
Halo kaka, bertemu lagi dengan saya. Oh ya kak, disaranin like dulu baru baca yah. hehehehe 😆
HAPPY READING 😊
*****
Australia
Erlando tiba di bandara Sydney. Ia sudah memikirkan matang-matang apa yang harus ia lakukan nanti saat tiba di Australia.
Waktu sudah menunjukan pukul 19:00. Erlando mengirimkan pesan di groupnya, di dalam group ada Johan, Adrian dan Naix. Group yang dibuat saat mereka masih kuliah dulu.
"Halo bro, apa masih ada manusia di dalam group ini?" tanya Erlando dengan mengirimkan smile tertawa.
"Sudah musnah." balas Adrian.
"Ada, tapi kritis." timpal Johan.
"Aku tahu kamu sudah kembali ke Australia, tapi aku mohon jangan membuatku gila di sini." celetuk Naix kesal dengan mengirim emot marah.
"Hahahahaha, santai-santai. Jangan ada yang marah. Oh ya Adrian, Johan. Aku harap kalian segera ke tempat biasa. Aku tunggu kalian berdua." kata Erlando.
"Aku sudah bilang Lan, jangan membuatku kesal. Jangan bersenang-senang tanpa aku." balas Naix lagi.
Adrian, Johan Dan Erlandon mengirim balasan pesan dengan smile tertawa.
****
The World Bar
Kini Erlando, Adrian dan Johan berada di Bar. Musik terdengar dimana-mana, orang-orang bersorak bahagia. Begitupun dengan mereka bertiga terlebih lagi dengan Erlando.
"Satu gelas untuk kepulangan Erlando.!" sorak Johan sambil memegang segelas arak.
"Satu gelas lagi untuk kesembuhan manusia alien.!" ledek Adrian sambil tertawa.
Erlando tertawa lepas melihat tingkah Johan dan Adrian.
Mereka bertiga menghabiskan 2 botol arak. Sedikit, namun mampu membuat ketiga orang tersebut mabuk. Erlando, Adrian dan Johan pun memilih untuk pulang. Mereka mengendarai mobil masing-masing. Mobil mereka meleset pergi meninggalkan Bar.
Saat di perjalanan, Erlando menepikan mobilnya di pinggiran jalan, ia keluar dengan cepat.
Uwwakk.. Uwwak... Erlando memuntahkan isi makanan yang ada dalam perutnya.
"Astaga, kepalaku sakit sekali."
Erlando masuk ke dalam mobilnya dan memilih untuk tidur di dalam mobil. Erlando mendengar suara anak kecil sedang menangis, ia pun mencoba untuk membuka matanya sambil memegang kepalanya yang terasa sakit. Seketika rasa sakit di kepalanya hilang saat ia melihat anak laki-laki menangis di sampingnya.
"Hei, siapa namamu?" tanya Erlando.
"Paman siapa?"
"Hei! Harusnya kamu menjawab pertanyaanku terlebih dahulu." ucap Erlando meninggikan nada suaranya.
"Haaaaaaaa..... Paman jahat. Ibu... Ada paman jahat di sini."
Anak kecil itu semakin terisak.
__ADS_1
"Jangan menangis, aku bukan orang jahat." ucap Erlando menenangkan.
"Siapa namamu?"
"Reix"
"Di mana kamu tinggal?"
"Di Panti Asuhan."
"Apa kamu tahu alamatnya? Aku akan mengantarmu pulang."
"Aku tidak mau tinggal di sana. Hiks, hiks, hiks."
Erlando merasa kasihan padanya, ia pun mengajak Reix ke apartemennya. Dalam perjalanan Reix kembali tertidur. Erlando melirik tubuh mungil itu. Rasa iba hadir dalam dirinya. Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun sampai di apartemen. Erlando menggendong tubuh mungil Reix dan membawanya masuk ke dalam apartemen.
****
Erlando merasa ada sinar cahaya yang masuk menembus kaca jendela kamarnya. Ia pun mengerjap dan merentangkan kedua tangannya.
"Selamat pagi Paman.!" teriak Reix sambil berhambur memeluk Erlando yang kini duduk mematung di atas tempat tidur.
"Pagi." balasnya tanpa ekspresi.
"Astaga, jadi ini bukanlah mimpi." Batin Erlando.
"Paman, bolehkah aku memanggilmu dengan panggilan Ayah?" tanya Reix dengan mata berbinar.
kalimat ini sama persis dengan yang Nazia ucapkan saat kecil. ucapnya dalam hati.
