
Kembali lagi dengan saya 😁
Happy Reading 😊
*****
Kecelakaan yang dialami Erlando sangat parah. Kepalanya terbentur keras saat terlempar jauh, ia tak dapat menahan rasa sakit. Darah banyak yang mengalir membuatnya hilang kesadaran.
"Kak Erlan........!" teriak Nazia histeris.
"Tolong panggilkan ambulance !"
"Ka Erlan bangun kak. Hiks, hiks, Kak Erlan bangun Kak."
Tangis Nazia pecah, wanita yang sudah berjanji untuk tidak menjatuhkan air matanya lagi tapi gagal memegang janji pada dirinya sendiri.
Wiung.....Wiung.....Wiung........
Ambulance pun datang. Orang-orang mengangkat tubuh Erlando dan meletakannya dalam ambulance. Nazia masuk ke dalam ambulance, memegang tangan Erlando erat.
"Kaka harus kuat, apa kaka..." ucapan Nazia terhenti.
Aku harus menyembunyikan kehamilanku. Aku takut Kak Erlan tidak mau menerima anakku. Batin Nazia.
15menit kemudian, mereka pun sampai. Nazia berjalan tergesa-gesa dengan tangis yang tak terbendung lagi. Semua Dokter melihat Nazia dengan keheranan.
"Apa yang terjadi Dokter?" tanya Dokter Alfano.
"Tolong selamatkan suamiku. Hik, hiks. Aku mohon tolong selamatkan suamiku." pinta Nazia memohon.
Semua Dokter yang ada saling tatap. Dokter Alfano pergi untuk melakukan tugasnya. Ia bertugas untuk menangani Erlando.
"Di mana keluarga pasien?" tanya dokter Mega.
"Aa..ku" Jawab Nazia.
"Dokter, kita harus segera melakukan operasi, pasien banyak kehilangan darah, ada benturan di bagian kepala pasien dan kaki pasien patah."
"Lakukan apapun demi kesembuhannya." Pinta Nazia memohon.
Erlando di bawa ke ruang operasi, Dokter Alfano dan dokter Mega telah bersiap-siap.
"Aku percayakan suamiku pada kalian." ucap Nazia.
"Kamu tenang saja. Aku akan melakukan tugasku semaksimal mungkin. Aku akan berusaha untuk kesembuhan suamimu." ucap Dokter Alfano.
Dokter Alfano pun masuk dalam ruang operasi, lampu telah dihidupkan menandakan operasi telah berlangsung.
Nazia mondar mandir di depan ruang operasi.
"Dokter Nazia, istrahat dulu. Dokter harus memikirkan anak dalam kandungan Dokter." ucap Dokter Kaila.
"Aku takut Dokter Kaila, aku takut suamiku kenapa-napa. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib anakku nanti."
Dokter Kaila memeluk Nazia, "Aku yakin, suami Dokter Nazia akan baik-baik saja."
Lampu dimatikan, menunjukan operasi telah selesai.
__ADS_1
"Bagaimana operasinya Dokter?" tanya Nazia saat pintu ruang operasi terbuka.
"Operasinya berjalan lancar. Pasien akan segera di pindahkan ke ruang perawatan."
"Terima kasih Dokter."
"Sudah menjadi kewajibanku Dokter Nazia." ucap Dokter Alfano.
Erlando pun di pindahkan dalam ruang perawatan. Nazia memasuki ruangan dan duduk tepat di samping suaminya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa yang harus aku lakukan Kak. Aku membencimu dan ingin membalas dendam padamu. Jika kamu sakit begini bagaimana mungkin aku bisa membalas kejahatanmu." ucap Nazia dengan tangis.
"Aku pikir dengan melihatmu seperti ini bisa membuatku bahagia, ternyata aku salah. Aku lebih terluka melihatmu seperti ini dibandingkan melihatmu bersama kak Anata." Batin Nazia.
Beberapa jam kemudian, Erlando tersadar dari kritisnya. Ia menggerakan jarinya, mencoba membuka matanya pelan-pelan. Senyum terlukis di wajah tampannya, wanita yang ia rindukan ada di sampingnya.
"Na....ziah" pangil Erlando.
Nazia mendengar ada yang menyebut namanya, ia membuka matanya pelan-pelan. Seketika air matanya kembali menetes, bukan tangisan kekecewaan melainkan tangisan kebahagiaan.
"Aku baik-baik saja" ucap Erlando.
"Lukaku tak sesakit lukamu Nazia." ucap Erlando dengan tatapan sedih.
"Kaka harus banyak istrahat, aku panggilkan Dokter dulu."
Nazia menindis tombol yang ada di dalam ruangan. Beberapa menit kemudian, Dokter Alfano pun datang.
