Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 52


__ADS_3

"Pa Aksan! Bibi! Tolong bantu aku...!!" Reix berteriak meminta tolong saat mendapati ibunya tergeletak di lantai.


"Non Nazia...!" teriak Bi Neona histeris saat berada di depan pintu kamar majikannya.


"Tolong bantu aku bawa ibu di tempat tidur," pinta Reix dengan tangis yang semakin keras.


Pak Aksan dan Bi Neona mengangkat tubuh Nazia, membaringkannya di atas tempat tidur. Reix mengambil ponsel ibunya, tangannya berkutak di layar ponsel dengan mata tanpa berkedip mencari nama seseorang di kontak. Jarinya berhenti sejenak saat ia mendapati nama yang ia cari, dengan segera ia menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan suara.


"Halo, Paman. Hikz, hikz," tangis Reix semakin menjadi jadi saat panggilannya terhubung.


"Ada apa, Reix? Kamu kenapa?" tanya Johan di seberang telepon.


"Segera ke rumah, Paman. I-ibu pingsan," ujar Reix sesegukan.


"Kamu tenang ya, paman akan segera kesitu." Johan mengambil kunci mobil dan perlengkapan lainnya, ia keluar dari ruangannya menelusuri lorong rumah sakit menuju basement.


Mobil sport warna hitam keluar dari area rumah sakit menuju perumahan elit. Johan, ia mengemudi mobilnya dengan kecepatan tinggi. Rasa cemas menghampirinya, ia takut adiknya kenapa-napa. Hampir 20 menit perjalanan, Johan pun sampai di perumahan elit tempat Nazia tinggal bersama suami dan anak-anaknya. Dengan terburu-buru, Johan turun dari mobil berjalan menghampiri rumah Nazia. Jari-jarinya menekan tombol atau sandi rumah Nazia.


Kreeekk...


Pintu terbuka lebar, Johan masuk dalam rumah berjalan menaiki anak tangga. Di dalam kamar sudah ada Melyana dan Adiswa.


Kreeekk...


Pintu kamar Nazia terbuka, dengan segera Johan menghampiri Nazia untuk memeriksanya.


"Paman, ibuku kenapa?" tanya Reix.


Johan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Reix. "Ibu kamu terlalu banyak pikiran,"


"Paman, maafin Reix. Reix tidak menjaga ibu! Hikz, hikz, hikz!" tangis Reix pecah dalam pelukan Johan.


"Aku kenapa?" tanya Nazia saat melihat infus terpasang di tangannya.


"Ibu... ibu sudah bangun!" Reix berhambur menghampiri ibunya.


"Ibu, jangan sakit! Hikz, hikz. Reix takut jika ibu sakit," ujar Reix sambil menghapus air matanya.


Semua keluarga yang ada dalam kamar meneteskan air mata, melihat Reix yang begitu menyayangi Nazia. Kasih sayang Nazia pada Reix seperti kasih sayang seorang ibu kandung pada anaknya.


Tidak semua orang bernasib baik, adakalanya anak-anak memiliki ibu sambung yang tidak perduli pada mereka. Namun nasib Reix begitu beruntung, ia menemukan ibu dan ayah angkat yang sangat menyayanginya.


"Maafkan ibu, lagi-lagi ibu membuatmu sedih," ujar Nazia dengan mata berkaca-kaca.


"Sayang, kamu istrahat sekarang ya. Nanti ibu yang jaga sikembar," ujar Melyana saat menghampiri Nazia.


"Jangan Oma, aku tidak ingin Oma membawa adikku." Reix memohon pada Melyana.


"Oma tidak akan membawa kedua adikmu," balas Melyana dengan senyum.


****


1 bulan kemudian...

__ADS_1


Malam hari...


Nazia dan ketiga anaknya bermain di dalam kamar, terdengar suara tawa menggelegar di dalam ruangan. Beby Nazira dan beby Sahka mulai belajar berjalan.


"Ta... ta... ta," celoteh beby Nazira memainkan tangannya dengan sesekali menarik tangan beby Sahka.


"Hak hak hak," tawa beby Sahka saat tangan beby Nazira memegang tangannya.


"Sahka, Nazira, sini sama Kak Reix!" panggil Reix sambil mengulurkan tangannya.


"Ta... ta," celoteh sikembar mencoba berdiri berjalan menghampiri Reix.


Nazia dan Reix duduk sambil mengulurkan tangan mereka, sikembar berdiri berjalan menghampiri Reix dan Nazia.


Bruk...