"Boleh, kamu boleh memanggilku dengan sebutan Ayah."
****
Reix bangkit dari tempat tidurnya ia menghampiri Erlando yang kini sedang berdiri di balkon.
"Ayah." panggil Reix.
Erlando menoleh, ada butir air mata yang jatuh membasahi pipinya. Dengan segera Reix menghapus air mata Ayahnya.
"Apa Ayah rindu Ibu?" tanya Reix dengan polosnya.
"Iya." jawabnya jujur.
"Apa Ayah menyakiti Ibu hingga Ibu pergi meninggalkan Ayah?"
"Iya."
"Apa Ayah masih mencintai Ibu?" tanyanya lagi.
Seketika air mata Erlando pecah, ia menangis dipelukan anak kecil yang kini menjadi anaknya.
"Apa yang harus Ayah lakukan, hiks, hiks." ucapnya sambil memeluk tubuh Reix.
"Ayo kita ke tempat Ibu. Ibu pasti merindukan Ayah."
Erlando melepaskan pelukannya. "Ibu sudah bahagia, dan dia akan memberimu adik dari suami barunya."
__ADS_1
"Apa Ayah yakin itu anak dari Ayah baruku?"
Erlando menaik turunkan alisnya. Ia berfikir sejenak. Kemudian tersenyum.
"Kamu tahu dari mana hal konyol seperti itu?" tanyanya menyelidik.
Reix tersenyum kecut, "Aku nonton filem itu di hendphon Ayah."
"Astaga..... Reix, Ayah tidak pernah mengajarimu hal kotor seperti itu.! umurmu baru 7 tahun sayang.!" geram Erlando.
Dengan segera Reix berlari, Erlando mengejarnya. Mereka berdua pun bermain di malam hari. Kesedihan yang tadinya hadir kini menghilang diganti dengan canda dan tawa.
3 bulan telah berlalu..
Kini Reix sudah sekolah di salah satu sekolah ternama di Australia. Kepintarannya mampu membuat Erlando kagum.
Semenjak kehadiran Reix dalam hidup Erlando. Erlando banyak tersenyum, Reix selalu membuat hal lucu yang mampu membuat Erlando tertawa.
Ting... Terdengar bunyi notifikasi yang menandakan ada pesan masuk. Erlando meraih hendphonnya. Terlihat jelas nama Johan di sana. Erlando membuka pesan yang dikirimkan Johan. Ada sebuah video. Erlando memutar video yang dikirim Johan. Seketika senyum terukir di wajah tampan milik Erlando. Kebahagiaan yang pernah hilang kini hadir dalam sekejap.
'Terimakasih untuk bantuanmu. Aku berhutang padamu dan kamu berhutang penjelasan padaku' Isi pesan.
Pesan terkirim.
Erlando mengambil kunci mobilnya dan pergi menuju tempat Reix sekolah. Sepanjang perjalanan ia terus tersenyum. Kebahagiaan yang datang menghampirinya seperti kedatangan Reix yang tak terduga di waktu itu. Dan kini kebahagiaan baru menghampirinya tanpa terduga pula. Penantiannya selama ini tidak sia-sia. Tak butuh waktu lama, ia pun sampai. Reix sudah menunggunya sedari tadi.
"Ayah, kenapa Ayah lama sekali?" tanya Reix cemberut.
"Maafkan ayah, tapi Ayah punya urusan yang harus Ayah selesaikan."
"Tunggu aku sayang." Batin Erlando.
****
Jerman
Nazia duduk ditepi ranjang sambil mengelus perutnya. Tinggal beberapa hari, ia akan melahirkan anak kembarnya.
"Tuhan, selamatkan aku dan kedua anakku. Izinkan anakku melihat dan bertemu Ayah mereka."
Tok..Tok.Tok...
Seseorang mengetuk pintu kamar, membuat Nazia tersadar dari lamunannya.
"Masuk! aku tidak mengunci pintunya." kata Nazia.
"Sayang, minum dulu susunya Nak." ucap Melyana.
"Ibu, apa aku harus jujur kepada kak Erlan?" tanya Nazia dengan tatapan sedu.
"Semua keputusan ada di tanganmu Nak. Ibu mendukung semua keputusanmu." ucap Melyana.
"Aku takut kejujuranku malah menyakiti hatiku lagi" Batin Nazia.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan Up serta vot dan rate 5nya 😊