Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 10


__ADS_3

Berharap dia yang pernah berjanji akan menepatinya, tapi ternyata tidak. Penderitaan itu akan terus berlanjut entah sampai kapan.


.


.


Australia


Permintaan Melyana di waktu itu mampu membuat Nazia dilema. Bagaimana tidak ia mengimpikan menikah dengan pria yang mencintainya. Tapi takdir membawanya ke impian yang tak pernah ia bayangkan.


Menikah dengan Erlando sama halnya dengan bunuh diri. Kepulangannya di Autralia justru membawa hidupnya pada takdir yang ia ingin tolak namun tidak bisa.


Nazia memilh untuk pergi menghirup udara segar menelusuri pantai dan menikmati pemandangan di sore hari. Di setiap langkahnya ia berkelut dengan pikirannya.


Andai aku tak kembali. Mungkin aku sudah bahagia. Andai aku tak hadir didunia ini mungkin aku takan merasakan rasa sakit ini. Andai ibu dan ayah masih ada, mungkin aku takan seperti ini. Batin Nazia


Nazia memilih duduk setelah beberapa menit menelusuri pantai. Ia duduk termenung dan kembali meratapi nasibnya. Tanpa ia sadari ada seseorang yang memperhatikannya sedari tadi. Pria itu Erlando.


Erlando memilih untuk tidak mengganggunya. Ia tahu Nazia butuh waktu dan energi untuk bisa menghadapi sikapnya di suatu hari nanti. Saat memikirkan itu, Erlando tersenyum miris. Tak disangka ia akan menikah dengan wanita yang selalunya ia tolak untuk hadir dalam hidupnya.


Nazia bangkit dari duduknya, mengambil tasnya kemudian pergi. Ia memilih pulang ke rumah Anggara.


*****


Rumah Anggara


"Malam mama," sapa Nazia.


"Malam sayang."


Nazia duduk dan ikut menemani mamanya yang sedang nonton TV.


"Sayang, besok kita pergi nonton yuk!" ajak Neska dengan mata berbinar.


"Aku tidak mau mah." tolaknya tanpa menoleh.


"Kenapa sayang, kan kita kesananya berdua."


"Masa aku pergi sama mama, nanti orang-orang pada tahu kalau aku jomblo." canda Nazia dengan memaju mundurkan bibirnya.


Neska yang melihatnya dibuat tertawa olehnya.


"Ada-ada saja kamu." ucap Neska, kemudian mencubit hidung Nazia.


"Malam mama, malam sayang." sapa Ferdinan saat hendak menghampiri mama dan adiknya.


"Malam," Nazia dan mamanya menjawab bersamaan.


Nazia melirik mama dan kakanya. Ia berniat untuk membicarakan pernikahannya dengan mereka. Nazia mengumpulkan keberaniannya.


"Kamu kenapa sayang?"


Nazia menarik nafasnya kemudian menghembuskannya. "Aku mohon restu kalian."


"Apaaaaaaaa!" teriak Neska bersamaan dengan Ferdinan.


Ferdinan dan mamanya saling tatap.


"Lelaki buta siapa yang mau menikahimu?" ledek Ferdinan.


"Mama juga berfikir begitu." timpal Neska.


"Hahahhaha, mama bisa saja." ucap Nazia.

__ADS_1


"Aku serius," kata Nazia.


"Kakak akan selalu mendukungmu." terang Ferdinan sambil mengelus kepala Nazia.


****


Esok hari....


Nazia keluar dari kamarnya menuju meja makan. Di sana sudah ada mama dan kakaknya bahkan pembantu mereka pun sudah ada. Mereka pun makan bersama.


Sarapan pagi tela usai. Nazia pamit pada ibunya untuk pergi mengurus surat cutinya di Kampus.


"Mau kaka temani?" Ferdinan menawarkan diri.


Dengan senyum, Nazia menjawab, "Tidak perlu, Kak. Nazia bawa mobil kok."


"oke, baiklah."


20 menit kemudian Nazia sampai di Kampus tempat ia melanjutkan study-Nya. Nazia mencoba menghubungi temannya, Kania. Tapi tak ada balasan. Nazia memilih untuk pergi mengurus berkas-berkasnya. Saat ia memalingkan pandangannya ke depan. Ia melihat seseorang yang ia ingin jauhi.


"Apa yang Kak Erlando lakukan di sini?" gumam Nazia.


Nazia memilih pulang, ia tidak ingin bertemu dengan Erlando. Saat hendak membalikan tubuhnya tiba-tiba ada yang memanggilnya.


Nazia...


Nazia terus melangkah memilih menghindari Erlando.


