Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Siapa Dia?


__ADS_3

"Mama, hari ini kita pulang bertiga?"


"Iya sayang.... Papa masih ada di depan, yuk kita susul!" Tangan kecil itu meraih tanganku dan bergelayut manja sambil tertawa lepas, bahagia itu ternyata mudah dia dapatkan.


Rupanya mas Dian sudah menunggu kedatangan kami, mas Dian langsung saja meraih Shasy dan menciuminya, hati ini serasa sejuk ikatan mereka begitu dekat seolah-olah mereka memang benar-benar saling membutuhkan dan memiliki.


"Dek hari ini mas ada teman lama yang mau bertemu sore nanti, mungkin dek Lintang mau menemani mas?" Tawar mas Dian padaku saat kami sudah berada diatas mobil dan mengarahkan haluan untuk pulang kerumah ayahku.


"Sepertinya tidak bisa mas, soalnya nanti sehabis Dzuhur, ada janjian dengan Anik, kami akan mengikuti pertemuan tim modeste sebab kami akan mengikuti festival baju pengantin tingkat Indonesia," memang sejak dari awal sudah terjalinnya ikatan hati antara aku dan mas Dian, semampu mungkin aku tekankan pada diri untuk selalu berkata dan cerita jujur pada mas Dian.


Mas Dian kembali menatapku intens, tidak ada kata lain untuknya selain mengangguk dan tersenyum padanya.


Setelah menurunkan kami, tidak biasanya mas Dian terburu-buru meninggalkan rumah ayah tanpa berbincang dulu dengan beliau, tapi tidak pada hari ini. "Dek, mas titip salam saja buat ayah dan ibu, mas sedikit tergesa-gesa. Kamu hati-hati kalau naik motor,"


Mas Dian mencium keningku lalu beralih pada Shasy yang masih asyik melihat animal's book pemberian dari Olive.


"Iya mas, nanti aku sampaikan pada ayah dan ibu, mas Dian Hati-hati ya!"


Setelah itu aku turun dari mobilnya, lalu mengikuti Shasy yang sudah berlari terlebih dahulu memasuki halaman rumah.


Sedikitpun aku tidak menaruh curiga pada mas Dian, tapi yang menjadi tanya disini adalah, kenapa telpon mas Dian selalu berdering saat berada di mobil tadi, bahkan berkali-kali berdering namun sepertinya mas Dian tetap enggan menerimanya bahkan mematikan ponselnya hingga menjadi tidak aktif lagi.


A-hhh mungkin itu relasi mas Dian, entahlah aku tidak mau terlalu kepo dengan masalah rumah sakit, sebab sedikitpun aku belum memahami keseharian mas Dian.


Seperti biasa sepulang sekolah, Shasy akan melakukan aktivitasnya dengan siapapun yang berada di dekatnya, dan aku tentu kembali berkutat dengan para karyawan yang sedang menangani beberapa pemesanan baju di tempatku, sebelum ku tinggal lagi pergi menemui Anik yang akan membahas tentang keikutsertaan ku pada festival gaun pengantin antar provinsi yang akan di selenggarakan tepatnya beberapa Minggu setelah hari pernikahanku.


Suara mesin obras dan mesin jahit, lalu ketika melihat wajah wajah serius mereka kala melakukan pekerjaannya dengan serius, semua tentu membawa semangat serta kepuasan tersendiri padaku, perjalanan ku dari bawah perlahan semakin aku rasa bagaikan sebuah hentakan menuju kesuksesan yang selama ini menjadi mimpiku, dan mimpi mereka juga tentunya.

__ADS_1


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


Seperti biasa tempat pertemuan ku dengan Anik selalu mencari tempat yang sepi, adem dan familiar di kocek tentunya, kali ini aku yang menentukan sebuah cafe yang menyuguhkan berbagai alunan musik akustik dan makanan eastern food.


"Aahhh seleramu dari dulu sama saja Lin, tidak pernah berubah dan ini salah satu yang Kusuka darimu," canda Anik ketika sang waitress datang memberikan daftar menu padaku dan aku memilih makanan untuk diriku sendiri.


