
"Jangan terlalu banyak pikiran sayang, mas tidak mau kamu di bawah tekanan maupun kegiatan yang akan memberikan kelelahan, paham kan sayang!" Entah aku selalu melambung dengan segala perbuatan, ucapan dan perlakuan mas Dian padaku.
"Mas jangan khawatir, aku tidak mungkin kelelahan seperti yang Mas khawatirkan aku akan baik-baik saja," jawabku memberikan keyakinan pada dirinya.
Waktu yang sudah kami tentukan telah tiba juga, ketika kembali naik mobil dan keluar dari halaman rumah baru kami, mataku tidak sengaja menatap sekilas bule kekasih Yessi yang sedang duduk berdua dengan kak Shinta di teras depan rumah mereka. Tentu saja jelas terlihat, sebab pagar besi yang terpasang kokoh di depan rumahnya, tidak serapat rumah gedong di kota pada umumnya.
Di sini terlihat kak Shinta sebenarnya adalah wanita dengan gaya sosial yang tinggi, walaupun kaya tetapi dia tidak membatasi kehidupannya di sekitar tempat tinggalnya.
'Tapi.... Kenapa dengan suaminya yang bule itu, ahh... Dunia ini benar-benar memusingkan. Apakah kak Shinta tahu, lelaki itu akan menikah dengan Yessi? Hemm, ngeri-ngeri sedap bertetangga dengan manusia bejad seperti si bule itu.' Batinku terdiam.
"Hei sayang, kok melamun? Ada apa sayang? Apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu dengan rumah kita?" Pertanyaan beruntun mas Dian menyadarkanku untuk kembali ke alam nyata.
"Eh, nggak ada masalah kok dengan rumah kita. Cuma..."
"Hemm, cuma apa sayang? Apa yang mengganggumu?" Tanya mas Dian penasaran.
Aku berpikir keras, bila aku jujur, akankah kami pindah segera setelah rumah terisi dengan perabotan rumah tangga? Atau malah sebaliknya? Akankah kami bertetangga dengan nyaman dengan kak Shinta. Terutama suaminya yang kurang ajar itu?
"Nah kan, mulai melamun lagi. Sayang..., what's wrong with you?"
"Anu Mas, itu lho kita kan calonnya bertetangga dengan kak Shinta yang bersuamikan bule itu. Mas ingat nggak tempo hari waktu aku janjian dengan Yessi di cafe. Laki-laki bule itu, sudah beberapa kali bertemu denganku dan dia ternyata suaminya kak Shinta itu yang mau menikah dengan Yessi."
"Ooo..., jadi kamu mikirin dia to dek?" Ledek mas Dian.
"Ihh, amit-amit jabang bayi." Sahutku sambil refleks mengelus perutku.
Mas Dian tertawa terbahak-bahak karena berhasil menggodaku.
"Tempo hari itu kan Mas masih ingat, si bule itu terduduk di lantai sambil megangin asetnya?"
"Iya Mas tahu dan sendiri melihat dek Lintang beraksi bak kungfu women saja?"
Aku langsung tertawa mendengar pertanyaan mas Dian.
"Kutendang asetnya, Mas. Langsung klojotan dia, ha ha ha."
"Astaga, hiiy... serem, isteriku bisa kungfu rupanya, ha ha ha."
Kami berdua tertawa saat mengingat peristiwa itu.
__ADS_1
"Sayang, kamu harus hati-hati ya. Jangan pernah lagi ketemuan dengan manusia yang hanya mencari untung sesaat itu. Dari gelagatnya saja dia sepertinya sesuatu kepadamu."
"Iya Mas. Aku akan berhati-hati bergaul dengan tetangga di sekitar rumah kita."
Mas Dian tiba-tiba membelokkan mobilnya ke sebuah restoran padang.
"Kita makan dulu ya Dek. Mas lapar."
"Kok Mas tahu sih, aku dari kemarin pingin makan nasi padang. Pingin makan rendang sama ikan asam padeh. Hemm, yummy."
Mas Dian tertawa mendengar omonganku. Aku jadi malu sendiri.
Kami memasuki restoran yang berbentuk 'Rumah Gadang,' merupakan ciri khas dari restoran padang.
Tak lama dari kami duduk, seorang pelayan laki-laki datang dengan tumpukan piring kecil berisi pelbagai lauk yang disusun dari telapak tangan hingga lengannya, dan menatanya di meja. Aku kagum dengan cara penyajiannya yang sudah sangat terlatih.
Air liurku sudah berkumpul di bawah lidah saat melihat rendang dan ikan asam padeh di depan mata.