Erlando kesal melihat Nazia yang tidak menggubris panggilannya.


"Nazia Rosalina Winata!" teriak Erlando.


Semua orang menoleh, membuat Nazia berhenti. Dengan terpaksa ia menghampiri Erlando.


"Sekarang kamu berani melawanku!" ucap Erlando dengan tatapan membunuh.


"Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Nazia lagi.


"Ibu menyuruhku untuk menjemputmu."


"Dari mana kakak tahu aku kuliah di sini?" tanya Nazia menyelidik.


"Apa yang tidak aku tahu tentangmu." ucapnya datar.


Saat di perjalanan, Nazia memilih diam begitu pun dengan Erlando. Nazia duduk disamping Erlando dengan pandangan keluar jendela. Nazia kembali di hantui rasa takut.


"Kak,"


"Hm,"


"Apa penderitaanku akan berlanjut lagi saat kita menikah nanti?" tanya Nazia tanpa menoleh.


Erlando tersenyum sinis. "Kamu tahu betul sikapku, Nazia."


Jika aku ditakdirkan untuk menderita, aku terimah nasib burukku. Batin Nazia.


****


Rumah Magesta


Nazia dan Erlandi telah sampai di rumah.


Melyana menyambut Nazia dengan senyum. Keceriaan yang pernah hilang dan rasa sakit yang pernah hadir kini menghilang sekejap. Melyana kembali merasakan bahagiaan yang bertahun-tahun telah hilang. Ia tak ingin melewatkan waktu sedikit pun untuk menyaksikan kedua anaknya menikah.

__ADS_1


Erlando sangat pandai beracting. Ia akan memperlakukan Nazia dengan baik di saat ibunya ada. Dan ia akan bersikap kasar saat ibunya tidak ada. Nazia mengetahui itu, demi Ibu yang yang selalu melindunginya, yang memberinya kasih sayang seorang Ibu. Ia relah menikah dengan Erlando.


Seminggu lagi acara pernikahan mereka akan di langsungkan. Nazia tak ingin membuat ibunya yang belum lama sembuh menjadi sedih. Nazia berusaha untuk tetap terseyum.


Tersenyum adalah cara Nazia menyimpan luka yang semakin hari menggorogoti tubuhnya. Apa yang dapat ia lakukan, apakah ia harus pergi atau bertahan demi kebahagiaan ibunya. Sunggu berat baginya untuk memilih.


"Sayang, kenapa kamu melamun?" tanya Melyana.


"Tidak, Buk. Nazia hanya kecapean aja." ucapnya berbohong.


Nazia tak ingin membuat ibunya hawatir. berbohong adalah cara terbaik agar ibunya bahagia.


"Cerita sama Ibu jika kamu punya masalah." ucap Melyana dengan senyum.


Nazia pun tersenyum, "Itu pasti Buk."


Nazia pamit untuk masuk ke kamarnya, ia ingin mengambil sesuatu di sana. Sesuatu yang ia simpan sejak ia berumur 6 tahun. Pemberian dari seseorang yang pernah menjadi sahabatnya di waktu kecil. Setelah mengambilnya ia pun memasukannya ke dalam tas. Kemudian pergi menghampiri ibunya. Nazia meletakan tasnya tepat di samping Erlando. Tiba-tiba handphone Nazia berdering.


I love it when you call me señorita


I wish I could pretend I didn't need ya


But every touch is ooh la la la


It's true, la la la


Ooh, I should be running


Ooh, you know I love it when you call me señorita


I wish it wasn't so damn hard to leave ya


But every touch is ooh la la la


It's true, la la la


Ooh, I should…


Nazia pun mengkatnya.


"Kamu di mana? Kakak sudah menunggumu dari tadi," tanya Ferdinan.


"Iya, sayang. Aku kesana sekarang." ucap Nazia pada Ferdinan.


Erlando sedari tadi memperhatikan dua wanita yang kini berada di depannya. Membuatnya muak melihat tingkah Nazia. Ia tersenyum miris saat mendengar Nazia yang mencoba menyembunyikan rasa sakitnya. Baginya Nazia adalah wanita yang bermuka dua yang pandai menyembunyikan lukanya.


Tanpa Erlando sadari ia pun sama seperti Nazia, sama-sama bermuka dua.


Namun itulah manusia. kita pandai menilai orang lain tapi lupa pada keburukan kita sendiri.


"Apa pendapat kalian para pembaca?" 😆


.


.


.


.


Bersambung......


Mohon kritik dan sarannya 😊😊

__ADS_1


Jangan lupa like, rate, vote dan jangan lupa untuk membagikannya 😊


__ADS_2