Jangan Di Baca. Ngak Nyambung

Jangan Di Baca. Ngak Nyambung
Apa Salahku. Episode 34


__ADS_3

****Halo Readers, apa kabar?


Jangan lupa like sebelum membaca yah. 😊


Yuk mampir di awal tanpa cinta 😊


Happy Reading 😊****


****


Jerman..


Erlando menangkap pemandangan yang ia tidak ingin lihat. Salah satu anak kembarnya digendong oleh pria tampan, dan istrinya tersenyum untuk pria lain. Dengan geram Erlando membuka pintu, semua orang menoleh ke arah pintu.


"Ibu.." panggil Reix.


Nazia dan yang lainnya tersenyum sedangkan Dokter Alfano mengeryitkan dahinya. Ia tidak tahu jika Reix adalah anak angkat Nazia. Alfano enggan untuk bertanya, menurutnya itu bukan hal yang harus ia ketahui.


Reix menghampiri ibunya.


"Bisahka Ibu meminta paman itu untuk memberikan adiku? Aku ingin menggendongnya." pinta Reix sambil menunjuk DokterAlfano.


"Paman tidak mau!" celetuk Dokter Alfano.


"Kamu bisa melihat adikmu yang di gendong oma." ujar Dokter Alfano, lagi.


"Apa paman tidak malu berkelahi dengan anak kecil.!" ujar Reix, kesal.


Alfano membulatkan matanya. Sedangkan yang lainnya tertawa menyaksikan tingkah Reix dan Dokter Alfano.


"Iya, paman mengalah." ucapnya lirih.


Nazia mengambil bayi laki-lakinya dari gendongan Alfano. Sedangkan Erlando mengambil anak perempuannya dari gendongan ibunya, Melyana.


Dengan senyum mengembang, Erlando menatap anaknya. Mencium hidungnya dan kembali duduk di samping istrinya.


Dokter Alfano menatap mereka dengan senyum.


"Aku bahagia bila melihatmu bahagia." Batin Dokter Alfano.


"Aku permisi yah Nazia, tante dan semuanya. Aku kembali bekerja dulu." pamit Dokter Alfano.


"Iya Dok." jawab mereka bersamaan.


****


London...


Neska, Ferdinan dan Kania bersiap-siap untuk ke Bandara. Mereka sudah tidak sabar melihat Nazia dan anak kembarnya. Supir Ferdinan mengangkat koper majikannya meletakan di bagasi mobil. Dengan langkah cepat Neska menghampiri tempat parkir mobil yang ada di rumah mereka.


"Kania.! Ferdinan.! Cepat sayang, nanti kita ketinggalan pesawat." panggil, Neska.


Ia sengaja memakai alasan ketinggalan pesawat karena ia tidak sabar untuk melihat cucunya di Jerman.


"Ayo Buk," ajak Kania.


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan meleset pergi ke Bandara. Dalam perjalanan Neska terus tertawa melihat tingkah Ferdinan yang seperti anak kecil. Ia selalu bermanja pada ibunya.


Kania sudah terbiasa melihat pemandangan yang seperti itu. Ia pun merasa beruntung memiliki calon mertua yang baik dan calon suami yang baik pula.

__ADS_1


Selang bebera puluh menit, kini mereka sampai di Bandara Udara Heathrow. Supir kembali turun untuk mengeluarkan koper dari bagasi yang dibantu oleh Ferdinan dan Kania.


Supir meleset pergi sedangkan Neska, Kania dan Ferdinan masuk ke dalam Bandara untuk melakukan cek in. Hampir 5menit mengantri kini bagian mereka, Ferdinan mengambil alih semuanya. Neska dan Kania menunggu Ferdinan di ruang tunggu.


"Mama ingin minum apa Mah?" tanya Ferdinan.


"Mama tidak mau pesan apa-apa." jawabnya.


"Kamu Kania?"


"Aku juga tidak mau Kak." jawab Kania.


Ferdinan berjalan seorang diri dan duduk di tempat duduk sambil memesan sesuatu yang dapat di makan.


Terdengar pemberitahuan untuk penumpang tujuan London agar segerah naik dalam pesawat. Ferdinan menghampiri ibunya dan Kania. Mereka bertiga pun naik dalam pesawat.


Hampir beberapa jam perjalanan, kini mereka sampai di Bandar UdaraΒ Frankfurt am Main. Mereka pun turun dan pergi ke rumah sakit. sedangkan koper mereka di ambil oleh anak buah Ferdinan.