Makan di restoran padang itu wajib pakai tangan dan akan terlihat aneh bila pakai sendok. Mereka nenyiapkan air pencuci tangan yang diberi potongan jeruk nipis dan lap basah yang hangat, agar kami nyaman dan higienis saat menyuap pakai tangan.
Mas Dian tersenyum melihatku sudah tak sabaran ingin makan.
"Pelan-pelan, Dek. Kalau suka bisa nambah kok." Tegur mas Dian.
"Restoran padang ini yang paling besar dengan menu terlengkap dan enak. Dijamin gak rugi makan di sini." Kata Mas Dian.
"Mas sering makan di sini, ya?" Tanyaku.
"Iya. Mas dulu sebelum kita menikah, kalau kepingin makan nasi padang ya ke restoran ini. Tempatnya luas dan nyaman."
Ternyata keinginan makan nasi Padang bisa sama dengan kemauan mas Dian, padahal sudah beberapa hari aku kepingin makan nasi Padang, cuma karena sibuk jadi tidak sempat kerumah makan Padang favorit ini.
Ponselku yang mode silent tiba-tiba bergetar dan mengalihkan perhatianku namun enggan bagiku untuk menjawabnya.
"Dek... Ponsel berdering terus sayang, angkatlah!"
Aku menatap ke arah mas Dian, sebab aku yakin ini pasti telpon dari Yessi atau bisa jadi dari mantan mertuaku.
Antara ingin mengabaikan dan penasaran ingin menjawab bergejolak dalam hatiku, namun tidak mungkin aku menyimpan rahasia tuduhan Yessi padaku tentang bule calon suaminya itu dapat aku simpan rapat-rapat dari mas Dian.
__ADS_1
Aku mengarah ke wastafel dan mencuci tanganku, lalu setelah mengeringkan tanganku dan duduk ke tempat semula, aku merogoh ponselku yang berada di dalam tasku.
Kubuka ponselku, dan benar saja, terdapat beberapa missed call dari rumah mantan mertuaku dan dari ponsel Yessi.
"Siapa sih dek... Kok dari tadi mas lihat dek Lintang seperti menyimpan sesuatu yang membuat dek Lintang tidak nyaman?" Suara mas Dian pelan dan lembut namun di sana aku yakin terdapat rasa penasarannya dengan kondisiku yang benar-benar tidak nyaman.
"Yessi, Mas, dia merasa aku merebut calon suaminya, sebab hingga sampai saat ini si bule calon suaminya itu tidak bisa dihubungi Yessi" akhirnya aku memang harus jujur.
"Coba ditelpon dulu dek! Dan pakai loudspeaker biar mas dengar pembicaraan kalian!"
Segera kuhubungi Yessi, dan baru dua kali nada panggil ponselku berbunyi, Yessi sudah menyahut.
"Mbak ke mana saja sih. Kutelpon kok susah sekali." Teriaknya tak sopan.
"Hemm, apa urusannya dengan kamu? Kita kan sudah nggak punya hubungan sama sekali. Apa hakmu mengatur aku." Entah bagaimana tiba-tiba emosiku tersulut.
Mas Dian mengangkat jempolnya saat aku membentak Yessi. Astaga, keberanianku muncul tiba-tiba.
"Bukan begitu Mbak, kemarin kan aku ke ATM narik uang buat bayar utangku,tapi setelah aku kembali, Mr. Darius langsung pamit terus pergi."
"Terus apa hubungannya dengan aku? Kenal pun tidak."
"Ah, mbak pasti bohong. Pasti disembunyikan." Rengeknya lagi.
"Memangnya apa kepentingan isteriku menyembunyikan laki-laki yang bukan suaminya. Hati-hati kalau menuduh, bisa kena pasal perbuatan tidak menyenangkan. Kamu siap saya laporkan ke polisi?"
Yessi terdiam saat mendengar ancaman mas Dian. Aku tertawa geli saat mendengar ancaman mas Dian yang membuatnya tak berani lagi bicara.
"Halo, Yessi... kok diam? Sudah ya, kamu kan cuma mau tanya tentang calon suamimu." Tegurku kepada Yessi sambil mematikan ponselku.
"Mas, kita jadi pergi ke toko mebel untuk belanja isi rumah?"
"Iya sayang. Kita akan ke IKEA yang lebih besar dan yang lengkap isinya."
Mas Dian segera memanggil pelayan untuk menghitung apa saja yang telah kami makan, karena bila ada lauk yang tidak kami makan tidak akan dihitung. Selesai membayar, mas Dian menggandeng tanganku. Kami akan belanja perabotan isi rumah kami.
🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️🧚🏻♀️
To be continued 😉
__ADS_1
Lanjut kuy, jempolnya bestie buat nabok Yessi nih 🤣
Salam Sayang Selalu Sehat Always Sejahtera by RR 😘