dari mobil.
Mas Dian menggandeng tanganku masuk menuju ruangan yang sudah 80% ready untuk di huni.
"Jadi selama ini mas telah mempersiapkan rumah untuk kita jauh sebelum mas berani mempersunting dek Lintang,"
"Sayang... Ini rumah kita! Dan mas akan buka praktek disini, jadi waktu kita jelas akan banyak untuk bersama sayang," mas Dian merangkulku dari belakang sambil mengecup tulang selangka.
"Sayang banyak pak tukang loh, jangan begini ish...malu tau!" Walaupun sebenarnya aku sangat menikmati sentuhan hangat mas Dian, akan tetapi jelas aku tidak ingin begitu saja mengumbar kemesraan ini untuk umum.
"Mereka bekerja sayang, jelas tidak akan ada waktu untuk memperhatikan ulah kita saat ini," bukannya berhenti berulah usil, mas Dian malah semakin mempererat pelukannya.
"Walaupun kita tinggal dirumah sendiri, tapi tidak jauh dari rumah ibu kan! Lagipula dek Lintang bisa tetap melakukan aktivitas disana," mas Dian kembali berbicara sambil menuntunku ke halaman samping yang rindang dan tumbuh pohon mangga yang sudah mulai berbunga.
"Hemm mas... Pohon mangganya bakal berbuah lebat ini, bisa tinggal petik dong," Tentu saja aku sangat senang di buatnya.
Rumah baru, dengan segala kesejukan yang tidak beda jauh antara situasi dirumah orangtuaku dan situasi rumah orangtua mas Dian sendiri.
"Mas sudah mempersiapkan jauh-jauh hari dek, jadi bila dek Lintang nanti hamil dan ngidam mangga, mas tidak susah-susah nyuri di tempat orang," mata genit mas Dian berkedip nakal, sambil meraih dan mencium punggung tanganku.
Wanita mana yang tidak tersanjung, seorang istri mana yang tidak akan bahagia dengan upaya suami untuk membahagiakan pasangannya.
"Mas... Terimakasih, ini sangat indah mas! Dan tentu saja Lintang sangat bahagia!" Aku tidak peduli lagi dengan sekitar, dan sendiri aku melanggar kata-kataku tentang mengumbar kemesraan, nyatanya sekarang aku malah menghambur dalam pelukan hangat mas Dian.
Mas Dian rupanya menyadari akan hal itu, dia pun tertawa dan membalas pelukanku sembari memberikan kecupan pada ujung kepalaku.
Saat aku sedang menikmati pelukan mas Dian dibawah pohon mangga nan rindang ini, mataku menangkap sebuah bayangan sosok wanita yang tidak lain adalah kak Shinta.
__ADS_1
Dia sedang asyik duduk berdua dengan laki-laki yang kemaren juga berdua dengan Yessi, oh ini akan menjadi cerita baru lagi bila Yessi mengetahui tempat ini.
"Mas kita kedalam yuk! Sepertinya didalam lebih asyik atau kita lihat kolam ikan koi yang di belakang itu, mungkin dia lapar mas, yuk!" Ajak ku sambil menarik tangan mas Dian tidak peduli dengan pandangan mas Dian yang penuh tanya.
Aku berjalan menuju halaman belakang yang tidak luas namun tertata dengan asri menjadi taman dengan nuansa Minimalis.
"Dek kamu kenapa sih kok seperti ketakutan begini, ada apa?" Mas Dian menatapku.
"Oh... Tidak tidak mas, aku oke! He he he aman mas," dustaku pada mas Dian, namun tidak mudah bagiku untuk menyimpan rasa ini, sedangkan secara pasti tentu mas Dian juga akan menaruh curiga.
Klunting... klunting....
Ponselku berdering bertalu-talu ingin segera ku sentuh, sebuah nomor berjajar rapi pada layar ponselku.
"Rumah mas Iwan! Hemm tumben, dan ada apa ini? Kenapa aku jadi tidak nyaman dengan panggilan ini ya!" Dalam hatiku ragu dan bertanya tanya sendiri.
"Mantan mertua? Ada apa dek, bukannya Kalian tidak ada janji atau sedang punya rencana, kan?" Tanya mas Dian tentu saja juga merasa aneh dan akupun hanya memberikan anggukan kepala tanda reaksi tanpa suara iya ataupun tidak.
