
Berat hati rasanya Darius melakukan semua itu terhadap Yessi hanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
Matanya semakin panas ketika menyaksikan Juno melahap tubuh Yessi yang sudah hilang kendali, hanya kenikmatan saja kini yang menari diantara serpihan hati mereka berdua.
Beberapa foto dari ponsel sudah didapatkan, pergulatan mereka membuat daya tahan Darius sulit juga ia kendalikan sendiri.
"Honey... Kamu dimana...?"
"......."
"Tunggu aku akan menjemputmu, aku ingin menghabiskan waktu luangku bersamamu." Darius mematikan panggilan ponselnya yang ia tujukan pada Shinta, matanya kembali menyaksikan pergulatan antara Juno dan yessi di balik tempatnya bersembunyi.
Perih rasa hatinya, namun senyumnya penuh kelicikan membodohi sepasang manusia yang sebenarnya juga sama sama pemburu kepuasan belaka.
🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️
Sementara di tempat spa and treatment tempat Bu Lestari melakukan kegiatan untuk memanjakan dirinya sendiri, sambil menunggu Bu Lestari menghabiskan waktunya dengan sekedar membuka majalah bacaan terbaru, dan di situ terdapat satu halaman penuh pamflet usaha Lintang yang sedang mempromosikan usahanya untuk menggaet para pemuda-pemudi yang berkenan melakukan pendidikan di bidang desain mode dan merancang mode, dengan bimbingan beberapa orang-orang yang berada di sekitar Lintang yang menjadi pengajar dan pendukung pada usaha modeste-nya.
"Aaahh... Perempuan itu ternyata lebih luas wawasannya setelah mengepakkan sayapnya sendiri, harusnya Iwan berusaha meraih cintanya lagi, bukan diam saja menerima kenyataan yang seharusnya tidak ia nikmati saat ini," batin Bu Lestari menyesali sikap Iwan yang lebih menerima meneruskan kehidupannya dengan Rahma.
"Tapi Rahma juga baik sih, selain orang tuanya yang kaya, bisa saja setelah dia tidak mampu melayani Iwan, mereka akan bercerai juga. Aaahh.. semoga saja!" Doa seorang ibu yang selalu menjerumuskan anak-anaknya demi kekayaan dan mimpinya akan hidup makmur tanpa harus banyak berusaha dan keringat karena letihnya berusaha.
Hawa sejuk dengan irama terapi yang tercium oleh indera penciuman para pengunjung yang tidak seberapa itu, sebab selain tempatnya yang bonafid, biaya untuk sekali treatment bukan kaleng-kaleng sebenarnya, karena merasa Darius yang akan membayar seluruh biayanya, maka Bu Lestari tidak ragu untuk memilih tempat ini.
Sudah menunggu 30 menit lamanya belum juga mendapat panggilan untuk gilirannya, namun pendengaran Bu Lestari terusik dengan suara sambutan para pelayan yang membukakan pintu karena ada pelanggan masuk lagi.
"Hallo selamat siang costumers Beauty Care and Soul, silahkan menunggu appointment anda sedang kami proses." Costumers servis itu sangat sopan dan bersahabat layani mereka yang baru saja datang.
Mata bi Lestari terlihat berbinar ketika mengetahui siapa yang datang, dia pun bergeser dari tempat duduknya tanpa di minta.
__ADS_1
"Loh ibu... Di sini juga toh? Hemm apa kabar ibu, oh ya kenalkan ini Icha adek perempuan mas Dian," dengan sopan dan tanpa tendensi apapun Lintang tetap ramah pada Bu Lestari, sambil mengulurkan tangannya.
Begitupun dengan Icha yang sudah tau banyak siapa Bu Lintang dan bagaimana karakternya, hanya melempar senyuman saja sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, kebiasaan yang selalu ia terapkan sendiri, bahkan kebanyakan orang Indonesia adalah berjabat tangan dengan seseorang yang bertemu dalam suatu acara ataupun perkumpulan sebuah anggota maupun didalam kegiatan.
Mereka akhirnya saling duduk berdekatan, kursi sofa yang memang disediakan dan dalam kondisi yang sangat nyaman, sebagai service tempat untuk memanjakan pelanggannya.
"Lintang disini treatmentnya itu mahal loh, kok kamu juga disini? Apa nggak sayang uang tuh hhemm...!" Bu Lestari berbicara enteng seperti tanpa ada beban dosa saja.