Beby Sahka terjatuh, "Ha... ha..." tawa Sahka saat mengangkat wajahnya.


"Sayang, hati-hati!" ujar Nazia menghampiri Sahka.


"Sekarang kalian makan ya, nanti ibu suapin kalian!" ucap Nazia tersenyum sambil menggendong Nazira sedangkan Sahka di gendong oleh Bi Neona.


"Non, biar bibi yang suapin mereka. Non Nazia jaga Tuan besar saja di kamar," ujar Bi Neona.


****


Sudah sebulan Erlando hanyut dalam mimpinya, terbaring lemas di atas tempat tidur dengan beberapa alat kesehatan yang terpasang di bagian tubuhnya.


Demi buah hatinya Nazia bertahan dan terus memohon untuk kesembuhan suaminya. Melihat anak-anaknya mulai belajar berjalan membuatnya bahagia, namun Nazia ingin kebahagiaan itu juga dirasakan oleh suaminya.


Tok... tok... tok...


Terdengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk!" sahut Nazia sambil menghapus air matanya.


"Ta... ta... ma... ma... pa... pa..." celoteh Sahka sambil berjalan menghampiri Nazia.


Bruukk...


Sahka terjatuh. Dengan segera Nazia menghampiri Sahka.


"He... he... he..." tawa Sahka saat mengangkat kepalanya menatap ibunya.


"He... he..." tawa Nazira saat beby Sahka menarik kakinya.


"Beby jangan!" ujar Reix saat melihat Sahka menarik kaki beby Nazira.


"He... he... he..." tawa beby Nazira saat Reix menghampirinya.


Sahka dan Nazira bermain dengan mainan mereka sedangkan Reix menghampiri ibunya yang kini berdiri menatap keluar jendela.


"Ibu!" panggil Reix.

__ADS_1


"Iya sayang," sahut Nazira menoleh menatap anaknya yang sedang memegang piring yang berisi makanan.


"Ibu makan dulu ya, nanti aku suapin ibu!" kata Reix sambil menyodorkan sendok yang berisi makanan.


Nazia menatap anaknya, satu tetes air mata berhasil keluar dari kelopak matanya. Dengan segera ia membuka mulutnya dan memakan makanan yang disodorkan anaknya.


"Ibu jangan menangis, nanti ayah akan memarahiku jika tahu ibu menangis," ujar Reix sambil menghapus air mata ibunya.


"Ibu tidak akan menangis lagi," kata Nazia dengan senyum. "Ibu tidak mau anak ibu dimarahi oleh siapapun, termasuk ayah!"


"Aaa," Reix membuka mulutnya sambil menyodorkan satu sendok makanan ke dalam mulut ibunya.


"Hahahaha," tawa Nazia saat melihat Reix meniru gayanya saat ia memberi makan sikembar.


"Hehehe. Aku sering lihat ibu seperti itu saat memberi kami makanan," tawa Reix saat mendengar tawa ibunya.


"Pa... pa..." celoteh Nazira saat tangannya memegang tangan kanan Erlando.


"Pa... pa..." celoteh Sahka sambil menatap Nazira.


"Sayang, jangan ganggu ayah. Ayah lagi tidur nanti ayah memarahi kalian," ujar Nazia menghampiri anaknya.


"Reix, jaga adikmu ya. Ibu mau bawa piring dulu!" ujar Nazia setelah mengangkat sikembar dan membawanya ke tempat tidur.


Nazia keluar dari kamar menuju dapur, perlahan kaki jenjangnya menuruni anak tangga.


Tok... tok... tok...


Terdengar ketukan pintu dari luar. Dengan penasaran Nazia berjalan ke arah pintu utama.


"Adrian, ada urusan apa kamu datang malam-malam?" tanya Nazia saat melihat Adrian berada di depan pintu.


"Ah ini," Adrian melihat bungkusan yang ia bawa. "Ini untuk anak-anakmu, hadiah dari Naix."


"Ayo masuk dulu," ajak Nazia.


"Tidak perlu, Nazia. Aku mau pulang saja, masih ada urusan yang harus aku selesaikan."


Adrian berlalu pergi setelah memberi hadiah pada Nazia. Sedangkan Nazia kembali ke kamar menghampiri anak-anaknya.


"Pa... pa..." celoteh Nazira sambil menggoyang tangan Erlando.


"Ibu!! cepat kesini, Buk!!" teriak Reix.


Kekuatan seorang ibu ada pada anaknya, sesakit apapun luka yang menghampiri namun akan hilang saat mendengar atau melihat tawa dan senyum anaknya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2