Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Wanita Cantik Itu, Siapa?


__ADS_3

Entah kenapa akhir-akhir ini aku sering bersikap lebih tegas, dan terkadang tidak mau di usik. Apalagi ketika pertemuan antara aku dan Bu Lestari yang tidak pernah aku mimpikan dan juga tidak aku harapkan.


Selain aku sudah paham betul sikap mantan mertuaku itu, tentu saja aku sudah jelas akan menjauh sejauh-jauhnya dari lingkaran yang selalu membuatku merasa direndahkan atau selalu menjadi pihak yang lemah didepannya, Yessi maupun Bu Lestari mantan mertuaku itu, mereka berdua sama saja.


"Icha kita makan ramen yuk, lapar loh! Mbak bahkan sudah menahan rasa lapar ini dari tadi loh, Ayuk....!" Tanpa menunggu persetujuan Icha, aku langsung saja membelokkan mobil yang aku kemudikan menuju sebuah restoran cepat saji dengan menu ramen dan kawan kawannya.


Setelah tiba ditempat mall yang ku tuju dan mendapatkan tempat parkir di basemen, aku dan Icha berjalan menuju lift dan membawa kami menuju food court yang berada dilantai paling atas.


Beberapa makanan sudah tersedia di meja makan yang menjadi pilihanku di pojokan dengan environment yang membuat pemandangan sedikit segar saat melihat jalannya lalulintas yang padat, dan berdiri sekelompok wahana terbesar sedang mengadakan event di alun-alun kota.


Tanpa aku sadari ternyata Icha dari tadi memperhatikan ulah ku yang makan tanpa jeda, dan masih saja memamah biak, tapi masih saja aku memesan beberapa makanan ringan lagi.


"Mbak Lintang suka makan apa kesurupan sih, dari tadi kok goyang mulut aja, awas oleng ke kanan loh ya! Ha ha ha...?" Icha tertawa lepas mengomentari Lintang yang tidak seperti biasanya.


"Tenang saja dek! Apapun itu aku susah gemuk orangnya, tapi ngomong-ngomong makanan ini memang lezat, Noh coba aja...!" Lintang menyodorkan beberapa potong untuk Icha.


"Emmm.... Mbak Lintang isi yah..?" Icha mengerutkan keningnya, dan berubah serius menatapku lalu turun ke perutku yang masih flat flat saja.


"Elah... Pacaran masih belum lama sayang, tunggu bentar lagi ahh... Alon Alon dek, hi hi hi" tentu saja entah berubah apa warna wajahku ketika Icha begitu saja menyeletuk tentang kehamilan.


"Elah pacaran yah, ha ha ha... Kalian berdua lucu, buruan bikin anak kak! nanti kita lomba, siapa diantara kita bertiga yang punya anak banyak, jiaahh.... Jelas aku yang menang!" Mata Icha berkedip sambil menjulurkan lidahnya.


Begitulah gurauan dan canda saudara ipar yang akrab, bahkan melebihi Ratih yang saudara kandungku sendiri. Semua karena kesibukan dan intensitas bertemu yang sedikit dengannya, namun semua juga tidak mengurangi keakraban mereka sebagai keluarga.


Acara makan-makan pun telah usai, akhirnya kami setting waktu untuk segera pulang, Icha yang akan menjemput anak-anak di rumah mama, dan aku sendiri akan pulang kerumah baru mas Dian yang sudah beberapa hari kami tempati.

__ADS_1


Mobil berjalan melambat menikmati senja yang mulai merebahkan dirinya setelah keangkuhan dan kekuatan sang Surya menguasai alamnya.


Tangan Lintang mencari-cari ponselnya dan berusaha menelepon mas Dian, namun hingga beberapa kali jawaban nihil yang Lintang dapat.


"Tumben mas Dian susah dihubungi? Bukan jadwal praktek maupun tugas di rumah sakit, tapi kenapa susah ya?" Sendiri aku bergumam mencari jawaban untuk diriki sendiri.


"Sebaiknya aku kerumah ibu saja, biar mas Dian menjemputku toh dirumah aku juga sendirian." Akhirnya Lintang memutuskan untuk menuju kerumah orangtuanya, sebab selama Lintang pindah di rumah baru mereka, Shasy lebih nyaman tinggal dengan nenek dan kakeknya.


Ku putar haluan, lalu berhenti di perempatan traffic light disimpang lima pusat kota di tempatku.


Hanya malam saja sebenarnya Shasy berpisah denganku, saat siang hari pun aku selalu aktif berada di tempat ibu, dan tetap bekerja sebagai pembimbing pelajar modeste, juga untuk memantau beberapa karyawan tetap yang sekarang sedang mengerjakan pemesanan besar-besaran, serta mempersiapkan lomba desain gaun pengantin untuk semi final, yang akan diselenggarakan dua bulan lagi.