"Eh... Iya Bu... Saya hanya facial saja sih Bu, bukan melakukan treatment yang menguras kantong tuh," jawab Lintang santai saja, sebab bagaimanapun juga ia sadar debat dengan Bu Lestari yang ada hanya menambah rasa malu saja.
"Kalau kamu! Juga hanya facial? Kalian itu masih muda rawat diri baik baik, tapi di tempat ini mahal sih, sekali spa saja bisa ratusan ribu, belum lagi plus-plusnya bisa jutaan aja tuh, he he he," Bu Lestari semakin kesini semakin membuka peluang bagi dirinya sendiri untuk menyombongkan kemampuannya pada Lintang dan Icha yang hanya mendengarkan saja.
"Oh ya nak Icha suaminya kerja dimana? Apa iya dokter juga?" Bu Lestari rupanya sedikit kepo juga pada diri Icha yang selalu berdandan ala kadarnya dan tidak menonjolkan bahwa dirinya mampu dalam segi ekonomi.
"Oh, saya hanya ibu rumah tangga Bu, dan suami saya bekerja di bidang konsultan manajemen di bidang engineering," Icha hanya memberikan sedikit pengertian saja untuk Bu Lestari, sebab mau detail juga belum tentu bi Lestari mampu menerima penjelasan Icha.
"Ohhh di bidang transportasi ya Bu, maaf kalau boleh tau nama perusahaannya Bu! Siapa tau familiar dengan kami,"
"Bisa begitu ya, tapi ibu yakin dech kalian nggak akan pernah tau jasa logistik ini gede loh sampai ke mancanegara juga,"
"Lintang kan biasa mendatangkan kain dari Turki atau ambil kami sari dari India karena ada pemesanan tertentu yang harus dia layani," keusilan Icha membuat Lintang hanya berdiam sambil menahan tawa, mana ada dia pernah pesan kain Sampai keluar negeri kalau bukan Icha yang sedang mengibul saj.
"Shidex... Iya logistik dia bernama Shindex,"
"Hah....Shindex...!" Pekik Lintang dan Icha hampir bersamaan.
Karena yang mereka tau Shindex sedang dikelola oleh seorang wanita yang 3tahun suaminya meninggal karena overdosis dan sempat menjadi tranding topik di beberapa media sosial.
"Lah... Kalian kaget kan! Ya dia calon mantu ibu,!"
__ADS_1
"Ibu Lestari silahkan giliran anda, ibu bisa ganti baju kemben disana, mari!" Seorang yang melakukan pelayanan pada Bu Lestari mempersilahkan masuk karena sudah tiba gilirannya.
"Ibu masuk dulu ya, nanti kita sambung lagi! Ibu ada banyak cerita untukmu Lintang!" Bu Lestari berlalu masuk dan menyentuh pundak Lintang dengan lembut, sungguh itu adalah sentuhan pertama kali yang pernah ia rasakan selama kenal dan pernah menjadi menantunya dulu.
"Mbak... Dia nggak sadar apa gimana sih, PT Shindex kan pemiliknya seorang wanita dan tidak memiliki keturunan apalagi seorang cowok, hadeh mantan mertua mbak aneh-aneh saja he he he!" Icha merasa geli dengan tingkah Bu Lestari yang tidak wajar sebagai seorang ibu, dalam usia yang sudah tidak muda lagi.
Lintang mengeluarkan ponselnya dan mengulurkan pada Icha.
"Ini dia Icha, lihatlah!"
"Mbak....?"
"Hemmm iya sayang,!
"Ha ha ha ha....!" Tawa mereka pecah bersama, begitu melihat foto dalam ponsel Lintang yang memberikan foto pasangan Yessi dengan bule pujaannya dan pemilik Shindex yang sebenarnya sedang belanja bersama di pasar basah saat pertama kali bertemu dengan Lintang beberapa waktu lalu.
"Lalu apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya, mbak?" Tanya serius Icha pada Lintang yang masih saja santai duduk sambil menjawab pesan WhatsApp dari mas Dian tentunya.
"Selanjutnya? Kita treatment facial dulu, Ayuk?" Ajak Lintang sambil meraih tangan Icha setelah masa gilirannya tiba.
🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️
To be continued 😉
Memang semudah apa sih menipu diri sendiri? sakit tau... Tapi semudah itu Darius melakukan pada dirinya sendiri.
Dahlah 🤧 sakit bestie...like, bersama komen plus-plusnya yah 🤭
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘
__ADS_1