Jandaku, I Love You

Jandaku, I Love You
Senja Di Jogja


__ADS_3

Bahagia ataukah sedih! Entahlah tapi yang jelas getaran hatiku mengatakan bahwa sorak riang itu nyatanya tidak mampu aku keluar begitu saja melalui pita suaraku.


Aku terdiam rasaku menuai kebahagiaan, hangat pelukan mas Dian memberiku lena.


Perlahan ku balas pelukan itu, kutemukan kehangatan dan sebuah kerinduan yang kini perlahan menyemai rasa hati.


"Mama.... Apa kita sudah sampai, Shasy lapar ma?" Suara putriku mengejutkan diriku yang sedang terlena dalam pelukan mas Dian.


"Oh... Kita makan, eemmm kita turun yuk!" Sumpah demi apapun aku gugup bukan main, antara takut malu dan bersalah.


"Om dokter sudah menjadi papanya Shasy ya? Kok peluk peluk mama?" Pertanyaan lugu tapi cukup menampar hatiku.


Mas Dian segera meraih tubuh shasy, "kita makan yuk! Sebentar lagi kita sampai di rumah Oma, mereka sudah menunggu kedatangan Shasy sama Mama!"


"Sekarang Shasy sudah punya om papa ya! Kata Oma boleh panggil papa, tapi harus ijin mama dulu?" Bukannya mengiyakan ajakan makan mas Dian, Shasy malah memberikan pertanyaan ulang kepada mas Dian lalu melangkah menuju jog depan dan duduk dalam pangkuanku.


"Sayang.... Shasy boleh kok panggil papa, sebentar lagi Shasy punya papa yuk turun! katanya tadi lapar?" Bujuk ku agar tidak membuat Putriku semakin memberikan pertanyaan yang lebih rumit lagi, sebab selain cerdas Shasy selalu tidak akan berhenti dengan satu pertanyaan bila itu sudah menyangkut diriku.


Mata bulat itu semakin membulat, mulut mungilnya terbuka lalu kedua tangan kecilnya menutupi mulutnya, "hah... Asyik... Nanti Oma harus tau kalau tadi om papa memeluk mama Shasy, ah... Lapar lagi mama ayuk!"


Siapa yang tidak akan bangga dengan kehadiran buah hatiku, walaupun dia tidak diinginkan dari keluarga papanya, namun nyatanya kini dia cerdas dalam usia yang terlalu dini memaksa dia untuk berkembang, dan berusaha melindungi dirinya sendiri.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


Senja menari di langit kota seniman, kota yang penuh dengan budaya dan ada istiadat kejawen.


Kesenian angklung di setiap pojok perempatan, dengan irama yang khas.


Mobil kami kendarai perlahan masuk wilayah kampung ketandan, tidak jauh dari pasar Beringharjo.

__ADS_1


Sebuah rumah sederhana dengan ornamen jawa- oriental yang begitu kental, berlari keluar menyambut kedatangan kamu, " Shasy... Kita ketemu lagi..!"


"Kak Olive ha ha ha kak Ojack!" Girang putriku berlari mereka pun membaur dengan dunia mereka.


Senyum wanita tua yang tetap anggun walaupun usia sudah tidak muda lagi, menyambut ku memelukku. Kuraih tangan lembutnya dan ku cium punggung tangan itu, beralih kepada sosok ayah mas Dian yang pendiam namun penuh kharisma, sosok yang selalu mengajarkan, menampilkan keterampilan sosial dan kepemimpinan.


Lalu berganti Icha tersenyum lebar sambil merentangkan kedua tangannya.


"Selamat datang di keluarga kami mbak, sebentar lagi Rudi akan tiba juga dia sedang menjemput dek Ratih,"


Sungguh perlakuan yang belum pernah sekalipun aku terima dari keluarga mas Iwan dulu, bukan membandingkan tapi memang begini adanya. Kedatangan ku serasa mempunyai arti tersendiri dalam keluarga ini, dan ini membuatku semakin nyaman di samping mas Dian.


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


KEGUNDAHAN SEORANG YESSI


"Ish... Sudah tiga hari loh! Jangankan menelepon kirim WhatsApp saja tidak, apa sih maunya om Ricky ini, aku kan kangen!" Geram Yessi sambil meremas rambutnya yang mulai kusut karena tanpa perawatan hampir satu Minggu.


"Yess... Gimana kalau ibu temani kamu ke rumahnya, kan. Kamu juga berhak meminta pertanggungan jawab si Ricky itu untuk menikahi mu, setidaknya memberikan kamu uang lah... Kan kamu juga butuh uang untuk melangsungkan kehidupan mu kelak!"


