Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Hati Yang Mulai Ikhlas


__ADS_3

Iwan mengemudikan mobilnya dengan kemarahan yang tidak bisa ia sembunyikan, rasa malu, menyesal dan merasa menjadi korban, tetap saja bergelut dengan emosinya hingga sulit untuknya memaafkan dirinya sendiri atas segala kebodohannya.


Setelah sekian lama baru ia sadari, ternyata dirinya hanya sebagai boneka keserakahan dan keegoisan ibunya sendiri, yang selalu menginginkan perubahan kehidupannya seperti mereka kebanyakan para sosialita.


"Yessi kenapa kamu sebodoh itu, Ohh.... Tidak pernah aku duga kamu melakukan hal yang seharusnya tidak kamu lakukan! Terlalu dalam kamu mencoreng nama Keluarga kita , Yessi!"


Kini adik satu-satunya bahkan mengikuti jejak sosialita salah kaprah, harapan hidup satu-satunya ternyata telah mencoreng nama baik keluarga, dan mematahkan harapannya.


"Lintang maafkan aku! Andaikan aku tidak terlalu ambisi, tentu aku masih bahagia bersamamu." Kedua tangannya meremas rambutnya dan memukul kemudi mobilnya.


"Kemana aku harus pergi?" Tanpa tujuan Iwan membelah sepinya jalan aspal yang basah karena baru saja terjadi hujan lebat.


Akhirnya Iwan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terbesar di kota itu, matanya menatap nanar ingin menjerit ataupun mengumpat, tapi untuk siapa?


"Lintang, inikah karma yang aku terima? Telah ku telantarkan darah dagingku sendiri, kini aku menuai hasilnya sudah, bayi itu bukan milikku Lintang! Tapi ak in tidak tega untuk meninggalkan dirinya begitu saja?" Iwan kembali meneteskan airmata, entahlah! Penyesalan seperti apa yang ia tangisi sekarang.


"Shasy papa rindu nak?" Belum lagi bayangan anaknya sendiri sejak dalam kandungan, melahirkan hingga usianya sudah menginjak hampir empat tahun, belum pernah sekalipun ia membelai ataupun mencium ujung kepala putrinya sendiri.


Terbayang kembali pelan-pelan ia mengemis cinta Rahma, karena sebuah kedudukan lebih tinggi di dalam perusahaannya, serta kekayaan Rahma yang selalu sang ibu inginkan, demi untuk membahagiakan sang ibu, hingga sama sekali tidak ia sadari ternyata dirinya hanya sebagai kambing hitam dalam sebuah hubungan.


Aaahh.... Tidak ada habisnya bila terus menyesali, atau kembali mengulangi cerita perjalanan hidupnya.


Tiinnn.....ttinnnn....!


"Oii ayo maju boss! Parkiran milik umum oii... Sialan! Tau orang sedang. Buru-buru nggak ini, huh!" Sebuah umpatan keras dan suara klakson mobil yang berderet hingga beberapa mobil di belakangnya membuyarkan lamunan Iwan.


Lalu dengan gerakan refleks ia segera memajukan mobilnya, dan mencari tempat parkir yang seharusnya.


"Lain kali kalau masih mau melamun, parkir dulu yang benar! Emang ini area punya kakek kamu apa, kami buru-buru tau! Dasar huh!" Wanita dengan tubuh kurus dengan semangat mengumpat Iwan yang sedang bego-bego o on itu.

__ADS_1


Setelah mengumpulkan kesadarannya setelah mendapatkan umpatan pedes, perlahan kaki Iwan memasuki lorong rumah sakit untuk menuju di dalam area tempat putra Rahma berada.


Neonatal Intensive Care Unit atau ruang NICU adalah ruangan di rumah sakit yang dikhususkan untuk perawatan intensif bayi baru lahir dengan segala permasalahannya, salah satunya kelahiran prematur.


"Selamat sore suster, bagaimana keadaan putra saya?" Iwan bertanya pada seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Selamat sore pak Iwan, kondisi putra anda dalam kondisi sedikit ada peningkatan, dan ini sungguh mengejutkan, pak! Kita berdoa saja pak semoga semua akan segera membaik,"


"Permisi pak!" Perawat itu memberikan informasi yang cukup membuat hati Iwan sedikit terhibur.


