
Aku keluar dari pelataran parkir rumah sakit dengan tetap membawa mobil mas Dian, dan ponselku kembali berdering bertalu-talu sepertinya sudah tidak sabar kembali ku sentuh.
Kualihkan pandanganku sesaat pada ponselku ketika aku sedang berada di perempatan traffic light dan di saat lampu merah menyala.
"Hallo... Iya Bu maaf ada apalagi ya?" Jawabku sekenanya setelah mengetahui dering itu panggilan dari ibunya mas Iwan.
"Kok hanya sepuluh juga ya Lin? Kan aku mintanya 20 juta berarti ini masih kurang 10 juta lagi ya! Ibu tunggu sekarang kamu transfer ke rekening ibu, buruan ya?" Ucap ibunya mas Iwan tanpa jeda.
"Maaf ya Bu, uang segitu sangat banyak buat saya, kebutuhan saya juga banyak untuk mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan saya dengan mas Dian, dan lagi ibu sangat mendadak sepertinya saya tidak bisa memberikan uang sebanyak itu Bu, maaf!" Jawabku pelan agar tidak membuat ia tersinggung
"Lah kamu sendiri yang janji kan, Lintang kamu sekarang sombong, belagu mentang-mentang sudah kaya. Kamu jadi kikir, padahal nanti kita bisa gantian toh tidak selamanya kamu akan hidup di atas terus kan?" Ibu mas Iwan sepertinya masih juga tidak mau mengalah dan tetap saja berbicara seolah-olah aku ini adalah penyebab sebuah kesalahannya.
"Iya Bu... tapi saya kan juga tidak punya hutang ataupun memiliki sangkutan pada ibu maupun yessi, jadi maaf saya tidak bisa membantu Bu,"
"Dahlah... Gimana kalau kamu menjadi madunya Iwan saja, dia pasti akan menyayangimu sepenuh hati, bagaimanapun juga kalian sudah punya anak, dari pada kamu kawin dengan orang lain belum tentu dia bahagia, apalagi dia dokter kandungan pasti terbiasa memegang dan melihat milik orang lain, apa kamu nggak takut kalau dia main selingkuh di belakangmu, selain itu kamu juga janda mana ada bujangan bisa terima menikah dengan janda, kamu harus hati-hati tentang ini loh Lintang!"
Kata-kata yang sangat tidak memberikan rasa nyaman dan menghargai seseorang, dengan siapa dia berbicara, membicarakan siapa dan bagaimana perasaan lawan bicaranya walaupun itu pembicaraan melalui ponsel.
"Maaf Bu, bukan saatnya ibu mengajari saya, diantara kita sudah tidak ada terjalin ikatan apapun, selain mantan menantu dan mertua, semua tentang perjalanan hidup saya sudah saya pelajari dan berhati-hati dalam melangkah kedepan, jadi ibu tidak perlu susah-susah mengatur kehidupan saya, kalau ibu sudah cukup berbicara sebaiknya matikan saja panggilan ibu." Geramku tidak bisa ku bendung lagi.
Namun beberapa detik kemudian panggilan terputus sepihak tanpa sepatah kata dari ibu mas Iwan, ada sedikit rasa lega dan aku kembali melakukan perjalananku menuju tempat yang sudah di share location oleh Icha.
Selain mengantar mas Dian, aku memang ada rencana dengan Icha untuk berburu souvernir untuk memesan akhir bulan ini, karena terhitung rencana pernikahanku dengan mas Dian sangat mepet jadi semua terkesan terburu-buru dan pembagian tugas untuk mendapatkan tugas masing-masing kami melakukan secara gotong royong dengan keluargaku dan keluarga mas Dian.
Sementara untuk kegiatan Modeste dan pembelajaran bagi para siswa SMK semua murni aku serahkan kepada Anik dan seorang asisten untuknya.
__ADS_1
"Ah... Ada-ada saja ini orang yah! Yang pinjam siapa yang ngasih siapa, kenapa dia yang memberikan penekanan?" Aku sendiri bergumam dan melepas earphone bluetooth yang ku pakai.
Kali ini aku akan mengabaikan permintaan Ibu mas Iwan, buat ku ancaman apapun dari dia bukan sebuah keharusan untukku.
Cinta, perhatian dan kasih sayang dari mas Dian kurasa lebih dari apapun yang pernah aku rasakan, seperti kejadian yang baru saja aku alami pagi ini, aahh.... Ternyata kehidupan seorang janda dengan usia muda tidak mudah dan selalu mendapatkan sisi miring dari segi manapun.
Kalaupun berbicara tentang profesi, seorang dokter adalah pekerjaan mulia tidak ada salahnya juga, semua tergantung pribadi masing-masing, ah... ada-ada saja ngaco bener ibu mas Iwan .