Dokter Alfano memeriksa Erlando kemudian menghampiri Nazia dan memberitahukan keadaan Erlando pada Nazia.
Erlando melirik Nazia dan Dokter Alfano, ada rasa kesal yang menghampiri dirinya. Namun dengan segera ia membuang rasa itu.
Dokter Alfano pun keluar, ia melirik Nazia sebentar kemudian meninggalkan Nazia dan Erlando berdua.
"Aku sudah menghubungi Ibu dan Ayah. Besok baru mereka datang." ujar Nazia.
"Apa kamu sudah menikah lagi?" tanya Erlando.
"Iya. Aku sudah menikah lagi." jawab Nazia.
Deg. Erlando tak tahu harus bagaimana lagi. Ia mencoba menahan rasa sakit yang kini menggores hatinya. Harapannya untuk kembali dengan Nazia pupuslah sudah.
"Selamat untuk pernikahanmu. Semoga kamu dan keluarga barumu bahagia dan calon anak kalian." ucap Erlando dengan memalingkan pandangannya ke arah lain.
"Terimakasih. Kaka juga harus bahagia." ucap Nazia.
Dengan senyum Erlando berkata "Apa suamimu baik padamu?"
"Iya, dia sangat baik padaku." jawabnya.
"Berapa usia kehamilanmu?" tanya Erlando.
Nazia tidak menjawab.
"Aku harus pergi. Suamiku sudah menungguku di rumah"
"Baiklah. Terimakasih sudah membawaku ke sini."
__ADS_1
Nazia keluar dari dalan ruang rawat Erlando.
"Maafkan aku kak, aku harus berbohong. Aku takut kaka tidak menerima anak ini, aku takut jika kaka tahu kaka akan menyuruhku untuk menggugurkan anak di dalam rahimku ini." Batin Nazia.
Di dalam ruangan Erlando berkelut dengan pikirannya.
"Sudah terlambat untuk aku memperbaiki hubunganku dengannya, Nazia sudah menikah lagi, dia akan menjadi Ibu. Dan aku, aku akan hidup dalam kesendirian. Penyesalan tak akan membuatku bahagia, aku sudah berusaha untuk mencarinya. Namun takdir mempertemukanku di waktu yang sudah tak mungkin bagiku. Jika aku boleh meminta, kembalikan dia padaku, aku siap menjadi Ayah untuk anak yang di kandungnya." ucap Erlando seketika tangisnya pecah.
******
Esok hari.....
Nazia datang bersama Melyana dan Adiswa untuk menjenguk Erlando. Saat mereka sampai, Erlando sudah tidak ada di ruangannya.
"Apa kalian melihat pasien yang berada di ruangan 103?" tanya Nazia pada perawat.
"Pasien atas nama Tn. Erlando Magesta sudah keluar pagi tadi. Keluarga pasien telah datang menjemputnya. " kata suster.
Nazia menahan sesak didadanya. Melyana menghampiri Nazia.
"Biarkan dia pergi, dia tidak pantas untukmu." ucap Melyana.
"Permisi Dokter Nazia. Pasien atas nama Tn, Erlando menitipkan sesuatu untuk Dokter." ucap perawat sambil memberikan selembar surat untuk Nazia.
Nazia meraih surat yang diberikan perawat tersebut.
"Terima kasih"
Nazia membukanya dan memulai membacanya.
Maaf untuk luka yang aku berikan sejak kita kecil hingga kamu menjadi istriku. Kamu pantas untuk bahagia, dan aku sudah melihatmu bahagia. Jaga keponakanku dengan baik, aku harap kalian baik-saja. Maaf aku pergi tanpa pamit terlebih dahulu. Aku tidak sanggup melihatmu datang bersama suamimu. Aku menyadari perasaanku, untuk mengatakan cinta aku rasa aku sudah terlambat. Tapi aku akan tetap mengatakannya. Aku mencintaimu.
Nazia memegang dadanya, terasa sesak. Belum sempat ia memberitahu Erlando yang sebenarnya namun Erlando malah pergi membawa separu jiwanya.
"Aku mencintaimu kak." ucapnya seketika air matanya menetes membasahi pipinya.
Melyana kembali memeluk Nazia.
"Kamu harus kuat. Biarkan dia memikirkan kesalahannya." ucap Melyana
Kring..Kring....
Nada dering Melyana. Melyana menatap layar ponselnya. Ada nama Adrian di sana.
[Halo, ada apa Adrian] Tanya Melyana.
[Erlando tante, tolong selamatkan Erlando." Ucap Adrian panik.
.
.
.
.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan Up 😊
Mohon Kritik dan Sarannya 😊😊