"Jawab saja dek, mas akan menemui pak tukang, Setelah ini kita belanja perabot ke IKEA, oke!" Mas Dian Mengusap pundakku dan berjalan menuju para tukang yang masih mengerjakan pekerjaannya.
Aku tersenyum dan mengangguk sambil memandang ponselku dan menjawab panggilan itu.
"Hallo,"
"Mbak Lintang ini aku Yessi, ini mengenai kekasihku ya! Kenapa setelah bertemu dengan mbak Lintang semua jadi berubah? Apa yang telah mbak Lintang katakan padanya, sudah berani menghasut dia?"
Tentu saja pertanyaan yang bertubi tubi dan mengejutkan diriku, membuat sedikit bingung.
"Hei... Kenapa diam saja! Katakan sesuatu mbak, dimana kamu sembunyikan calon suamiku, masih saja mengembat laki orang, apa laki mbak nggak bisa hot diranjang sehingga kurang belaian, huh!" Yessi benar-benar tidak memberikan peluang untukku menjawab semua tuduhannya.
__ADS_1
Setelah hening sesaat baru aku membuka mulut untuk menjawab semua ucapan Yessi, "Yessi tolong jaga sikap dan seluruh ucapan kamu, bisa nggak kamu berkaca pada dirimu sendiri dan lagian kamu ada buktinya atau tau darimana kamu langsung saja main tuduh aku ngumpetin laki kamu, bisa saja dia pulang pada istrinya!" Menahan emosi sebenarnya aku menjawab tuduhan Yessi.
Ini lagi-lagi fitnah untukku, hal yang sudah pernah mereka lakukan padaku.
"Alah mbak jangan iri kamu ya melihat orang sukses, dari segi manapun mbak kalah donk sama aku, aku masih muda kenceng dimana-mana juga, cantik dan berpendidikan! Lah kamu sana ngaca saja sendiri," masih saja bicara tanpa beban bahkan dia selalu merendahkan diriku, benar-benar diluar nalar Yessi begitu saja main tuduh tanpa mencari kebenaran.
"Yessi... Oke dari segi apapun aku kalah, tapi ingat satu hal aku bukan pelakor dan asal embat laki orang, sudahkan kamu mencari siapa laki-laki itu, dan bagaimana latar belakangnya, dia punya istri atau bagaimana keluarganya, lagi satu pesan Yessi! Antara aku Kamu tidak ada hubungan apapun juga, kalaupun ngomongin masalah harga diri, jelas aku sama kamu beda jauh! Kamu bukan diantara levelku, ingat itu!" Ku matikan sepihak panggilan itu, rasa sesak ini benar-benar menghujam jantungku, kenapa kehidupanku masih saja mereka jadikan sebagai rintangan.
Ingin rasanya ku bongkar saja semua rahasia laki-laki itu dengan apa yang pernah aku lihat, tapi itu bukan sesuatu yang mudah sedangkan kedepan jelas aku akan hidup bertetangga dengannya.
"Aahhh... Dunia ini kenapa selalu sempit, jarak tempat beda kota masih saja bisa melihat kehidupan orang-orang yang sudah tidak seharusnya aku ikuti, tapi kini kenapa menjadi sebuah petualangan baru untukku."
Aku berjalan mencari keberadaan mas Dian dan ternyata dia juga mengamati ku dari balik jendela besar yang menghubungkan ruang belakang dengan taman mini ini.
"sayang sepertinya ada sesuatu yang mengganjal pikiran, kenapa?" Mas Dian meraih tanganku dan mengajakku duduk di sebuah bongkahan kayu besar yang rencananya akan dijadikan sebuah tempat duduk dengan konsep jadul kesukaan mas Dian.
Haruskah aku bercerita jujur? Sedangkan ini hanya sebuah kesalahan pahaman belaka antara aku dan Yessi.
"Yessi mas, bukan masalah berat abaikan saja!" jawabku sambil duduk disebelahnya, namun belum juga pantta ku menyentuh tempat duduk itu, mas Dian sudah meraih pinggangku dan menghempaskan dalam pangkuannya.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
To be continued 😉
Bener bener cari gara-gara lagi tuh si Yessi, nanti kena kurma dibilang nasib juga tuh 🤣
Lanjut lagi yuk bestie, like sama plus-plusnya donk 🤭
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘
__ADS_1