"Tapi Bu! Jujur aku nggak enak juga sama Dona, duh... Gimana ini!" Yessi benar-benar hilang ide untuk berbuat sesuatu untuk dirinya sendiri.


Klinting..... Ting.. Ting..


Nada WhatsApp milik Yessi berbunyi bertalu-talu membuyarkan polemik hatinya yang sedang kacau.


'Dona'


"Hah, Dona!" Antara bahagia dan rasa takut Yessi pelan membuka WhatsApp itu.

__ADS_1


"Hai Yessi, selamat yah atas hadirnya benih yang ada pada dirimu, tapi maaf aku benci sama kamu, sungguh tidak kuduga kamu cewek matre dan buta mata, buta hati sekarang kamu terima semuanya! Terima senangnya harus berani terima susahnya dong, kamu ular berkepala manusia tidak tau rasa terimakasih bukan aku menyesal, tapi aku menyayangkan sikap mu yang hanya menikmati masa dengan singkat saja, tanpa berpikir panjang."


Air mata penyesalan itu meleleh terlambat menyadari keadaan, setelah membaca tulisan yang dikirimkan Dona padanya lalu sebuah foto terkirim. Mata Yessi terbelalak membulat sempurna seakan sulit mempercayai bahwa pria yang akan menjadi sandaran hidupnya kelak, kini telah terkapar tidak berdaya dengan slang pada tubuhnya untuk menopang kehidupannya.


"Ibu...oh... Ini tidak mungkin ini sandiwara saja kan? Aku tidak terima, dona....?"


Yessi bahkan lupa kondisi tubuhnya dia menjatuhkan diri dan meraung membuat bu Lestari dan asisten rumah mereka berlari mencari dimana suara itu berasal.


"Ya ampun yessiii!" Tanpa pikir lebih panjang lagi, Bu Lestari memeluk tubuh Yessi yang terkulai sambil menjerit kesakitan sambil memegang perutnya.


Asisten rumah tangga yang baru saja pulang kampung, sedikitpun tidak mengetahui pokok permasalahannya sehingga ia tergopoh-gopoh berlari membantu Bu Lestari, "Tini, cepat telpon mas Iwan, yessii....!" Teriak Bu Lestari gugup ketika cairan merah mengalir pada sela-sela paha Yessi.


"Ibu, sakit Bu.... Om Ricky aahh.... Ini tidak mungkin Bu ini pasti Dona sedang syirik padaku, bantu Yessi Bu!" Ceracau Yessi antara rasa sakit dan kemarahannya kepada Dona.


Sementara Tini menelepon Iwan, Bu Lestari berinisiatif melihat ponsel Yessi, rasa sedih dan putus asa jauh seperti harapan Yessi yang menginginkan kehidupan indah dari om Ricky.


Bu Lestari memencet nomor telpon dengan nama Dona, setelah beberapa second suara jawaban dari seberang, "Ya hallo kenapa? Kaget! Atau menyesal hemm..!" Suara Dona cukup menyakitkan hati Bu Lestari sebagai seorang ibu yang mendapati anaknya lemah dengan kondisi pendarahan.


"Heh ini ibunya Yessi, apa yang kamu lakukan pada putriku, hah?" Teriak Bu Lestari tidak mampu menyaring kata lagi.


"Hemm... Ibunya Yessi, eehh ini lebih bagus dari yang ku inginkan, tolong ajari putri ibu untuk sedikit melek mata, jangan gila harta, om Ricky itu ibarat kata hanya seorang pemegang kata wasiat dari papaku, namun dia telah membuat kepercayaan keluarga kami pudar, kalau mau pingin kaya kerja Bu! Bukan jadi penggoda laki orang, sadar nggak sih om Ricky sekarang bukan siapa-siapa lagi, dan dia sedang terkapar di rumah sakit, so... Selamat menikmati keindahan yang dia janjikan pada Yessi, tapi sayangnya harta peninggalan papaku bukan untuk pelakor murahan seperti anak ibu."


Tut ..Tut...Tut...


🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️🧚🏽‍♀️


To be continued 😉


Nah lohhh 😳 benih om Ricky mau diapain ini😂😂, biar jiwa pelakor semakin merajalela aja yah😂😂

__ADS_1


jangan lupa! like plus komen mesrah donk 🤣 biar semangat jiwa oleng otor nih🤭


Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘


__ADS_2