30menit perjalanan, kini mereka sampai di rumah sakit. Semua Dokter dan Tenaga Medis lainnya memberi hormat kepada Neska, Ferdinan dan Kania sekalipun Neska bukan pemilik rumah sakit yang sebenarnya tapi bagi mereka Neska adalah pemilik rumah sakit yang sekarang diserahkan kepada pemilik yang seharusnya.


Neska dan 2 anaknya tersenyum dan menyapa Dokter serta petugas medis lainnya.


"Halo sayang, Ibu kangen sekali." ucap Neska saat pintu terbuka.


Neska menghampiri Nazia, memeluk dan mengelus kepalanya.


"Apa masih terasa sakit?" tanya Neska.


"Sudah tidak Buk." jawabnya.


Reix yang berada di dekat Nazia menatap Neska kemudian menatap Ferdinan dan Kania.


Pertanyaan itu mampu membuat Neska, Ferdinan dan Kania menatap Reix.


"Ini Oma," jelas Nazia, "Dan itu paman serta calon istrinya."


"Benarkah.!" ucapnya dengan mata berbinar.


"Ayah, aku punya Oma dan paman yang banyak." ujar Reix senang.


Panggilan Ayah membuat 3orang yang belum lama datang menoleh dan mencari siapa yang anak kecil itu maksud. Sedari tadi mereka datang namun mereka tidak menyadari keberadaan Erlando.


"Erlando?" ucap mereka bertiga bersamaan.


Erlando paham akan keterkejutan itu.


"Maafakan aku." ucapnya lirih.


Ferdinan menghampiri Erlando.


"Cantik sekali keponakan paman." ucapnya.


"Oh yah Erlando, mumpung kita semua ada di sinih. Ayah mau tanya sama kamu. Apa kamu masih mau mempertahankan pernikahanmu dengan Nazia atau mengakhirinya?" tanya Adiswa yang sedari tadi diam.


"Iya, mama juga mau tahu apa jawabanmu." timpal Melyana.


Tanpa ragu Erlando menjawab, "Aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Nazia. Tapi keputusan aku serahkan padanya, karena aku sadar. Aku yang menyakitinya selama ini." kata Erlando menatap Nazia.


Nazia diam dan tak menjawab.

__ADS_1


"Apa aku harus memberinya kesempatan?" Batin Nazia.


"Nazia, apa jawabanmu Nak? Ingat! apapun itu Ayah dan Ibu ada dipihak mu." ujar Adiswa.


"Aku akan memberi kesempatan pada Kak Erlan demi anak-anakku." jawab Nazia.


"yeeeeh. Akhirnya Ibu dan Ayah baikan." Reix bersorak bahagia.


Semua yang ada dalam ruangan pun ikut berbahagia.


"Ibu, siapa nama kedua adikku?" tanya Reix.


"Apa kamu punya nama untuk bayimu, Erlan?" tanya Neksa.


"Ada." jawabnya.


"Siapa ayah?" tanya Reix lagi.


"Yang laki-laki Sahka Magesta dan yang perempuan Nazira Magesta."


Mereka semua tersenyum mendengar nama yang Erlando berikan pada anaknya terkecuali Reix. Ia sedih setelah mendengar nama Adiknya. Nazia melirik suaminya dan kembali menatap Reix, Erlando paham akan lirikan itu.


"Sayang, apa kamu tidak suka dengan nama yang Ayah berikan?" tanya Erlando dengan lembut.


Mata Reix kembali berkaca-kaca. Seketika tangisnya pecah. Mereka pun saling menatap satu sama lain.


"A-yah, kenapa adikku ada nama belakang yang sama dengan nama Ayah sedangkan aku tidak." tanya Reix, sesegukan.


Erlando baru menyadari saat ia mendaftarkan Reix sekolah ia tidak menambahkan nama belakang untuk Reix.


"Apa kamu menangis karena itu?" tanya Nazia.


Reix mengangguk.


"Mulai sekarang, nama kamu Reix Magesta. Jadi kamu dan adik kembarmu memiliki nama belakang yang sama." timpal Adiswa.


Reix mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk. Ia kembali menghapus air mata yang berhasil membasahi pipinya.


"Benarkah Opa!" ucapnya.


"Benar sayang." sambung Nazia, menjawab.


Terdengar tawa dalam ruangan. Nazia sangat bahagia melihat keluarganya tertawa lepas tanpa beban. Sekali-kali Erlando melirik Nazia, membuat Nazia tidak nyaman.


Dari balik pintu ada seorang wanita yang menatap mereka dengan kesal dan penuh kebencian.


.


.


.


.


.


Bersambung....


**Terimakasih untuk kalian yang sudah setia mampir. 😊 Semangat untuk para author dan para pembaca setia karyaku. 😊

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, up, fav rate bagi yang belum dan Vote 😊😊**


__ADS_2