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
"Loh sama mas Dian to Mbak? Mana Dia?" Icha celingukan mencari mas Dian di belakangku.
"Aku sendiri Icha, tadi kebetulan mas Iwan menjemputku dan motor semalam berada di cafe, ada sesuatu yang secara tidak sengaja terjadi, Icha!" Sebenarnya aku tidak mau memulai bercerita tapi pada siapa aku bisa curhat, aku bukan super women juga yang tahan gempuran kanan dan kiri bertubi-tubi.
"Tapi dia sakit, Icha. Aku seperti merasa tertekan dengan permintaan mereka orang tua mbak Siska, dan saat ini mbak Siska ada di ICU dengan kanker ovarium stadium 4, ini sangat menakutkan Icha!" Sorot mata tua itu kembali mengingatkan diriku disaat tatapan penuh harap itu menghujam relung jiwa rapuhku.
"Sudah Mbak! Pernikahan kalian hanya menghitung hari, sebaiknya fokus saja pada tujuan, oke?" Dua jari Icha memberikan semangat padaku, kubalas dengan senyumku sebagai penyemangatku juga.
Setelah menghabiskan makan siang dan minuman yang kami pesan, setelah itu aku dan Icha bergegas memasuki sebuah store dengan berbagai jenis buket, hantaran dan souvernir dan pernak-pernik untuk acara pernikahan, ulangtahun dan sebagainya.
"Mbak... Eh mbak lihat itu! Bukankah itu wanita yang tempo hari adu mulut sama mbak Lintang, yah?"
Jari telunjuk Icha mengarah ke seseorang yang sedang sibuk memilih bunga segar untuk di jadikan buket, mataku menyipit mencari kebenaran yang telah tertangkap oleh indera penglihatanku dan penglihatan Icha.
Ya benar! Sosok itu adalah Yessi dengan laki-laki yang sepadan dengan usianya, ah... Lalu kemana laki-laki tua yang dulu bersamanya? Masa bodoh itu bukan urusanku.
__ADS_1
"Sudah biarkan saja Cha, mungkin dia datang kesini dengan tujuan yang sama," ucapku menjawab kata-kata Icha dan membuang prasangka yang tidak seharusnya.
Aku tetap melanjutkan pemilihan souvenir yang akan kami berikan saat pernikahan nanti, dan menjadi kesepakan antara aku dan mas Dian souvernir kami adalah sepasang lilin cantik dan mengutamakan aroma terapi, sebagai simbol antara aku dan mas Dian untuk sama-sama menerangi dan memberikan pencerahan pada masa depan pernikahan kami kelak, mengingat namaku dan nama mas Dian ada kesamaannya dan berunsur penerangan.
(Ish.... Author dah kek peramal aja sih, he he he)
"Uluh...uluh pucuk di cinta ulam pun tiba! Hi apa kabar mbak Lintang!" Sapa Yessi wajar dengan binar mata dan penampilan yang jauh berbeda.
"Loh kamu katanya operasi, sudah sembuh ya? Emang sakit apa?"
"Oh... Itu toh mbak, bukan sakit sih, bentar ya mbak!" Yessi berlalu meninggalkan aku dan Icha yang sedikit heran dengan gayanya yang semakin centil saja, dia berjalan dengan pinggul seperti mengikuti sebuah iringan musik.
Ternyata Yessi menyuruh pria muda dan tampan itu untuk masuk kedalam mobil setelah membayar pesanan bunga segarnya terlebih dahulu, lalu kembali berjalan mendekati aku dan Icha lagi yang sudah tidak peduli lagi dengan kehadirannya.
"Begini loh mbak, aku itu operasi kecantikan mbak! Biar semakin cantik aku harus memermak wajahku sedemikian rupa, agar aku bisa menggaet pria tajir manapun, dan aku bisa segera kaya tidak perlu susah-susah kerja, tinggal kedip mata saja semua sudah ada di depan mata, he he he,"
"Yessi, mana bisa kamu menjalankan pekerjaan itu, ingat Yess... Kamu mending menikah saja dan hidup baik baik dengan suami pilihanmu!" Kupikir ucapanku ini adalah wajar bagi semua wanita, namun tidak dengan Yessi.
"Hemmm nggak usah mengatur deh mbak! Bisa saja aku juga akan menggaet dokter tua calon laki mbak itu! Mbak hati-hati saja, huh...!" Yessi berlalu sambil melengos sembari meninggalkan kata-kata yang membuat aku dan Icha speechless.
🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️🧚🏽♀️
duh piye sih 🤣😂 nggak anak nggak emak sama aja belum insyaf, kita beri angin dulu ya Mak 🤭 biar dinikmati dulu kasihan juga baru operasi permak wajah tuh 😂 minta komen yang bikin nyahok tuh si janda kurang Mateng bakas om Ricky donk 🤣😂
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘
__ADS_1