Sambil menunggu pesanan kami ready served, kami kembali pada topik awal, yaitu tentang konsep yang akan kami lakukan pada festival gaun pengantin nanti.


Tarian penaku menggores pada kertas putih, kami melakukan kesibukan dengan silent mode. Kesibukan yang sangat mengasyikkan, hingga tanpa terasa waktu pun berjalan jauh meninggalkan teriknya matahari dan menuju sejuknya senja yang memancarkan sinar jingganya dan menerobos di antara celah tirai bambu tempat kami duduknya menuntaskan pena yang tetap menari.


"Coba kamu lihat ini Nik, warna yang akan kita suguhkan dengan konsep senja itu, dan berlatarkan gaun berhijab dengan paduan simple


Penuh dengan renda dan menampilkan siluet A-line yang klasik. Model gaun pengantin muslimah ini pasti akan menjadi primadona banyak wanita hijab karena selalu mampu menghadirkan kesan yang timeless," aku coba memberikan hasil coretan pensilku, dan rupanya Anik menyukai ideku.


"Aha... Ide brilian aku suka Lintang, otakmu memang selalu encer kalau masalah beginian, he he he...!"


Suaraku tercekat tidak mampu aku teruskan kata-kataku lagi disaat mataku menatap, bayang sepasang pengunjung cafe yang baru saja berbelok di sisi lain cafe ini.


Aku coba membuang jauh jauh pikiran yang belum tentu itu, doaku hanya satu. Semoga saja hanya salah penglihatan dan bukan orang yang selama ini telah berhasil membuatku tertunduk lemah dengan atas nama cinta dan kasih.


"Jadi kita akan mulai tugas ini setelah hari H pernikahan ku, tapi bisa kita cicil untuk membuat pernak-perniknya dan kain akan aku pesan dari temanku, kita mengambil jenis kain satin duchesse,"


"Lalu untuk rendanya kita bisa menggunakan renda rajut vintage, karena aku yakin dengan sentuhan handmade semua akan memberikan kesan alami,"


Kuraih minuman pesanan ku dan menikmati tuntas isinya, karena hari semakin mendekati malam, akupun segera bergegas membereskan laptop dan beberapa lembar kertas.


"Oke kita bahas ini lagi secara pelan-pelan, dan pemesanan renda kamu yang pesan ya Nik, soalnya aku masih harus menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahan ku nanti," ucapku pada Anik sambil memperlihatkan mata khas milik hush puppies.

__ADS_1


"Iya iya aku tau, mana sih yang nggak buat kamu ish!" Tawa kami pun akhirnya harus berpisah, Anik dengan anak-anak dan suaminya, dan aku menuju kearah parkir yang berada di belakang cafe.


Mataku benar-benar tidak asing lagi dengan mobil yang berada di deretan paling depan parkiran, "loh ini mobil mas Dian? Berarti... Aahhhh tidak-tidak mataku mungkin salah lihat."


Aku tetap tidak mau mempercayai pandangan mataku yang hanya sekilas saja, keyakinan ku tetap mengatakan persamaan mobil pasti banyak apalagi di tempat ramai seperti ini.


Tapi kakiku tetap saja penasaran dan mendekat juga. "Oh betul ini mobil milik mas Dian, boneka Shasy masih ada didalam mobil ini, berarti tadi itu mas Dian dong!"


Kakiku melangkah pelan dengan rasa penasaran yang luar biasa menggerogoti pikiran ku.


Wanita itu jelas menggelayut pada lengan mas Dian, walaupun ekspresi mas Dian terlihat beku.


Mataku jelalatan mencari keberadaan pasangan yang seratus persen sudah ku duga mas Dian.


Dan.....


"Mas Dian!" Mataku membulat sempurna ketika mengetahui wanita cantik dengan memakai hijab itu menangis dan mas Dian Mengusap pipinya dengan tissue.


"Oh Tuhan...! Siapa dia?"


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉


Nah bener tuh kata kak varahmavah🤭 godaan pernikahan selalu ada ada saja. lalu siapa dong dia? apa iya si anu 😳😳


tak lanjutin dulu kak, sambil nunggu like plus komen and plus-plus nya 😂

__ADS_1


Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘


__ADS_2