Setelah itu, mempersilahkan perawat itu untuk berlalu untuk meninggalkan dirinya lalu melanjutkan tugas tugasnya sebagai seorang perawat.


Kring....kring.....


Ponsel Iwan berdering, sebuah panggilan dari Rahma, "hallo mas.. kamu dimana? Kenapa setelah aku bangun tidur kamu tidak ada? Aku ingin pulang mas, di rumahmu aku tidak betah! Ibu mu sama Yessi gaduh Mulu, bikin telingaku sakit?"


Iwan menghela nafas panjang, saat ini ia benar-benar di tuntut untuk menerima apa adanya dengan ekstra kesabaran.


"Rahma! Aku sedang di rumah sakit, menjenguk anakmu, anak kita juga?" Akhirnya Iwan harus mengucapkan isi hatinya dengan sejujurnya dan harus ikhlas, bayi itu tidak berdosa dia hanya korban ambisi dan kebodohan orang tuanya.


Sedikit cerita tentang Iwan yang dibantai habis-habisan dengan dokter Dian maupun pak Ahmad serta pak Ruslan, kini semua menjadi pemikiran yang jernih bagi Iwan. Sedikit banyak telah membuat hati Iwan mau tidak mau harus menerima buah hasil dari perbuatannya sendiri.


"Jangan lama-lama ya mas! Pokoknya aku ingin mas pulang! dan menemani Rahma tidur!" Rahma mulai merengek manja, perawat yang selalu berada di sampingnya dengan telaten menemani kemana, atau apapun kegiatan Rahma di saat dia sedang terjaga ataupun tertidur.


Mata Iwan menatap trenyuh pada bayi yang masih didalam inkubator, dengan nafas seperti sedang tersengal-sengal, dengan terdapat beberapa slang dan entah apa itu yang bertautan dengan monitor dan oksigen untuk menunjang kehidupannya.


"Aaahh... Pilihan yang tidak bisa aku tinggalkan, ya Allah beri hamba kekuatan!"


"Papa pulang nak, cepat sembuh jagoan papa!"

__ADS_1


Puas Iwan memandanginya, tidak berapa lama ia mulai berjalan meninggalkan tempat itu, untuk menuju lorong berikutnya melewati tempat rawat inap pasien-pasien dengan berbagai sakit yang di deritanya.


Ketika melewati lorong Bougenville kelas 1 mata Iwan tidak sengaja melihat sosok yang sepertinya pernah ia lihat.


Suara kegaduhan roda brankar memecah kesunyian.


Perlahan Iwan berjalan dalam persimpangan, dan menatap dalam diam wajah disampingnya yang sedang menutup matanya rapat-rapat diatas brankar yang didorong oleh perawat dengan tergesa-gesa menuju ruang ICU.


"Maaf suster, kalau boleh tau itu pasien kenapa ya! Sakit apa?"


"Oh beliau kena heart attack,"ujar perawat muda itu, lalu bergegas berjalan meninggalkan Iwan sendiri yang masih terbengong.


Belum juga selesai meredam emosinya, kini muncul masalah baru lagi. Pria yang tergeletak di brankar itu tidak lain tidak bukan adalah om Ricky, tempat dimana Yessi menaruh harapan tinggi padanya.


Mendadak Iwan lemas dan terkulai di deretan kursi yang tersedia di lorong UGD, semua akan benar-benar terjadi pada dirinya dan keluarganya, rasa malu itu jelas akan keluarga alami.


"Bagaimana kalau si tua itu mati? Lalu pria mana yang akan Sudi menjadi tumbal untuk Yessi! Aahhhkkk... Kenapa semua ini harus terjadi?"


Kembali Iwan teringat akan kebodohannya, menceraikan Lintang tanpa berfikir panjang. Kini seolah permasalahan berputar kembali menimpa Yessi.


Setelah merasa tenang, kembali Iwan berjalan dan meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya dengan membawa sejuta kekacauan, yang semakin membawa kebuntuan otaknya untuk berpikir.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉


Menerima jasa jadi ayah sambung nggak sih 🤣, duh makin kemana-mana aja si Yessi nih🤧 dahlah .... lanjut ae yuk kita buka pendaftaran 🤣🤣


Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera So Pasti by RR 😘

__ADS_1


__ADS_2