** Lomba gaun pengantin pada session pertama telah dimenangkan oleh tim Lintang yang bekerja sama dengan Anik, yang pada waktu itu jelas Lintang tidak mampu berdiri sendiri karena masa-masa mempersiapkan kebutuhan untuk pernikahannya dengan dokter Dian, waktu itu.**


Mata Lintang yang selalu konsentrasi pada jalanan dan fokus pada penglihatannya kini memaksa dirinya untuk lebih konsentrasi lagi, sampai sebuah klakson panjang mengejutkan dirinya.


Aku lebih memilih meminggirkan mobilku dan berhenti mengatur nafas, lalu mengingat kembali akan pandangan mataku yang secara tidak langsung melihat sosok wanita cantik itu sendiri, secara kebetulan juga kaca mobil itu terbuka lebar, seolah dia memang sengaja mencari kesegaran cuaca sore yang memang lebih segar dan sejuk.


"Semoga hanya salah orang, dan hanya kesamaan saja, ya ampun kenapa dengan aku ini? Mas Dian tentu tidak akan melakukan itu!"


Sesaat hatiku kembali menjadi gundah rasa was-was, alih-alih untuk kembali melanjutkan perjalanan. Aku sibuk memencet kembali nomor ponsel mas Dian, hingga beberapa kali namun tetap nihil juga.


Air mata yang sudah lama tidak menitik pada pipi bersih ku, kini kembali mengalir tanpa mampu ku cegah, entah kenapa aku hanya sebuah penglihatan saja, tapi mampu membuat perasaan ini menjadi gundah gulana.


Kring...kring...

__ADS_1


Ponselku berbunyi, dengan refleks aku segera meraih benda pipih itu, ku tatap penuh rasa kecewa mas Dian yang kuharapkan, namun ternyata nomor telepon rumah kediaman ayah, yang sedang menelponku.


"Hallo iya Bu, ....?


"Lintang, nanti kalau senggang sempatkan mampir ke rumah ya, ibu sedang masak ayam lodho kesukaanmu, ada gudegnya juga loh... Segera yah.. mumpung masih hangat! Suamimu sudah dirumah dari tadi, tidur dikamar sama Shasy!" Ibuku mulus saja berbicara, bagaikan kendaraan bebas hambatan yang melalui jalan tol.


"Hah.... Mas Dian? Di rumah? Loh.... Eh... Iya Bu saya segera meluncur!" Ucapku benar-benar berada di dua rasa antara puas lega, tapi penasaran saja. Tapi semua memberikanku keyakinan bahwa tadi yang kulihat adalah kesamaan saja.


Kututup panggilan telepon dari ibu, hanya satu yang terlintas dalam pikiranku, aku akan segera pulang dan menemui Shasy, dan mas Dian, entah rasa rindu ini semakin menggebu-gebu.


Sesampai di rumah, aku langsung menuju taman kecil di bawah rindangnya pohon mangga, terdapat pancuran tempat cuci tangan dan kaki, ini adalah kebiasaan yang sudah mendarah daging dari dulu, setelah pulang dari manapun juga adalah wajib membasuh tangan dan kaki setelah sampai dirumah.


Setelah kutemui ibu, lalu mencium tangan beliau aku pun bergegas menuju kamar dan mendapati mas Dian sedang tidur bersama Shasy.


"Mas...!"


Mataku tidak mampu berkedip menyaksikan keindahan yang tercipta didepanku.


Rasa yang baru saja membuatku takut dan was-was perlahan sirna, dan aku semakin yakin bahwa kejadian pandangan mataku itu tadi adalah hanya faktor kesamaan saja.


πŸ§šπŸ»β€β™€οΈπŸ§šπŸ»β€β™€οΈπŸ§šπŸ»β€β™€οΈπŸ§šπŸ»β€β™€οΈπŸ§šπŸ»β€β™€οΈπŸ§šπŸ»β€β™€οΈπŸ§šπŸ»β€β™€οΈπŸ§šπŸ»β€β™€οΈπŸ§šπŸ»β€β™€οΈπŸ§šπŸ»β€β™€οΈ


To be continued πŸ˜‰


Nah loh 😱wanita cantik siapa lagi sih, ahh mata Lintang kurang jeli kali yah, atau siapa sih?

__ADS_1


Lanjut aja kalau gitu yuk... Tetep dukung ya bestie ☺️, like komen membangun and plus-plus juga Oge suka🀣


Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘


__ADS_2